Aksi Kamisan ke-928 Digelar di Depan Istana Merdeka, Massa Soroti Isu Militerisme dan Kasus Pelanggaran HAM

MEDIAAKSI.COM –   Aksi Kamisan kembali digelar di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Aksi yang rutin berlangsung setiap Kamis ini menjadi wadah masyarakat menyuarakan tuntutan penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Para peserta hadir dengan mengenakan pakaian serba hitam. Mereka membawa payung hitam dan poster berisi tuntutan serta pesan kepada pemerintah.

Pada aksi kali ini, isu militerisme turut menjadi sorotan. Seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti menyoroti persoalan tersebut dalam kaitannya dengan HAM dan kehidupan demokrasi. Pembahasan militerisme dipandang sebagai bagian dari upaya mengawal perlindungan HAM serta menjaga prinsip supremasi sipil dalam negara demokrasi.

Lintang, mahasiswa dari kampus Universitas Indonesia yang hadir dalam aksi tersebut, mengaku kecewa. Menurutnya, aksi yang telah berlangsung hampir seribu kali itu belum pernah mendapat respons dari pemerintah, baik dari pemerintah sendiri maupun dari Kementerian HAM

“Sangat kecewa, tetapi harus tetap optimistis karena kita tidak akan pernah tahu kapan ini akan diselesaikan oleh pemerintah. Kita tetap harus semangat untuk berjuang terus,” ujar Lintang.

Kekecewaan serupa disampaikan Bejo Untung, aktivis Aksi Kamisan yang juga korban langsung Tragedi 1965. Ia mengaku ditahan rezim Orde Baru selama sembilan tahun tanpa proses hukum.

“Aksi Kamisan ini sudah berlangsung sebanyak 928 kali, dan nyaris negara tidak pernah hadir ataupun mendengarkan. Bahkan, para korban menyebut negara tuli dan buta terhadap tuntutan korban,” kata Bejo.

Bejo menilai negara, yang kini diwakili Presiden Prabowo Subianto, belum mempertanggungjawabkan kejahatan masa lalu. Ia menyebut sedikitnya tiga juta jiwa menjadi korban Peristiwa 1965, selain kasus Semanggi, Trisakti, Munir, dan penculikan aktivis mahasiswa. Ia pun mengaku sulit menaruh harapan kepada presiden yang menurutnya memiliki latar belakang diduga terlibat penculikan aktivis mahasiswa.

Bejo berpesan kepada generasi muda agar terus belajar sejarah dan tidak mudah percaya pada narasi Orde Baru tentang Peristiwa 1965. Ia berharap generasi muda kelak menjadi agen perubahan yang menegakkan HAM, kebenaran, dan demokrasi.

Para peserta berharap kasus-kasus yang selama ini diperjuangkan tidak dilupakan dan dapat diselesaikan melalui langkah konkret dari pihak berwenang.

  • Muhammad Ramadhan, Universitas Bina Sarana Informatika

Pos terkait