Popularitas atau Identitas? Dilema Destinasi Wisata di Era Media Sosial

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM –  Di era digital, media sosial telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan menentukan tujuan wisata. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya menjadi media berbagi pengalaman, tetapi juga berperan sebagai sarana promosi yang mampu meningkatkan popularitas suatu destinasi dalam waktu singkat. Leung et al. (2013) serta Xiang dan Gretzel (2010) menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah perilaku wisatawan, di mana keputusan berkunjung semakin dipengaruhi oleh konten digital, ulasan pengguna, dan rekomendasi influencer.

Fenomena tersebut membawa manfaat ekonomi yang besar. Destinasi yang viral umumnya mengalami peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, terbukanya lapangan kerja, berkembangnya usaha kuliner, penginapan, serta sektor ekonomi kreatif. Menurut UN Tourism (2023), sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak utama pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan peluang usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Namun, di balik popularitas tersebut muncul persoalan yang semakin nyata. Demi mengejar viralitas, sebagian destinasi mulai mengubah karakter dan identitasnya agar lebih menarik untuk difoto dan dibagikan di media sosial. Nilai sejarah, budaya, dan keaslian tempat perlahan tergeser oleh spot swafoto, dekorasi buatan, serta konsep yang seragam.

Bacaan Lainnya

Fenomena ini sejalan dengan konsep staged authenticity yang dikemukakan oleh MacCannell (1976), yaitu ketika budaya dan ruang wisata direkayasa agar sesuai dengan ekspektasi wisatawan. Cohen (1988) juga menjelaskan bahwa budaya lokal dapat mengalami proses komodifikasi, yaitu berubah menjadi komoditas yang lebih berorientasi pada kebutuhan pasar daripada makna budaya itu sendiri.

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pariwisata tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya pengunjung, tetapi juga dari kemampuan destinasi mempertahankan identitas budaya, keaslian, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal.

Pantjoran PIK: Ketika Popularitas Menjadi Tantangan

Salah satu contoh yang menarik adalah Pantjoran PIK di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Sejak dibuka pada tahun 2020, kawasan ini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata perkotaan yang paling banyak dibicarakan di media sosial. Konsep arsitektur bergaya Pecinan modern, festival budaya, pertunjukan barongsai, serta beragam pilihan kuliner menjadikan Pantjoran PIK sebagai magnet bagi wisatawan, terutama generasi muda.

Popularitas tersebut memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Ribuan pengunjung datang setiap akhir pekan sehingga aktivitas perdagangan, restoran, UMKM, dan sektor jasa berkembang pesat. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial mampu menjadi alat promosi yang efektif dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah wisatawan juga menghadirkan tantangan. Pada akhir pekan dan hari libur, kawasan Pantjoran PIK sering mengalami kepadatan pengunjung yang menyebabkan keterbatasan area parkir, antrean panjang, serta berkurangnya kenyamanan wisatawan. Penelitian Cantika dan Djunaid (2023) menunjukkan bahwa daya tarik destinasi berpengaruh terhadap kepuasan dan niat berkunjung kembali, tetapi kualitas fasilitas dan kapasitas kawasan tetap menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang positif. Temuan serupa juga disampaikan oleh Yonnata (2024), yang menyatakan bahwa kualitas fasilitas dan pelayanan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan wisatawan di Pantjoran PIK.

Selain persoalan kapasitas, Pantjoran PIK juga memunculkan diskusi mengenai autentisitas destinasi. Penelitian Perdana dan Kartidjo (2022) membandingkan Pantjoran PIK dengan kawasan Pecinan Glodok yang memiliki sejarah panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantjoran PIK lebih merepresentasikan konsep Chinatown modern sebagai ruang rekreasi dan komersial, sedangkan Glodok memiliki nilai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Tionghoa yang berkembang secara alami selama puluhan bahkan ratusan tahun. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata modern perlu tetap memperhatikan nilai autentisitas agar identitas budaya tidak hanya menjadi elemen dekoratif.

Ketika Popularitas Menggeser Identitas

Fenomena seperti Pantjoran PIK sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak destinasi wisata di dunia mengalami lonjakan kunjungan akibat viral di media sosial. Wisatawan datang untuk mencari pengalaman yang sedang populer, sementara pengelola terus menghadirkan atraksi baru agar tetap menarik perhatian pasar.

Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep overtourism, yaitu kondisi ketika jumlah wisatawan mulai melampaui daya dukung destinasi sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, masyarakat lokal, dan pengalaman wisatawan. Laporan UN Tourism (2018) menjelaskan bahwa overtourism dapat menyebabkan kepadatan kawasan, tekanan terhadap infrastruktur, meningkatnya konflik dengan masyarakat lokal, serta menurunnya kualitas pengalaman wisata apabila tidak dikelola secara tepat.

Capocchi et al. (2019) juga menegaskan bahwa overtourism tidak hanya berkaitan dengan jumlah wisatawan, tetapi juga menyangkut perubahan fungsi ruang, komersialisasi budaya, dan hilangnya autentisitas destinasi. Dalam konteks ini, viralitas memang mampu meningkatkan popularitas, tetapi apabila pengelola hanya berorientasi pada tren pasar tanpa mempertimbangkan identitas lokal, destinasi berpotensi kehilangan karakter unik yang menjadi daya tarik utamanya.

Menuju Pariwisata yang Tetap Populer dan Berkelanjutan

Popularitas bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi peluang besar untuk memperkenalkan budaya lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana mengelola pertumbuhan tersebut agar tidak mengorbankan identitas budaya maupun keberlanjutan lingkungan.

UN Tourism (2023) menekankan bahwa pengelolaan destinasi harus mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Strategi yang dapat diterapkan antara lain mengatur kapasitas kunjungan sesuai daya dukung kawasan, meningkatkan kualitas fasilitas publik, memperkuat atraksi berbasis budaya lokal, melibatkan masyarakat dalam pengelolaan destinasi, serta mengedukasi wisatawan mengenai perilaku berwisata yang bertanggung jawab.

Pantjoran PIK menunjukkan bahwa viralitas mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh ramainya pengunjung, melainkan juga oleh kemampuan destinasi menjaga identitas budaya, memberikan pengalaman yang autentik, dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Penutup

Media sosial telah menjadi salah satu faktor utama yang membentuk perkembangan pariwisata modern. Popularitas memang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Namun, keberhasilan destinasi tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah unggahan di media sosial atau tingginya angka kunjungan.

Ke depan, pengembangan destinasi wisata perlu diarahkan pada keseimbangan antara inovasi, daya saing, dan pelestarian identitas lokal. Destinasi yang mampu mempertahankan budaya, sejarah, dan karakter khasnya akan memiliki daya tarik yang lebih berkelanjutan dibandingkan destinasi yang hanya mengandalkan viralitas sesaat. Dengan demikian, tantangan terbesar pariwisata di era media sosial bukanlah memilih antara popularitas atau identitas, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Penulis : Rachmadi Slamet S.Tr.Par
Mahasiswa : Magister Terapan Perencaan dan Pengelolaan Pariwisata Politeknik Sahid Jakarta
Dosen pembimbing: Ibu Suci Sandi Wachyuni, S.TP, MM, CHE.

Pos terkait