HYSNAIL: Mahasiswa UM Ubah Hama Keong Mas dan Eceng Gondok Jadi Pakan Ikan Inovatif

MEDIAAKSI.COM — Sektor perikanan budidaya menjadi salah satu andalan ketahanan pangan nasional, dan Provinsi Jawa Timur dikenal sebagai salah satu sentra budidaya ikan dengan komoditas unggulan seperti lele, nila, patin, dan gurami.

Namun di balik potensi besar tersebut, para pembudidaya ikan menghadapi tantangan klasik yang terus membebani usaha mereka: mahalnya biaya pakan. Biaya pakan diketahui dapat mencapai 60–70% dari total biaya produksi, bahkan hingga 80% pada budidaya intensif, sebagian besar disebabkan ketergantungan pada tepung ikan yang harganya terus meningkat.

Di sisi lain, Indonesia justru kerap direpotkan oleh dua spesies invasif yang selama ini dianggap sebagai musuh petani dan pengelola perairan. Keong mas (Pomacea canaliculata) dikenal sebagai hama utama tanaman padi yang menyebabkan kerusakan tanaman dan menurunkan hasil panen. Sementara itu, eceng gondok (Eichhornia crassipes) tumbuh sangat cepat hingga menutup sungai, waduk, dan saluran irigasi, sehingga menurunkan kualitas perairan dan mengganggu aktivitas perikanan. Selama ini, penanganan terhadap keduanya hanya berhenti pada upaya pengendalian populasi, bukan pemanfaatan.

Bacaan Lainnya

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keong mas memiliki kandungan protein tinggi yang berpotensi menggantikan sebagian tepung ikan dalam pakan, dan penggunaan tepung keong mas terbukti mampu mendukung pertumbuhan sejumlah ikan budidaya serta lobster air tawar. Di sisi lain, eceng gondok yang difermentasi juga diketahui memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan.

Dari titik temu berbagai temuan itulah lahir HYSNAIL, sebuah inovasi pakan ikan berbentuk pelet yang mengombinasikan tepung keong mas dan eceng gondok fermentasi sebagai bahan baku utama. Gagasan ini dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan judul “HYSNAIL: Inovasi Pakan Ikan Berbasis Keong Mas dan Eceng Gondok sebagai Solusi Pengendalian Spesies Invasif dan Efisiensi Budidaya”.

Berbeda dari penelitian-penelitian terdahulu yang umumnya hanya menggunakan salah satu bahan dan masih berfokus pada pengujian laboratorium, HYSNAIL mengombinasikan dua biomassa spesies invasif sekaligus dalam satu formulasi yang diarahkan langsung menjadi produk pakan komersial siap pasar.

Keong mas berperan sebagai sumber protein pengganti sebagian tepung ikan, sementara eceng gondok fermentasi menyumbang nilai gizi tambahan sebagai bahan baku lokal. Kombinasi ini menghasilkan pakan yang diklaim berkualitas dan ramah lingkungan, karena secara bersamaan membantu menekan populasi dua spesies invasif yang selama ini menjadi masalah pertanian dan perairan.

“HYSNAIL tidak hanya bertujuan menekan biaya pakan bagi pembudidaya ikan, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap keong mas dan eceng gondok, dari yang selama ini dianggap hama dan gulma, menjadi bahan baku yang bernilai ekonomi,” ujar Camilla Izzati Hendarto, Ketua Tim sekaligus mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Matematika UM.

Produk ini dipasarkan dalam kemasan standing pouch ziplock yang praktis, kedap udara, dan bisa digunakan kembali agar kualitas pakan tetap terjaga selama penyimpanan, dengan target utama pembudidaya lele skala kecil hingga menengah di Kota Malang.

Konsep ekonomi sirkular menjadi napas utama produk ini. Inovasi ini sejalan dengan tema besar PKM AMLI 2026, yakni Kemandirian Pangan, Energi, dan Air; Pelestarian Lingkungan dan Mitigasi Bencana; serta Pemerataan Ekonomi dan Penguatan UMKM. Melalui pendekatan ini, tim berharap dapat menciptakan manfaat yang menyasar tiga pihak sekaligus: pembudidaya ikan yang memperoleh pakan yang lebih efisien, petani yang terbantu dari pengendalian hama keong mas, serta lingkungan perairan yang lebih terjaga dari serbuan eceng gondok.

Inovasi ini digagas oleh tiga mahasiswa lintas program studi UM, yaitu Camilla Izzati Hendarto (Pendidikan Matematika) sebagai Ketua Tim, Chiquita Aurellia Putri Evina (Bioteknologi), dan Afifah Alfina (Pendidikan Matematika), di bawah bimbingan dosen pendamping Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si., dari Departemen Matematika FMIPA UM.

Ke depan, tim HYSNAIL merencanakan tahapan keberlanjutan usaha secara bertahap, mulai dari penguatan legalitas dan perluasan mitra dalam waktu dekat, pembangunan rumah produksi serta peningkatan skala produksi pada periode berikutnya, hingga kerja sama dengan investor dan ekspansi pasar ke skala nasional dalam jangka panjang.

Melalui strategi pemasaran langsung, seperti sosialisasi ke kelompok pembudidaya ikan dan kerja sama dengan toko pakan, serta pemasaran daring melalui media sosial dan marketplace, HYSNAIL diharapkan mampu menjangkau lebih banyak pembudidaya ikan sekaligus membuktikan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan dapat sejalan dengan peluang usaha yang berkelanjutan.

  • Camilla Izzati Hendarto, Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang

Pos terkait