MEDIAAKSI.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami kekurangan tenaga medis sebanyak 55 ribu dokter spesialis untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di seluruh tanah air. Upaya pemenuhan kebutuhan dokter tersebut kini dilakukan pemerintah melalui percepatan program pendidikan berbasis rumah sakit atau hospital-based serta penugasan khusus ke berbagai daerah.
Kebutuhan akan dokter spesialis menjadi prioritas pemerintah seiring dengan pembangunan fasilitas kesehatan di 66 kabupaten dan kota. Sejauh ini, sebanyak 21 rumah sakit umum daerah (RSUD) telah rampung dibangun dan beroperasi, sementara sisanya masih dalam tahap penyelesaian di berbagai wilayah Indonesia.
Selain kendala infrastruktur, distribusi tenaga medis yang tidak merata menjadi tantangan utama yang dihadapi Kementerian Kesehatan. Saat ini, angka pemenuhan dokter spesialis di seluruh fasilitas kesehatan baru mencapai 51 persen dari target ideal yang ditetapkan untuk menunjang layanan medis modern.
Mengenai urgensi kondisi tersebut, Budi Gunadi Sadikin memberikan pernyataan terkait data kebutuhan tenaga ahli di lapangan. “Dokter spesialis kekurangannya 55.000,” ujar Budi saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Strategi Pemenuhan Dokter Spesialis
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Kesehatan menerapkan dua pendekatan utama. Langkah pertama adalah melalui jalur pendidikan dengan sistem hospital-based yang difokuskan bagi dokter yang berasal dari daerah kekurangan tenaga medis. Langkah kedua adalah pengiriman dokter spesialis dari kota besar ke daerah terpencil sebagai solusi sementara.
Hingga saat ini, program pendidikan berbasis rumah sakit tersebut telah berjalan di enam lokasi dengan total 221 peserta didik. Pemerintah menargetkan ketersediaan 55 program studi di 52 rumah sakit pada akhir tahun 2026 guna mempercepat proses produksi tenaga medis ahli.
Menanggapi kebijakan penugasan sementara, Budi menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil agar masyarakat tetap mendapatkan akses kesehatan tanpa harus menunggu durasi pendidikan spesialis yang memakan waktu empat tahun. “Ini memang tambal cepat, cuma kalau nggak kita lakukan, ya masa kita mesti nunggu 4 tahun? Tapi saya akui bahwa ini sifatnya hanya temporary aja,” tegas Budi.
Selain mempercepat jalur pendidikan, pemerintah juga telah menyalurkan sebanyak 4.592 beasiswa pendidikan bagi tenaga medis sejak awal pembentukan kabinet saat ini. Fokus utama dari pemberian beasiswa tersebut adalah daerah afirmasi guna memastikan distribusi dokter spesialis di masa depan menjadi jauh lebih merata ke seluruh pelosok Indonesia.






