Nikah Dulu atau Kejar Mimpi? Mahasiswa Magister Psikologi UAD Gagas Program Edukasi Cegah Pernikahan Dini Lewat Instagram Live

MEDIAAKSI.COM— Angka pernikahan dini di Indonesia masih menjadi persoalan yang belum tuntas. Meski batas usia minimal perkawinan telah direvisi dan berbagai program edukasi digencarkan pemerintah, praktik menikahkan anak di bawah 18 tahun masih banyak ditemukan, terutama di wilayah pedesaan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah.

Menjawab persoalan ini, tiga mahasiswa Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) — Diyah Thurfanissa, Hanan Akilah dan Nada Permata Ulya — merancang program intervensi psikoedukasi bertajuk “Nikah Dulu atau Kejar Mimpi?” sebagai bagian dari tugas lapangan mata kuliah Psikologi Sosial Terapan. Program ini menyasar remaja SMA berusia 15–18 tahun yang aktif menggunakan media sosial, dengan memanfaatkan Instagram Live sebagai kanal penyampaian materi.

Ketika Pendidikan Kalah oleh Tekanan Keluarga dan Budaya

Riset yang dijadikan rujukan tim menunjukkan bahwa faktor penyebab pernikahan dini tidak berdiri sendiri. Rendahnya tingkat pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, norma budaya, hingga tekanan sosial dari lingkungan sekitar sama-sama berkontribusi mendorong remaja perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Di sejumlah daerah, remaja perempuan yang beranjak dewasa kerap dianggap “sudah siap” menikah, sementara kesiapan psikologis dan emosional mereka jarang dipertimbangkan.

Padahal, dari sudut pandang psikologi perkembangan, masa remaja adalah periode krusial pembentukan identitas diri — sebuah tugas perkembangan yang menurut teori Erik Erikson harus dituntaskan sebelum seseorang memasuki peran-peran dewasa, termasuk pernikahan. Ketidaksiapan ini pada akhirnya berisiko memicu konflik rumah tangga, masalah kesehatan reproduksi, hingga terhambatnya pendidikan dan karier remaja.

Menggabungkan Cerita Nyata dengan Teori Psikologi

Yang membedakan program ini adalah pendekatannya yang memadukan dua kerangka teori sekaligus: Theory of Planned Behavior dari Ajzen dan Social Learning Theory dari Bandura. Idenya sederhana namun kuat — perubahan perilaku remaja terhadap pernikahan dini tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi, tetapi juga perlu memperlihatkan konsekuensi nyata melalui pengalaman orang lain.

Karena itu, sesi Instagram Live berdurasi satu jam ini menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang kontras. Yang pertama adalah seorang penyintas pernikahan dini yang menikah pada usia 14 tahun, berbagi kisah nyata tentang tantangan hidup berumah tangga di usia yang belum matang. Narasumber kedua adalah mahasiswa berprestasi yang menceritakan pentingnya pendidikan dan perencanaan masa depan sebagai bekal sebelum membangun keluarga.

“Kombinasi kedua sudut pandang ini diharapkan memberi peserta gambaran konkret, bukan sekadar teori di atas kertas,” demikian inti dari rancangan program tersebut.

Dari Pre-Test hingga Diskusi Interaktif

Sebelum siaran dimulai, peserta terlebih dulu mengisi pre-test melalui Google Form untuk mengukur pengetahuan awal mereka soal pernikahan dini. Rangkaian acara kemudian berjalan sistematis: pembukaan oleh moderator, sesi berbagi kisah dari kedua narasumber, sesi tanya jawab interaktif lewat kolom komentar, hingga ditutup dengan post-test guna mengukur peningkatan pemahaman peserta.

Program ini tidak hanya menyasar remaja sebagai target utama, tetapi juga menjadikan orang tua, mahasiswa, dan masyarakat umum sebagai sasaran sekunder — kelompok yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Menghormati Perbedaan, Bukan Menghakimi

Aspek etika dan sensitivitas budaya menjadi perhatian serius dalam perancangan program ini. Tim penyusun menegaskan bahwa materi disampaikan secara objektif dan tidak menghakimi keluarga maupun individu yang pernah mengalami pernikahan dini. Bahasa yang digunakan dirancang sederhana dan netral agar dapat diterima remaja dari berbagai latar belakang budaya, sementara partisipasi peserta bersifat sukarela dengan jaminan kerahasiaan data.

Harapan untuk Masa Depan Remaja Indonesia

Melalui program ini, tim penyusun berharap remaja tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang risiko pernikahan dini, tetapi juga tumbuh kepercayaan diri untuk menunda pernikahan hingga mereka benar-benar siap — baik secara pendidikan, ekonomi, maupun psikologis. Sebagaimana pesan penutup yang mereka gaungkan:

“Kenali dirimu, rencanakan masa depanmu, kejar mimpi — pilihan terbaik ada di tanganmu.”

Program “Nikah Dulu atau Kejar Mimpi?” menjadi contoh bagaimana media sosial, yang selama ini identik dengan hiburan, dapat diubah fungsinya menjadi ruang edukasi yang menjangkau generasi muda secara langsung dan relevan dengan keseharian mereka.

  • Diyah Thurfanissa, Hanan Akilah dan Nada Permata Ulya

Pos terkait