Mendikdasmen Siapkan Inovasi Cegah Siswa Malas karena Penggunaan AI

Gambar Gravatar
Mendikdasmen
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti

MEDIAAKSI.COM–  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan kesiapannya untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan artifisial  (AI) ke dalam sistem pembelajaran tanpa mengabaikan metode tradisional. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pemanfaatan KA tidak justru membuat para siswa menjadi kurang termotivasi dalam belajar.

“Kami akan mengkombinasikan itu dengan model pembelajaran yang dalam tanda petik konvensional atau tradisional,” ujar Mendikdasmen Mu’ti dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (12/3/2026).Pernyataan ini disampaikan setelah dirinya menghadiri penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur pedoman penggunaan kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan. Kombinasi antara teknologi modern dan pendekatan klasik ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem belajar yang seimbang dan efektif.

Selain itu, Mendikdasmen juga menegaskan bahwa mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) yang kini diperkenalkan di sekolah dianggap aman dan sangat mendukung kegiatan belajar mengajar siswa, bahkan bagi mereka yang masih berusia di bawah 16 tahun. Ia menjamin bahwa kedua mata pelajaran ini bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan yang relevan di era digital, bukan untuk menggantikan peran guru atau metode belajar yang sudah teruji.

Bacaan Lainnya

Kombinasikan AI dengan Metode Tradisional

Dalam upaya menjaga semangat belajar siswa di tengah derasnya arus teknologi digital, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merumuskan strategi inovatif yang menggabungkan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dengan metode pembelajaran konvensional. Pendekatan ganda ini dirancang untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menimbulkan efek samping berupa kemalasan belajar pada peserta didik.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa salah satu elemen kunci dari strategi ini adalah revitalisasi kegiatan menulis tangan. Siswa akan didorong untuk menuangkan hasil pembelajaran mereka, seperti membuat ringkasan setelah menonton materi video edukatif atau membaca buku, menggunakan tulisan tangan. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali keterampilan motorik halus tangan sekaligus melatih kemampuan kognitif siswa dalam menyusun dan mengartikulasikan gagasan.

“Kegiatan menulis itu kami aktifkan lagi sekarang. Jadi misalnya murid bisa nonton pembelajaran dengan IFP yang ada, nonton film atau pembelajaran dalam bentuk video dan tayangan lain, tapi mereka nanti membuat resume itu dengan tulisan tangan. Kami juga dorong untuk penugasannya membaca buku, tidak mengerjakan soal,” jelas Mu’ti.

Ia menambahkan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mengembalikan keseimbangan dalam proses pendidikan. “Sekarang mulai kami kembalikan ke arah yang seperti itu, sehingga kami kombinasikan antara penggunaan teknologi pembelajaran yang modern dengan sistem pembelajaran dalam tanda petik ya tradisional,” tegas Mu’ti.

Lebih lanjut, Mu’ti memberikan jaminan bahwa pengenalan mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) di sekolah tidak akan mengganggu atau menggantikan metode pembelajaran yang sudah ada. Sebaliknya, kedua mata pelajaran ini diharapkan dapat memberikan keterampilan tambahan yang krusial bagi siswa di era digital. Pengenalan koding dan AI difokuskan pada pembekalan kemampuan praktis dalam menggunakan teknologi tersebut, serta bagaimana AI dapat menjadi alat pendukung dalam kegiatan belajar-mengajar.

“Penggunaan koding dan AI di sekolah itu adalah untuk pertama memberikan skill-nya, kemampuan bagaimana menggunakan koding dan AI. Yang kedua adalah kepentingannya untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Jadi bukan yang sangat terbuka,” ungkap Mu’ti, menekankan bahwa implementasi teknologi ini akan tetap terkontrol dan terarah.

Dengan demikian, Kemendikdasmen berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman, di mana teknologi canggih seperti KA dapat bersinergi dengan metode pembelajaran yang telah terbukti efektif, demi menghasilkan generasi yang tidak hanya melek teknologi tetapi juga memiliki fondasi akademis yang kuat dan keterampilan berpikir kritis yang terasah.

Pos terkait