Mahasiswi UM Ajarkan Ecoprint, Siswa Antusias Berkreasi dengan Daun dan Bunga

Gambar Gravatar
Workshop Ecoprint
Workshop Ecoprint

MEDIAAKSI.COM – Program Asistensi Mengajar (AM) merupakan salah satu program yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Negeri Malang (UM) untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam dunia pendidikan. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar mengajar secara nyata di sekolah sekaligus melatih kemampuan komunikasi, kerja sama, dan keterampilan mengajar sebagai calon guru. Pada semester 6 tahun akademik 2025/2026, Meysaroh Nur Faizah atau yang biasa dipanggil Meme menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti program tersebut.

Program Asistensi Mengajar  dilaksanakan selama kurang lebih empat bulan, dimulai dari bulan Januari sampai Mei 2026. Dalam pelaksanaannya, Meme menjalani program bersama tujuh mahasiswa lain. Lima mahasiswa berasal dari Program Studi Pendidikan Tata Busana dan dua mahasiswa lainnya berasal dari Program Studi Pendidikan Tata Boga.

Selama mengikuti program AM, Meme banyak mendapatkan pengalaman baru, terutama menghadapi siswa secara langsung di kelas. Tak hanya membantu guru mengajar, Meme juga ikut terlibat dalam berbagai kegiatan praktik di jurusan tata busana. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Meme adalah ketika diberi kesempatan untuk mengajar workshop ecoprint teknik steaming pada mata pelajaran eksperimen kain tanggal 8 April 2026 lalu.

Workshop tersebut diikuti  35 siswi kelas XI Busana 2. Dalam kegiatan ini, Meme didampingi  dua guru tata busana yaitu Arum Yusia, M.Pd dan Suli Kulsum, S.Pd. Kehadiran kedua guru tersebut sangat membantu selama proses pembelajaran berlangsung karena mereka ikut membimbing dan mendampingi siswa saat praktik.

Pada workshop ini, siswa belajar membuat ecoprint menggunakan teknik steaming. Ecoprint sendiri merupakan teknik membuat motif alami pada kain dengan memanfaatkan daun dan bunga. Teknik steaming dilakukan dengan cara mengukus kain yang sudah diberi susunan daun agar warna dan bentuk daun dapat tercetak pada kain. Teknik ini cukup menarik karena hasil motif yang dihasilkan selalu berbeda dan memiliki ciri khas masing-masing.

Sebelum praktik dimulai, Meme menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian ecoprint, alat dan bahan yang digunakan, serta tahapan pembuatannya.  Tahapan pertama dalam proses pembuatan ecoprint adalah scoring kain menggunakan deterjen. Tahap ini dilakukan untuk membersihkan kain dari kotoran atau zat kimia yang masih menempel agar warna dari daun bisa terserap dengan baik. Setelah proses scoring selesai, kain kemudian masuk ke tahap mordant menggunakan campuran tawas dan soda ash. Proses mordant bertujuan agar warna alami dari daun dan bunga dapat menempel lebih maksimal pada kain.

Setelah itu, kain direndam menggunakan larutan tunjung atau bubuk tunjung. Larutan tunjung digunakan untuk membantu memperkuat warna alami yang nantinya muncul pada kain. Tahap ini cukup penting karena sangat memengaruhi hasil akhir ecoprint.

Selanjutnya siswa mulai menyusun daun dan bunga di atas kain sesuai kreativitas masing-masing. Daun dan bunga yang digunakan dalam workshop ini cukup beragam, seperti daun lanang, daun jati, daun jarak kepyar, daun eucalyptus, daun yodium, daun jambu biji, dan bunga telang. Setiap jenis daun menghasilkan warna dan motif yang berbeda sehingga hasil ecoprint menjadi lebih unik dan menarik.

Setelah daun selesai disusun, kain kemudian digulung menggunakan plastik dan pipa agar susunan daun tidak bergeser. Kain yang sudah digulung lalu dikukus selama beberapa jam dalam proses steaming. Setelah proses pengukusan selesai, kain dibuka dan terlihat berbagai motif alami dari daun dan bunga yang tercetak dengan indah pada kain.

Selama workshop berlangsung, suasana kelas terlihat sangat seru dan menyenangkan. Para siswa terlihat antusias mencoba berbagai jenis daun untuk melihat hasil warna yang muncul pada kain. Banyak siswa yang merasa penasaran dan tertarik karena setiap kain menghasilkan motif yang berbeda-beda. Meme juga terus mendampingi siswa selama praktik berlangsung dan membantu jika ada kesulitan dalam proses pengerjaan.

Hasil ecoprint yang dibuat siswa sangat beragam dan menarik. Ada motif dengan warna hijau tua, cokelat, kuning, hingga warna ungu kebiruan dari bunga telang. Setiap hasil karya memiliki keunikan tersendiri sehingga tidak ada kain yang benar-benar sama. Hal ini membuat siswa semakin semangat dan bangga dengan hasil karya mereka sendiri.

Melalui workshop ini, siswa tak hanya belajar keterampilan menghias kain, tetapi juga belajar memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar lingkungan. Pembelajaran ecoprint menjadi salah satu bentuk pembelajaran kreatif dan ramah lingkungan karena menggunakan daun dan bunga sebagai bahan utama. Selain itu, hasil ecoprint juga memiliki nilai seni dan nilai jual yang cukup tinggi sehingga bisa dikembangkan menjadi produk fashion maupun kerajinan.

Bagi Meme, pengalaman mengajar workshop ecoprint teknik steaming ini menjadi pengalaman yang sangat berharga . Dari kegiatan ini, Meme belajar bagaimana cara menyampaikan materi kepada siswa, mengatur jalannya pembelajaran praktik, dan menghadapi berbagai karakter siswa di kelas.

Program Asistensi Mengajar memberikan banyak pengalaman positif bagi mahasiswa karena dapat mengenal dunia pendidikan secara langsung. Selain meningkatkan kemampuan mengajar, program ini juga melatih rasa tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan sekolah.

Penulis : Meysaroh Nur Faizah, Jurusan Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang

Pos terkait