MEDIAAKSI.COM – Yogyakarta memiliki banyak cara untuk membuat wisatawan selalu ingin kembali. Namun, ada satu kebiasaan yang seolah sulit dipisahkan dari perjalanan ke kota ini: pulang membawa bakpia sebagai oleh-oleh. Di antara deretan merek yang tumbuh di kawasan Pathuk, Bakpia Pathok 25 atau yang dikenal dengan sebutan Bakpia Pathok Selawe menjadi salah satu nama yang melekat kuat dalam ingatan wisatawan.
Perjalanan Bakpia Pathok 25 menarik bukan semata karena usianya yang panjang. Lebih dari itu, kisahnya memperlihatkan bagaimana sebuah produk pangan tradisional dapat bertahan lintas generasi dengan mempertahankan identitas, menjaga kualitas, sekaligus terus menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
Bakpia sendiri memiliki akar dari tradisi kuliner Tionghoa. Ketika berkembang di Yogyakarta, resepnya mengalami penyesuaian, salah satunya dengan penggunaan kacang hijau sebagai isian yang kemudian sangat identik dengan bakpia Yogyakarta. Perkembangan bakpia di Kota Gudeg juga berkaitan dengan para perantau Tionghoa yang memperkenalkan makanan tersebut sekitar dekade 1940-an.
Memasuki dekade 1980-an, bakpia mulai mengalami perubahan penting. Produk yang sebelumnya banyak dibuat dan dijual sebagai makanan rumahan mulai menggunakan kemasan karton dan mencantumkan merek. Sejumlah produsen bahkan menggunakan nomor rumah sebagai identitas dagang. Ketika pariwisata Yogyakarta berkembang pada dekade 1990-an, bakpia semakin kuat posisinya sebagai oleh-oleh khas bagi wisatawan.
Di sinilah angka “25” memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut merujuk pada nomor rumah produsen di kawasan Pathuk. Penggunaan nomor rumah sebagai merek merupakan kebiasaan yang berkembang di kawasan tersebut, sehingga konsumen cukup mengingat jenis makanan, kawasan asal, dan nomor rumah produsennya.
Meski secara branding penggunaan angka berpotensi membuat konsumen tertukar dengan produsen lain yang juga menggunakan nomor rumah, Bakpia Pathok 25 mampu membangun kekuatan merek melalui konsistensi produk dan kedekatannya dengan identitas kawasan Pathuk.
Salah satu kunci keberlangsungannya adalah tidak meninggalkan produk utama yang sudah dikenal konsumen. Bakpia dengan isian kacang hijau tetap menjadi fondasi, sementara berbagai varian seperti cokelat, keju, kumbu hitam, ubi ungu, durian, susu dan rasa lainnya dikembangkan sebagai pilihan tambahan. Inovasi dilakukan untuk memperluas pasar, bukan menghilangkan karakter produk yang telah lebih dahulu diterima.
Strategi berikutnya adalah menjaga konsistensi. Dalam bisnis makanan, resep dapat ditiru, tetapi mempertahankan rasa, tekstur dan tingkat kematangan secara konsisten dalam produksi skala besar bukan perkara sederhana. Karena itu, pengendalian kualitas dilakukan sejak bahan baku diterima, termasuk menyeleksi kacang hijau, mengontrol tahapan produksi, menjaga keseragaman bentuk, hingga memisahkan produk yang gosong, retak, pecah atau tidak layak dijual.
Namun, kualitas produk saja tidak cukup. Bakpia Pathok 25 juga membangun kekuatan melalui distribusi. Produk ditempatkan di berbagai lokasi strategis, mulai dari kawasan wisata, pusat kota, jalur menuju bandara, jalur keluar-masuk wisatawan hingga kawasan perdagangan oleh-oleh. Strategi tersebut membuat merek hadir tepat ketika wisatawan memiliki niat membeli oleh-oleh.
Dengan kata lain, Bakpia Pathok 25 tidak sekadar menunggu konsumen datang ke pusat produksi. Produk justru didekatkan dengan konsumen melalui jaringan toko dan distribusi yang mengikuti lintasan perjalanan wisatawan.
Menariknya, ekspansi tersebut tidak membuat Bakpia Pathok 25 kehilangan identitas. Nama Pathuk dan angka 25 tetap dipertahankan, begitu pula cita rasa original. Pada saat yang sama, teknologi produksi, kemasan, variasi rasa, jaringan toko dan pemasaran digital terus berkembang. Prinsipnya sederhana: identitas dipertahankan, sementara cara menjangkau konsumen disesuaikan dengan zaman.
Strategi lainnya adalah mengembangkan toko menjadi pusat oleh-oleh. Dengan menghadirkan produk lain, toko tidak hanya menjadi tempat membeli bakpia, tetapi juga tujuan belanja bagi wisatawan. Model ini memungkinkan peningkatan nilai transaksi sekaligus memberi ruang bagi produk UMKM lainnya.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar Bakpia Pathok 25 mungkin bukan sekadar pada iklan atau jumlah gerai, melainkan pada kebiasaan konsumen yang terbentuk selama bertahun-tahun. Orang tua membeli bakpia untuk anak-anaknya, kemudian generasi berikutnya mengulangi kebiasaan tersebut ketika berkunjung ke Yogyakarta. Bakpia pun bergeser dari sekadar makanan menjadi bagian dari pengalaman dan ritual perjalanan ke kota tersebut.
Perjalanan Bakpia Pathok 25 menunjukkan bahwa bisnis tidak harus meninggalkan masa lalu untuk menghadapi masa depan. Produk tradisional dapat tetap relevan ketika nilai terbaik dari masa lalu dijaga, sementara cara memproduksi, mendistribusikan dan memasarkannya terus diperbarui.
Dari dapur rumahan, bakpia berkembang menjadi produk kemasan, merek, jaringan usaha, hingga bagian dari wajah Yogyakarta. Inilah pelajaran penting dari Bakpia Pathok 25: umur panjang sebuah bisnis bukan hanya soal siapa yang memulai lebih dulu, melainkan tentang kemampuan terus memberi alasan kepada konsumen untuk kembali membeli.






