21 Hari di Desa Soba: Menemukan Keluarga Baru di Tanah Timor-Leste

MEDIAAKSI.COM— Berangkat ke negara lain untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi pengalaman yang tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan dan budaya baru, tetapi juga menghadirkan cerita yang tidak mudah dilupakan.

Selama 21 hari, sejak 10 hingga 28 Agustus 2026, mahasiswa KKN Internasional menjalani berbagai kegiatan di Desa Soba, Kecamatan Laga, Distrik Baucau, Timor-Leste. Dengan waktu efektif pelaksanaan selama 17 hari, perjalanan tersebut diisi dengan kegiatan pengabdian, pengenalan budaya, pendidikan, observasi wilayah, hingga interaksi bersama masyarakat.

Perjalanan dimulai pada 10 Agustus 2026 dengan peresmian KKN Internasional dan penyambutan mahasiswa di Universidade Dili. Mahasiswa kemudian mengunjungi Pusat Budaya Indonesia (PBI) Dili untuk mendapatkan sambutan serta pengenalan mengenai peran PBI dalam mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste.

Bacaan Lainnya

Keesokan harinya, mahasiswa diterima secara resmi di Kantor Kecamatan Laga. Setelah mendapatkan pengarahan mengenai program kerja, mahasiswa melakukan observasi wilayah untuk mengenal kondisi lingkungan dan karakteristik masyarakat sebelum menjalankan kegiatan di lokasi KKN.

Mengenal Soba dari Dekat

Memasuki Desa Soba, mahasiswa mulai membangun komunikasi dengan masyarakat. Salah satu kegiatan awal dilakukan melalui kunjungan dan observasi wilayah Suku Soba di rumah Kepala Suku. Pertemuan tersebut menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal kondisi, potensi, serta kebutuhan masyarakat setempat.

Mahasiswa kemudian melakukan survei sekolah di wilayah Soba dan mengunjungi rumah adat suku. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh data untuk mendukung program KKN, tetapi juga mendapatkan kesempatan mengenal nilai budaya serta kehidupan masyarakat setempat.

Namun, pengalaman yang paling berkesan tidak hanya datang dari kegiatan yang telah direncanakan. Warga Desa Soba menjadi bagian penting dalam perjalanan KKN tersebut. Sejak mahasiswa mulai berada di desa, masyarakat memberikan sambutan yang baik dan membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru.

Masyarakat tidak sekadar menjadi penerima kehadiran mahasiswa, tetapi ikut menemani dan mendampingi selama berbagai kegiatan berlangsung. Keramahan dan keterbukaan warga membuat mahasiswa lebih mudah membangun komunikasi dan merasa diterima meskipun berada jauh dari Indonesia.

Kedekatan tersebut semakin terasa melalui berbagai kegiatan bersama pemuda. Pada 14 Agustus, mahasiswa mengikuti perlombaan futsal dan basket bersama pemuda setempat serta mahasiswa ICS. Kegiatan olahraga tersebut menjadi sarana untuk mempererat interaksi dan membangun kebersamaan dengan masyarakat Desa Soba.

Sehari kemudian, mahasiswa melakukan kunjungan dan pengumpulan data batas wilayah bersama RT Heu-Uai. Interaksi dengan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses mengenal wilayah sekaligus mendukung penyusunan peta potensi wilayah.

Tidak hanya melalui kegiatan formal, kedekatan dengan masyarakat juga tumbuh melalui aktivitas sederhana. Pada 16 Agustus, mahasiswa menghabiskan waktu bersama pemuda setempat melalui aktivitas memancing di wilayah Pantai Soba. Dari kegiatan tersebut, komunikasi dan hubungan sosial antara mahasiswa dengan pemuda semakin erat.

Dari Ruang Kelas hingga Potensi Desa

Rangkaian KKN kemudian berkembang ke berbagai kegiatan pendidikan dan pengenalan potensi wilayah. Mahasiswa berkolaborasi dalam kegiatan edukatif berbasis STEAM bersama mahasiswa Universiti Malaysia Pahang dan Universidade Dili di SD Abafala. Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste sekaligus memberikan pengalaman belajar bagi siswa.

