RS5-Katekin dari Biji Ketapang: Harapan Baru untuk Alzheimer

MEDIAAKSI.COM – Penyakit Alzheimer merupakan salah satu gangguan neurodegeneratif yang prevalensinya terus mengalami peningkatan secara global. Dalam tiga dekade terakhir, jumlah kematian akibat penyakit Alzheimer meningkat dari 651 ribu menjadi 1,4 juta jiwa.

Beban penyakit ini diproyeksikan terus meningkat, dengan estimasi jumlah kasus global mencapai 152 juta pada tahun 2050. Di Indonesia, jumlah individu yang terdampak Alzheimer diperkirakan telah mencapai 4,2 juta jiwa. Hingga saat ini, berbagai strategi terapeutik telah dikembangkan, tetapi belum terdapat terapi yang secara definitif mampu menghentikan progresivitas penyakit Alzheimer.

Alzheimer: Ancaman Kesehatan yang Terus Meningkat

Sebagai upaya dalam menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Andalas mengembangkan pendekatan inovatif dengan memanfaatkan limbah biji ketapang (Terminalia catappa) sebagai sumber Resistant Starch tipe 5 (RS5). Pendekatan ini dikombinasikan dengan katekin, yaitu senyawa antioksidan alami yang berpotensi menghambat proses agregasi β-amiloid. Agregasi β-amiloid merupakan salah satu karakteristik patologis utama yang berkaitan dengan perkembangan penyakit Alzheimer.

Salah satu kendala dalam pemanfaatan katekin sebagai agen bioaktif adalah stabilitasnya yang relatif rendah terhadap kondisi asam di lambung, sehingga dapat mengalami degradasi sebelum mencapai lokasi target. Dalam pendekatan ini, RS5 berperan sebagai matriks pelindung bagi katekin. Kompleks RS5-katekin dirancang untuk memiliki ketahanan terhadap proses pencernaan pada lambung dan usus halus, sehingga memungkinkan katekin terlindungi di dalam saluran pencernaan dan berpotensi dilepaskan pada kolon.

Strategi Gut-Brain Axis

Pendekatan ini memanfaatkan mekanisme gut–brain axis, yaitu jalur komunikasi dua arah yang menghubungkan mikrobiota usus dengan fungsi dan kesehatan sistem saraf pusat. Di dalam kolon, RS5-katekin dapat mengalami fermentasi oleh mikrobiota usus dan menghasilkan Short-Chain Fatty Acids (SCFA), terutama asetat, propionat, dan butirat.

Metabolit tersebut berpotensi memberikan efek neuroprotektif melalui modulasi respons inflamasi dan fungsi metabolik, sehingga dapat berkontribusi dalam mengurangi neuroinflamasi yang berkaitan dengan patogenesis penyakit Alzheimer, termasuk proses yang berhubungan dengan akumulasi β-amiloid di otak.

Dari Limbah Lokal Menuju Kontribusi Global

Penelitian yang dilakukan oleh Febi Febianti bersama tim yang terdiri atas Habibi Yudhistira, Dzaky Kurniawan, Winia Novita Lestaria, dan Atika Yudistira mengusung pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber bahan fungsional yang berpotensi memiliki nilai terapeutik.

Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai guna biji ketapang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sekaligus membuka peluang pengembangannya sebagai kandidat bahan fungsional dalam pendekatan preventif dan terapeutik terhadap penyakit Alzheimer. Hasil penelitian ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam International Journal of Natural Medicine serta informasinya di sebarkan melalui akun Instagram @CataCogni.pkmre.

Biji ketapang yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber bahan fungsional bernilai kesehatan. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal dalam pengembangan pendekatan terhadap penyakit Alzheimer yang lebih terjangkau, berkelanjutan, serta berbasis pada potensi keanekaragaman hayati Indonesia.

  • Saya adalah seorang mahasiswa Biologi Universitas Andalas yang saat ini sedang mengikuti lomba nasional PKM-Riset Eksata.

Pos terkait