Ketika Ingatan Tak Lagi Bisa Dipercaya: False Memory di Era Hoaks dan Deepfake

Gambar Gravatar
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh:
Firanti Widi Ningrum (Mahasiswi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang)

 

 

Bacaan Lainnya

“Sepertinya saya pernah melihat berita itu.”

Kalimat tersebut mungkin sering kita ucapkan ketika melihat sebuah informasi di media sosial. Padahal, setelah ditelusuri, berita tersebut ternyata tidak pernah kita baca dari sumber resmi. Kita hanya melihat potongan video, membaca komentar, atau mendengar cerita dari orang lain, tetapi kemudian merasa seolah-olah pernah mengalaminya. Fenomena ini dikenal sebagai false memory, yaitu kondisi ketika seseorang mengingat suatu peristiwa yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau mengingatnya dengan detail yang berbeda dari kenyataan (Lentoor, 2023).

Di era digital, false memory semakin mudah terjadi. Setiap hari kita menerima informasi dari media sosial, grup percakapan, hingga video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Tidak semua informasi tersebut benar. Hoaks dan deepfake yang terus beredar dapat membuat seseorang merasa pernah melihat atau mengalami suatu kejadian, padahal ingatan tersebut terbentuk dari informasi yang diterima berulang kali. Pemerintah Indonesia juga mengingatkan bahwa teknologi deepfake berpotensi meningkatkan penyebaran disinformasi dan penipuan digital sehingga masyarakat perlu lebih waspada terhadap informasi yang diterima (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025).

Fenomena ini terjadi karena memori manusia tidak bekerja seperti kamera yang merekam setiap kejadian secara utuh. Ketika mengingat kembali suatu peristiwa, otak akan menyusun kembali informasi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta informasi baru yang diterima. Akibatnya, informasi yang salah dapat bercampur dengan memori asli dan akhirnya dianggap sebagai bagian dari pengalaman yang benar-benar terjadi. Kondisi ini dikenal sebagai misinformation effect (Loftus, 2005; Lentoor, 2023).

Contoh sederhana dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang merasa sudah mengunci pintu rumah, yakin telah mengirim tugas kepada dosen, atau salah mengingat isi percakapan dengan teman. Dalam skala yang lebih besar, false memory dapat memengaruhi kesaksian saksi mata dalam proses hukum maupun cara masyarakat memahami suatu peristiwa yang sedang viral di media sosial.

Oleh karena itu, kita perlu menyadari bahwa keyakinan terhadap suatu ingatan tidak selalu berarti ingatan tersebut benar. Membiasakan diri memverifikasi informasi dari sumber yang terpercaya, tidak mudah percaya pada unggahan media sosial, serta berpikir kritis sebelum menyebarkan informasi merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko false memory. Di tengah derasnya arus hoaks dan perkembangan teknologi AI, menjaga akurasi ingatan menjadi sama pentingnya dengan menjaga kebenaran informasi.

 

Daftar Pustaka

Kementerian Komunikasi dan Digital. (2025). Deepfake jadi modus kejahatan siber baru: Pentingnya mitigasi risiko. https://www.komdigi.go.id

Lentoor, A. G. (2023). Cognitive and neural mechanisms underlying false memories: Misinformation, distortion or erroneous configuration? AIMS Neuroscience, 10(3), 255–268. https://doi.org/10.3934/Neuroscience.2023020

Loftus, E. F. (2005). Planting misinformation in the human mind: A 30-year investigation of the malleability of memory. Learning & Memory, 12(4), 361–366. https://doi.org/10.1101/lm.94705

Pos terkait