Di SD Soba Laga, mahasiswa juga melaksanakan sosialisasi dan praktik mengenai cara menyikat gigi yang baik dan benar. Kegiatan tersebut memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi.

Mahasiswa juga turut mendokumentasikan tari tradisional bersama siswa SMP Soba Laga di kawasan Pantai Soba sebagai bagian dari penyusunan profil Desa Soba. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi budaya lokal melalui keterlibatan siswa dan masyarakat.

Di bidang pemetaan dan perencanaan wilayah, mahasiswa mengumpulkan data PNDS di Balai Desa Soba. Selanjutnya, mahasiswa menyusun rancangan PNDS dengan mendapatkan masukan dan pendampingan dari masyarakat setempat, termasuk dalam menyesuaikan istilah serta informasi menggunakan bahasa Tetun. Rancangan tersebut kemudian difinalisasi pada 24 Agustus.

Selain itu, mahasiswa mengamati sejumlah potensi wilayah, termasuk Danau Garam dan Bendungan Laivai. Kegiatan tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi dan potensi wilayah Kecamatan Laga yang dapat menjadi bagian dari pengenalan serta pengembangan potensi daerah.

Ketika Waktu Singkat Menjadi Kenangan Panjang

Semakin mendekati akhir kegiatan, mahasiswa mulai mempersiapkan perpisahan bersama masyarakat. Pada 25 Agustus dilakukan persiapan Farewell Party, mulai dari koordinasi, penataan kebutuhan acara, hingga pembagian tugas. Pada 26 Agustus, kegiatan perpisahan dilaksanakan bersama pemerintah dan masyarakat setempat sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih atas dukungan serta kerja sama selama KKN Internasional.

Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dari perjalanan. Selama berada di Desa Soba, mahasiswa telah melewati berbagai kegiatan bersama masyarakat. Dari pertemuan pertama dengan masyarakat hingga kegiatan sehari-hari, warga telah menjadi bagian dari proses adaptasi mahasiswa di lingkungan yang baru.

Bagi mahasiswa, warga Desa Soba bukan hanya masyarakat yang ditemui selama menjalankan program KKN. Mereka adalah orang-orang yang menemani, membantu, dan mendampingi mahasiswa selama berada di desa. Keramahan serta penerimaan masyarakat membuat perjalanan di Timor-Leste terasa lebih hangat dan meninggalkan kesan yang mendalam.

Pada 27 Agustus, mahasiswa melakukan persiapan akhir sebelum meninggalkan lokasi KKN. Barang dan perlengkapan ditata untuk kepulangan ke Indonesia yang dilaksanakan pada 28 Agustus 2026.

Kepulangan tersebut menandai berakhirnya perjalanan KKN Internasional di Desa Soba. Namun, berakhirnya kegiatan bukan berarti berakhir pula cerita yang telah terbentuk.

Selama 21 hari, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik melalui berbagai program kerja. Mereka juga belajar mengenai kehidupan masyarakat, budaya Timor-Leste, kerja sama lintas negara, serta arti penting membangun hubungan dengan masyarakat.

Desa Soba mungkin hanya menjadi tempat mahasiswa tinggal dan mengabdi selama beberapa minggu, tetapi warga yang telah menemani dan mendampingi dengan penuh kebaikan menjadikan desa tersebut lebih dari sekadar lokasi KKN.

Dari perjalanan itu, mahasiswa kembali ke Indonesia dengan membawa banyak cerita. Tentang program yang telah dijalankan, budaya yang telah dikenali, tempat-tempat yang telah dikunjungi, dan terutama tentang orang-orang di Desa Soba yang membuat 21 hari terasa begitu berarti.

Waktu mungkin singkat, tetapi pengalaman yang tercipta bersama masyarakat akan menjadi bagian dari kenangan yang terus dibawa pulang.

  • Tim KKN Internasional Timor Leste, Universitas Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah.

Pos terkait