MEDIAAKSI.COM – “Kenapa aku harus selalu bangun lebih pagi setelah masuk sekolah dasar, Bunda? Padahal setiap harinya aku sudah lelah belajar seharian.” Pertanyaan polos seorang anak itu sesungguhnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa kantuk. Sistem full day school kebijakan yang memaksakan jam belajar hingga 8 jam per hari perlu ditinjau kembali secara kritis. Penerapannya tidak sejalan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak usia 6-2 tahun secara psikologis, fisik, maupun sosial.
Otak anak-anak usia Sekolah Dasar tidak hanya membutuhkan stimulasi akademik, tetapi juga waktu bermain, bersosialisasi, beristirahat, dan berinteraksi dengan keluarga. Ketika sistem pendidikan memangkas kebutuhan-kebutuhan mendasar ini demi menambah jam belajar, yang terjadi bukanlah peningkatan kualitas, melainkan penumpukan beban yang perlahan menggerus kesehatan dan kebahagiaan anak.
Apa Itu Full Day School?
Full day school adalah sistem pendidikan di mana kegiatan belajar mengajar berlangsung selama satu hari penuh, umumnya dimulai pukul 07.00 hingga 15.00 atau bahkan 16.00 WIB. Di Indonesia, kebijakan ini dipopulerkan melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017, yang mewajibkan peserta didik berada di sekolah selama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu.
Tujuan utamanya adalah memperkuat pendidikan karakter, mengurangi pengaruh negatif lingkungan luar sekolah, serta memberikan pengawasan bagi anak selama orang tua bekerja. Namun dibalik tujuan yang mulia tersebut, penerapan sistem ini khususnya pada jenjang SD menimbulkan berbagai pertanyaan serius mengenai kesesuaiannya dengan kebutuhan tumbuh kembang anak usia 6-13 tahun.
Kebutuhan Biologis yang Terpangkas
Anak usia 6-13 tahun membutuhkan 9-11 jam tidur per malam dan minimal 60 menit aktivitas fisik aktif setiap hari demi mendukung perkembangan optimal. Jika mereka harus belajar di sekolah selama 8 jam atau lebih, ditambah waktu persiapan dan perjalanan belum lagi bimbingan belajar di luar sekolah kapan lagi mereka mendapat waktu bermain, tidur siang, dan berkumpul bersama keluarga?
Sistem full day school secara signifikan memangkas waktu bermain dan istirahat anak, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari sekolah. Ini bukan sekadar soal kenyamanan. Ini adalah ancaman nyata terhadap perkembangan kognitif anak itu sendiri.
Kapasitas Mental Anak Belum Setara Dewasa
Anak usia SD belum memiliki kapasitas konsentrasi dan ketahanan mental yang setara dengan remaja atau orang dewasa. Sistem full day school kerap memunculkan rasa jenuh pada siswa, serta menuntut kesiapan fisik, psikologis, dan intelektual yang matang, kesiapan yang justru tidak selalu dimiliki anak-anak SD.
Memaksakan jadwal panjang yang tidak sesuai tahap perkembangan justru kontraproduktif: alih-alih membentuk karakter yang kuat, sistem ini berisiko mengikis motivasi intrinsik belajar dan menumbuhkan asosiasi negatif terhadap sekolah sejak dini.
Bukti dari Lapangan
Penelitian perbandingan terhadap siswa kelas IV SD di Kecamatan Kebumen menemukan bahwa tingkat kelelahan fisik siswa yang mengikuti full day school lebih tinggi dibandingkan siswa di sekolah reguler. Kelelahan ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi keseimbangan emosional siswa. Dalam kasus tertentu, pembelajaran yang terlalu lama bahkan menimbulkan penolakan untuk bersekolah, indikator konkret bahwa beban yang ditanggung anak telah melebihi kapasitas optimalnya.
Durasi Panjang Bukan Jaminan Kualitas
Prinsip efektivitas pembelajaran menegaskan bahwa durasi bukan penentu utama kualitas. Tidak semua siswa mampu beradaptasi dengan jadwal belajar yang panjang: sebagian mengalami kelelahan fisik maupun mental, penurunan motivasi, kejenuhan, dan stres yang mengganggu proses belajar. Dengan kata lain, kuantitas waktu belajar yang lebih panjang tidak serta-merta berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran yang lebih baik. Siswa hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara mental.
Evaluasi, Bukan Penghapusan
Kebijakan full day school pada jenjang SD tidak perlu dihapus, tetapi sudah mendesak untuk dievaluasi secara jujur dan berbasis bukti. Ketika data dari lapangan, rekomendasi pakar kesehatan anak, hingga prinsip psikologi perkembangan semuanya menunjukkan arah yang sama, ahwa anak-anak kita kelelahan, maka mempertahankan kebijakan ini tanpa revisi bukan lagi sebuah pilihan yang bisa dibenarkan.
Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang paling lama, melainkan yang paling bermakna. Jika kita terus mengukur kualitas belajar dari panjangnya jam di bangku sekolah, kita sedang membesarkan generasi yang hadir secara fisik, tetapi absen secara jiwa.
-
Kalidad Pangeran Carlos Pardede, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Diponegoro







