MEDIAAKSI.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pengajuan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) senilai Rp181 triliun kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak dialokasikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan ini disampaikan untuk mengklarifikasi potensi kesalahpahaman mengenai prioritas penggunaan dana tambahan tersebut. Program MBG sendiri telah menunjukkan capaian yang signifikan. Data terakhir dari Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen menunjukkan bahwa sebanyak 49.614.433 siswa, atau sekitar 93 persen dari total siswa di seluruh Indonesia, telah menerima manfaat dari program ini. Dari sisi institusi, 288.845 sekolah atau 66,5 persen dari total satuan pendidikan di Indonesia juga telah terjangkau oleh program tersebut. “Pengajuan ABT Kememdikdasmen ini bukan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami sudah paparan di DPR soal ABT ini dan saat ini sedang dalam posisi menunggu keputusan,” kata Mu’ti dalam keterangan resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta, Rabu. Dalam pengajuan ABT, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki dua program prioritas utama. Program pertama adalah revitalisasi 20 ribu satuan pendidikan yang saat ini dilaporkan berada dalam kondisi rusak dan memerlukan perhatian serius. Revitalisasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan kondusif bagi para siswa. Program kedua yang mendapatkan alokasi dari ABT adalah digitalisasi pendidikan. Melalui program ini, setiap satuan pendidikan akan menerima tambahan alokasi perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau Panel Interaktif Digital (PID). Rencananya, pada tahun 2026, Kemendikdasmen menargetkan distribusi IFP ke lebih dari 325 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui teknologi. Selain dua program utama tersebut, ada program lain yang telah mendapatkan persetujuan dari DPR, yaitu program beasiswa bagi guru. Beasiswa ini ditujukan bagi para guru yang belum meraih jenjang pendidikan Diploma 4 (D4) atau Strata 1 (S1), dengan besaran bantuan sebesar Rp3 juta per semester. Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada guru honorer melalui usulan ABT, di mana insentif mereka direncanakan akan mengalami kenaikan dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu. Program MBG sendiri telah terbukti memberikan dampak positif yang cukup besar, tidak hanya dalam pemenuhan gizi siswa tetapi juga dalam pengembangan karakter dan motivasi belajar. Sebuah penelitian kolaboratif antara Kemendikdasmen dengan Lab Sosio Universitas Indonesia menemukan bahwa MBG secara efektif membantu siswa, terutama dari kelompok sosial-ekonomi rendah, mendapatkan asupan gizi yang memadai. Selain itu, pengalaman menikmati makanan sehat dan makan bersama dalam program ini dilaporkan memberikan kesan positif dan meningkatkan semangat belajar siswa. “Jadi, MBG memiliki kaitan yang sangat langsung dengan program Kemendikdasmen,” ucap Mu’ti. Temuan penelitian ini turut memperkuat argumen bahwa program MBG sangat penting dan diharapkan dapat berkelanjutan serta terus ditingkatkan kualitasnya. Namun, alokasi dana tambahan yang diajukan melalui ABT difokuskan pada upaya perbaikan infrastruktur fisik sekolah dan peningkatan akses teknologi pendidikan, sesuai dengan kebutuhan mendesak yang telah teridentifikasi.Prioritas Anggaran Tambahan Pendidikan
Anggaran Tambahan Pendidikan Fokus Revitalisasi Sekolah, Bukan untuk MBG







