MEDIAAKSI.COM – Minyak jelantah selama ini kerap dianggap limbah dapur yang tidak berguna, bahkan tak jarang dibuang begitu saja ke saluran air. Padahal, jika diolah dengan benar, minyak bekas pakai ini bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomi, mulai dari sabun hingga lilin aromaterapi.
Hal itu dibuktikan oleh sekelompok mahasiswa yang mengikuti KKN Rekognisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Putri Rahmah Zulhijah dan Rahma Safira Bilqis, yang menggelar program edukasi pengelolaan minyak jelantah bagi jemaah Smart With Islam Community di Kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Kota Palembang.
Program yang berlangsung selama dua bulan, Mei hingga Juni 2026, ini diikuti oleh 20 jemaah aktif yang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Survei awal yang dilakukan tim menemukan fakta bahwa lebih dari 90% jemaah tidak pernah tahu bahwa minyak jelantah punya nilai jual dan hampir semuanya masih membuang jelantah sembarangan ke saluran air atau memakainya berulang kali tanpa memikirkan risiko kesehatan.
Padahal, minyak goreng yang dipakai berulang bisa memicu berbagai penyakit serius seperti gangguan jantung, diabetes tipe 2, hingga kanker, akibat perubahan senyawa kimia yang terjadi selama proses penggorengan berulang.
Yang membuat program ini berbeda dari sosialisasi lingkungan pada umumnya adalah caranya menyampaikan pesan. Alih-alih hanya menjelaskan sisi teknis kimia, tim mahasiswa menyisipkan dalil Al-Qur’an dan hadis tentang larangan israf atau pemborosan, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
Sosialisasi utama pun sengaja digelar menyatu dengan pengajian mingguan komunitas pada 24 Mei 2026, sehingga peserta menerima materi baru dalam suasana yang sudah akrab bagi mereka. Sesi ini dilengkapi kuis berhadiah untuk menguji sejauh mana pemahaman jemaah tentang bahaya dan manfaat minyak jelantah.
Ustadzah Neli, selaku pembina Smart With Islam Community, menyambut positif program ini. “Pendekatan yang dilakukan sangat menyentuh hati jamaah, karena mengaitkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Kami berharap kerja sama ini menjadi pintu awal bagi jamaah untuk lebih kreatif dalam mengelola limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi sekaligus bermanfaat bagi lingkungan,” ujarnya.
Hasilnya, seluruh peserta mengaku justru pendekatan berbasis nilai agama inilah yang paling mendorong mereka untuk mau mengubah kebiasaan membuang jelantah di rumah masing-masing. Salah satu anggota jemaah turut membagikan pengalamannya, “Sangat senang sekali bisa belajar praktik langsung. Ternyata membuat produk bermanfaat dari limbah tidak sesulit yang dibayangkan. Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah sabar membimbing kami, ilmunya sangat bermanfaat untuk menambah penghasilan keluarga di rumah.”
Hasilnya, seluruh peserta mengaku justru pendekatan berbasis nilai agama inilah yang paling mendorong mereka untuk mau mengubah kebiasaan membuang jelantah di rumah masing-masing.
Praktik Langsung: Sabun dan Lilin dari Minyak Jelantah
Setelah dibekali teori, 20 peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk praktik langsung. Sepuluh orang belajar membuat sabun, sementara sepuluh lainnya belajar membuat lilin aromaterapi, keduanya berbahan dasar minyak jelantah.
Pada sesi pembuatan sabun yang digelar 7 Juni 2026, jelantah lebih dulu disaring menggunakan arang aktif untuk menghilangkan bau dan warna gelap, sebelum dicampur larutan NaOH melalui proses saponifikasi hingga dicetak menjadi batangan sabun. Seluruh 10 peserta berhasil membuat sabun yang terbukti efektif membersihkan noda minyak saat diuji coba sederhana.
Sementara itu, kelompok lilin aromaterapi belajar membuat lilin dari minyak jelantah, mencampurnya dengan stearin, lalu menambahkan minyak esensial lavender dan peppermint sebelum dituang ke cetakan pada 20 Juni 2026. Semua 10 peserta di kelompok ini juga berhasil menghasilkan lilin yang layak jual.
Menariknya, produk lilin aromaterapi dan sabun berbahan jelantah ternyata punya nilai ekonomi yang lumayan, berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000 per unit, menjadikannya peluang tambahan penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga di komunitas tersebut.
Seluruh Kegiatan yang dilakukan ini merupakan bagian dari program KKN Rekognisi mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, di bawah bimbingan dosen pendamping lapangan Dr. Elfira Rosa Pane, M.Si.
Tim berharap keterampilan yang sudah didapat para peserta bisa terus dikembangkan menjadi usaha rumahan yang berkelanjutan, dan model edukasi berbasis nilai Islam semacam ini bisa direplikasi ke komunitas pengajian lain di Kota Palembang.
-
Rahma Safira Bilqis, Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.







