MEDIAAKSI.COM – Riset Kaspersky dan Singapore Institute of Technology menemukan bahwa orang tua yang kurang peka terhadap keamanan siber justru lebih sering membagikan foto serta informasi pribadi anak melalui media sosial. Fenomena yang dikenal sebagai sharenting ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya frekuensi unggahan dengan rendahnya upaya perlindungan privasi digital keluarga di kawasan Asia Pasifik.
Studi bertajuk Small Shares, Big Risks ini menyoroti bagaimana frekuensi postingan konten anak meningkat seiring menurunnya niatan orang tua untuk menerapkan praktik keamanan daring. Para peneliti mengamati adanya pola konsisten yang menunjukkan bahwa semakin aktif orang tua berbagi informasi, maka motivasi untuk mengadopsi langkah-langkah perlindungan data justru semakin menurun.
Sebagian besar responden sebenarnya menyadari pentingnya menjaga privasi anak, namun mereka sering kali merasa proses pengaturan teknis terlalu menyita waktu. Berdasarkan data riset, sekitar 49 persen orang tua menganggap pembatasan visibilitas media sosial sebagai hal yang merepotkan meskipun langkah tersebut efektif mengurangi risiko privasi secara signifikan.
Kendala serupa juga ditemukan pada penggunaan fitur penandaan geografis atau metadata foto di mana 36 persen responden merasa pengaturannya terlalu rumit untuk dilakukan secara rutin. Hal ini memicu kekhawatiran karena paparan identitas anak yang luas di internet tidak diimbangi dengan sistem keamanan yang mumpuni dari sisi pengasuh atau orang tua.
Risiko Privasi dalam Sharenting
“Ini menunjukkan adanya kesenjangan perilaku, di mana paparan online anak yang lebih besar tidak diimbangi dengan upaya untuk melindungi data dan privasi mereka lebih kuat,” ujar Associate Professor Jiow Hee Jhee pada Rabu (3/6). Sementara itu, Trishia Octaviano dari Kaspersky menyebutkan bahwa kesulitan dalam menerapkan keamanan digital menciptakan gesekan terus-menerus bagi para orang tua pada Rabu (3/6).
Untuk meminimalisir ancaman siber, terdapat beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh keluarga dalam mengelola jejak digital. Berikut adalah tips keamanan yang direkomendasikan untuk melindungi privasi anak di ruang digital:
- Menghapus akun media sosial lama yang sudah tidak digunakan lagi untuk memperkecil celah peretasan.
- Mengatur profil akun menjadi privat agar unggahan tidak bisa diakses oleh publik secara bebas.
- Memeriksa pengaturan privasi secara berkala dan mematikan fitur geolokasi atau metadata pada setiap file foto yang diunggah.
- Menghapus postingan lama yang menunjukkan lokasi sensitif seperti alamat sekolah, rumah, atau tempat aktivitas rutin anak.
- Terus memantau aktivitas internet anak secara aktif guna mencegah penyalahgunaan data oleh pihak luar.







