MEDIAAKSI.COM – Perdagangan internasional sudah lama menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir konsep perdagangan bebas yang kita kenal mulai diuji. Mulai dari perang dagang AS-China, pandemi COVID-19, hingga konflik geopolitik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Laut China Selatan membuat rantai pasok global jadi rapuh. Kondisi ini memaksa setiap negara, termasuk Indonesia, untuk memikirkan kembali strategi perdagangannya.
Secara teori, perdagangan internasional terjadi karena adanya perbedaan keunggulan komparatif. Negara mengekspor barang yang bisa diproduksi dengan efisien dan mengimpor barang yang tidak bisa diproduksi sendiri. Tapi teori itu tidak selalu berjalan mulus di dunia nyata. Saat ini kita melihat munculnya tren “deglobalisasi” dan “friendshoring”, yaitu negara lebih memilih berdagang dengan negara yang memiliki nilai politik yang sama untuk mengurangi risiko.
Bagi Indonesia, tantangannya dobel. Di satu sisi kita harus tetap terbuka karena ekspor seperti CPO, nikel, batu bara, dan produk manufaktur adalah sumber devisa utama. Di sisi lain, kebijakan negara mitra yang sering berubah seperti subsidi energi hijau dari AS dan regulasi EUDR dari Uni Eropa bisa jadi hambatan non-tarif baru. Kalau kita tidak adaptif, produk Indonesia bisa kehilangan pasar.
Standar perdagangan internasional hari ini bukan hanya soal tarif rendah. Ada 3 hal yang semakin penting:
Pertama, terpenuhinya standar. Produk harus memenuhi standar lingkungan, ketenagakerjaan, dan ketertelusuran. Kedua, diversifikasi pasar. Terlalu tergantung pada satu negara itu berisiko. Makanya kerja sama RCEP dan I-EU CEPA jadi penting. Ketiga, hilirisasi. Kita tidak bisa terus menjual bahan mentah. Nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri agar kita tidak hanya menjadi penonton.
Kesimpulannya, perdagangan internasional 2026 bukan lagi tentang “seberapa bebas”, tapi “seberapa cerdas”. Negara yang mampu menyeimbangkan keterbukaan dengan ketahanan, dan efisiensi dengan kelaparan, akan menjadi pemenang. Indonesia harus mulai dari sekarang memperkuat diplomasi ekonomi dan kualitas produk agar tidak tertinggal di tengah perubahan tatanan global ini.
-
Suandi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang.






