UKM LKP2M Bahas Feminisme melalui Perspektif Akademik

MEDIAAKSI.COM –  Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Kajian dan Penelitian Mahasiswa (UKM LKP2M) mengangkat isu feminisme dan relasi gender dalam kegiatan Kajian Rutin yang diselenggarakan sebagai ruang dialektika akademik bagi mahasiswa.

Diskusi yang menghadirkan Ahmad Royhan Firdaus, Ardiansyah Bagus Ramadhan, dan Maulidya Nurin Najwa sebagai pemantik ini mengajak peserta untuk melihat berbagai fenomena gender secara objektif melalui pendekatan penelitian, bukan sekadar berdasarkan opini yang berkembang di masyarakat maupun media sosial.

Berbagai isu kontemporer menjadi bahan pembahasan, di antaranya fenomena pink tax, gerakan girl support girl, patriarki, hingga komersialisasi perempuan dalam ruang digital. Para peserta mendiskusikan bagaimana fenomena-fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan perspektif ilmu sosial sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Diskusi juga menekankan bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian dari proses akademik yang harus disikapi secara terbuka dan argumentatif.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Royhan Firdaus selaku Wakil Direktur UKM LKP2M Periode 2026 dan Kepala Biro Penelitian UKM LKP2M Periode 2025 mengingatkan bahwa seorang peneliti tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan terhadap suatu fenomena sosial. Menurutnya, setiap isu perlu dikaji berdasarkan data dan konteks yang melatarbelakanginya.

“Ketika melihat suatu isu yang sedang ramai dibahas di media sosial, jangan langsung menerima narasi yang berkembang sebagai sebuah kebenaran. Tugas peneliti adalah mencari data, melihat fakta di lapangan, kemudian menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Opini publik bisa berubah dengan sangat cepat, tetapi penelitian harus tetap berpijak pada bukti empiris,” terang Ahmad.

Maulidya Nurin Najwa yang merupakan Pengurus Biro Kajian UKM LKP2M turut mengangkat fenomena girl support girl yang berkembang di media sosial. Menurutnya, gerakan tersebut memiliki nilai positif dalam mendorong solidaritas antarsesama perempuan, tetapi juga perlu dikaji secara kritis ketika berkembang menjadi narasi yang menimbulkan polarisasi.

“Fenomena seperti ‘girl support girl’ memang memiliki sisi positif, tetapi saya juga melihat bahwa dalam beberapa kasus narasi tersebut berkembang menjadi kebencian terhadap laki-laki. Hal seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap relasi gender, sehingga menurut saya menarik untuk dikaji lebih lanjut,” ujar Maulidya.

Sementara itu, Ardiansyah Bagus Ramadhan selaku Kepala Biro Kajian UKM LKP2M menegaskan pentingnya menjaga objektivitas dalam membahas isu-isu sosial. Ia mengingatkan bahwa setiap pendapat yang disampaikan dalam kajian ilmiah harus didukung oleh data dan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kalau pendapat kita itu terkadang masih asumsi. Perlu verifikasi melalui banyak sumber yang harus ditautkan supaya benar-benar bersifat ilmiah,” kata Ardiansyah.

Melalui diskusi ini, UKM LKP2M ingin membangun budaya akademik yang mendorong mahasiswa mengkaji berbagai fenomena sosial secara kritis, objektif, dan berbasis penelitian. Isu feminisme dan relasi gender dipandang bukan sebagai ruang untuk mempertentangkan pandangan, melainkan sebagai objek kajian ilmiah yang dapat memperkaya wawasan serta melahirkan penelitian yang relevan dengan dinamika masyarakat kontemporer.

  • Ahmad Royhan Firdaus

Pos terkait