Setelah Darahmu Didonorkan, Ke Mana Perginya?

MEDIAAKSI.COM –  Kamu baru saja selesai donor darah. Jarum dilepas, kapas ditempelkan, lalu kamu beristirahat sebelum akhirnya pulang. Bagi pendonor, prosesnya mungkin terasa selesai dalam beberapa saat. Namun, bagi darah yang baru saja diambil, perjalanan sebenarnya baru dimulai. Darah tersebut tidak langsung diberikan kepada pasien, melainkan melewati serangkaian proses sebelum akhirnya sampai kepada orang yang membutuhkan.

Pertanyaan ini menjadi menarik setelah kegiatan donor darah dan cek kesehatan gratis yang digelar KSR PMI Universitas Airlangga pada 10 September 2026 di Aula Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C. Dilansir dari UNAIR News dalam berita berjudul “KSR PMI UNAIR Gelar Kegiatan Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis”, kegiatan tersebut bekerja sama dengan UDD Bangkalan dan dihadiri sekitar 120 peserta. KSR PMI UNAIR menargetkan pengumpulan sekitar 100 kantong darah. Setelah darah terkumpul, lalu ke mana darah itu pergi?

Dari Tempat Donor Menuju UDD

Darah yang telah diambil dari pendonor selanjutnya dikelola oleh Unit Donor Darah atau UDD. Dalam kegiatan donor darah UNAIR tersebut, UDD Bangkalan menjadi pihak yang berkolaborasi dalam pelayanan donor. Namun, UDD bukan sekadar tempat untuk menyimpan darah. Setelah darah terkumpul, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum darah dapat digunakan untuk transfusi.

Darah donor perlu melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk skrining terhadap penyakit yang dapat menular melalui transfusi. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memastikan darah yang akan masuk ke sistem pelayanan transfusi memenuhi persyaratan keamanan. Setelah memenuhi persyaratan, darah dapat diproses lebih lanjut menjadi beberapa komponen, seperti sel darah merah, plasma, dan trombosit.

Pemisahan komponen membuat darah dapat digunakan sesuai kebutuhan pasien. Tidak semua pasien membutuhkan seluruh komponen darah sekaligus. Seseorang yang mengalami kehilangan darah dapat membutuhkan sel darah merah, sementara kondisi medis tertentu dapat memerlukan trombosit atau plasma. Jadi, kantong darah yang kamu lihat setelah donor sebenarnya masih akan mengalami proses sebelum sampai kepada penerimanya.

Jadi, Darahnya Disimpan di Mana?

Setelah melalui pemeriksaan dan pengolahan, komponen darah tidak langsung diberikan kepada pasien. Darah disimpan dalam fasilitas penyimpanan darah dengan kondisi yang disesuaikan dengan jenis komponennya. Pada tahap ini, darah menunggu hingga terdapat permintaan dari fasilitas kesehatan.

Waktu antara donor dan transfusi juga tidak selalu sama. Darah yang didonorkan hari ini belum tentu digunakan pada hari yang sama karena penggunaannya bergantung pada kebutuhan pasien dan ketersediaan stok. Karena itu, persediaan darah perlu dikelola secara teratur agar tetap tersedia ketika dibutuhkan.

Hal tersebut terlihat dari pengelolaan stok darah di Surabaya. Menurut berita Pemerintah Kota Surabaya berjudul “425 Warga Surabaya Raih Penghargaan Setelah Donor Darah 50 Kali, Kecamatan Gubeng Terbanyak” yang terbit pada 17 September 2026, PMI Kota Surabaya rata-rata melayani sekitar 12.000 pendonor setiap bulan. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan darah rumah sakit di Surabaya. PMI juga menyebutkan bahwa mereka tidak sekadar mengejar jumlah pendonor sebanyak-banyaknya karena stok yang jauh melebihi kebutuhan berpotensi tidak terpakai.

Dari UDD ke Rumah Sakit, Lalu ke Pasien

Ketika rumah sakit membutuhkan darah, permintaan diproses berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan stok. Komponen darah yang sesuai kemudian didistribusikan menuju fasilitas kesehatan. Namun, sampai di rumah sakit pun darah belum otomatis masuk ke tubuh pasien.

Sebelum transfusi dilakukan, darah donor harus melalui pemeriksaan uji serasi silang atau crossmatch. Dilansir dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan dalam artikel “Pemeriksaan Pra Transfusi”, uji silang serasi dilakukan untuk mengevaluasi kompatibilitas darah pasien dengan darah donor. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan darah yang akan diberikan sesuai dan mengurangi risiko reaksi akibat ketidakcocokan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan darah kompatibel, komponen tersebut dapat diberikan kepada pasien sesuai kebutuhan medis. Proses ini membuat darah yang awalnya hanya berupa satu kantong hasil donor akhirnya dapat memiliki tujuan yang jauh lebih spesifik, yaitu memenuhi kebutuhan transfusi seseorang di fasilitas kesehatan.

Darah yang Tidak Langsung Menemukan Pemiliknya

Bagi pendonor, setelah meninggalkan tempat donor mungkin tidak ada lagi yang terlihat. Kantong darah yang tadi terisi sudah tidak berada di hadapan mata. Namun, darah tersebut masih berada dalam rangkaian pelayanan yang panjang, mulai dari pemeriksaan hingga menunggu kebutuhan transfusi.

Mungkin kamu tidak pernah tahu siapa yang nantinya menerima darahmu. Nama, wajah, dan alasan mereka membutuhkan transfusi bisa jadi sama sekali tidak kamu ketahui. Saat kamu kembali menjalani aktivitas seperti biasa, darah yang kamu donorkan bisa saja sedang menjalani pemeriksaan, berada dalam penyimpanan, atau menunggu untuk dikirim ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan.

Data dalam artikel ini bersumber dari UNAIR News, Pemerintah Kota Surabaya, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dokumentasi dalam artikel ini merupakan dokumentasi pribadi.*

Pos terkait