MEDIAAKSI.COM – Swedia, Denmark, dan Singapura berhasil mengimplementasikan teknologi Waste-to-Energy (WtE) untuk mengubah tumpukan sampah menjadi sumber energi listrik serta pemanas guna menekan emisi karbon secara global. Langkah strategis ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah yang efektif dapat memberikan keuntungan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup di wilayah perkotaan maupun nasional.
Swedia menjadi pemimpin dunia dalam sektor ini dengan mendaur ulang hampir 99 persen limbahnya dan hanya menyisakan kurang dari satu persen untuk tempat pembuangan akhir. Negara ini bahkan mengimpor sampah dari Inggris, Norwegia, Irlandia, dan Italia untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi pemanas distrik bagi jutaan rumah penduduk melalui pembangkit listrik tenaga sampah.
Sementara itu, Denmark memiliki fasilitas ikonik CopenHill di Kopenhagen yang berfungsi ganda sebagai pembangkit listrik dan area rekreasi ski di bagian atap bangunannya yang ramah lingkungan. Pemerintah Denmark juga mulai menjajaki kerja sama dengan Indonesia untuk mempercepat transisi ekonomi rendah karbon melalui pengembangan sektor pekerjaan hijau yang mencakup manajemen limbah dan energi bersih.
Indonesia melihat potensi besar dalam adopsi teknologi ini untuk menciptakan lapangan kerja baru di bidang lingkungan dan perdagangan karbon yang kini sedang berkembang pesat. Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyatakan, “Indonesia memiliki peluang besar menciptakan pekerjaan hijau dari berbagai aktivitas pengelolaan lingkungan yang terus berkembang, mulai dari pengelolaan sampah hingga sektor perdagangan karbon,” pada Sabtu (6/6/2026).
Strategi Sirkular Ekonomi Negara Maju
Singapura juga menunjukkan keseriusan dengan menggabungkan pengolahan air limbah dan sampah padat untuk menghasilkan listrik ramah lingkungan di tengah keterbatasan lahan yang mereka miliki. Negara singa ini menargetkan pencapaian emisi nol bersih pada pertengahan abad ini serta berupaya mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan hingga 30 persen pada tahun 2030.
Penerapan model ekonomi sirkular di Singapura melibatkan kerja sama antara otoritas pemerintah, sektor industri, akademisi, hingga warga negara untuk memastikan keberlanjutan lingkungan. Upaya ketiga negara tersebut memberikan referensi bagi negara lain dalam mengatasi krisis lahan pembuangan sampah sekaligus memenuhi kebutuhan energi secara mandiri dan bersih.







