Penerapan Keilmuan Mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel: Penguatan Pendidikan Al-Qur’an di TPQ Jauharotul Kamal

MEDIAAKSI.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Ampel Surabaya yang bertugas di RW 06 Kelurahan Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Surabaya, atau yang dijuluki dengan sebutan Kampung Pancasila, menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan keagamaan. Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah pendampingan belajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Jauharotul Kamal yang berada di lokasi RT 01 RW 06, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang menjadi tempat anak-anak sekitar belajar membaca Al-Qur’an sejak dini.

Program ini merupakan bentuk penerapan langsung keilmuan yang dimiliki mahasiswa ke tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga belajar memahami metode pengajaran mengaji yang selama ini diterapkan di TPQ tersebut.

Sebelum benar-benar terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan observasi menyeluruh terhadap TPQ Jauharotul Kamal yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2026. Tahapan ini dianggap penting agar mahasiswa dapat memahami kondisi lapangan sebelum menyusun program kerja yang tepat sasaran.

Observasi yang dilakukan meliputi survei lokasi TPQ, pengamatan terhadap kondisi ruang kelas, hingga wawancara langsung dengan ustadzah yang mengasuh dan membina santri-santri di sana. Melalui wawancara tersebut, mahasiswa memperoleh banyak informasi penting mengenai sistem pembelajaran, pembagian kelompok belajar, hingga kendala-kendala yang selama ini dihadapi oleh para pengajar.

Dari hasil observasi ini pula, mahasiswa menemukan satu fakta menarik yang cukup jarang diketahui masyarakat umum. TPQ Jauharotul Kamal ternyata menerapkan metode An-Nahdliyah dalam mengajarkan santrinya membaca Al-Qur’an. Metode ini dikenal memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan metode belajar mengaji lain yang lebih populer di masyarakat.

Menariknya, metode An-Nahdliyah ini bukan sembarang metode. Metode ini lahir dan dikembangkan dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Jawa Timur. Penerapan metode ini di TPQ Jauharotul Kamal menjadi bukti bahwa jejaring keilmuan pesantren tradisional masih terus hidup dan diwariskan hingga ke lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an di lingkungan masyarakat sekitar. Informasi mengenai penggunaan metode An-Nahdliyah ini menjadi pengetahuan baru yang berharga bagi mahasiswa KKN, sekaligus menambah wawasan mereka tentang keberagaman metode pengajaran Al-Qur’an yang berkembang di masyarakat.

Selain metode pembelajaran, hasil observasi juga mengungkap bahwa TPQ Jauharotul Kamal terbagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan tingkat kemampuan santri. Kelompok pertama diperuntukkan bagi santri yang masih berada pada tahap jilid, yakni santri yang baru mengenal dasar-dasar membaca huruf hijaiyah dan belum sampai pada tahap membaca Al-Qur’an secara langsung. Kelompok kedua adalah kelompok Al-Qur’an, yaitu santri yang sudah menyelesaikan tahap jilid 1-6 dan sudah bisa membaca mushaf Al-Qur’an.

Pembagian dua kelompok ini dilakukan agar proses belajar mengajar lebih terarah dan sesuai dengan kemampuan masing-masing santri, sehingga santri yang masih dasar tidak tertinggal dan santri yang sudah lebih mahir bisa terus mengasah kelancaran bacaannya.

Kegiatan TPQ Jauharotul Kamal berlangsung setiap sore, dimulai pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Dalam rentang waktu satu jam tersebut, mahasiswa KKN turut serta mendampingi anak-anak dalam membimbing bacaan mengaji, sekaligus membantu menggantikan peran ustadzah apabila berhalangan hadir. Rangkaian kegiatan belajar mengaji di TPQ ini disusun secara runtut dan konsisten setiap harinya. Berikut adalah tahapan kegiatan yang biasa dijalankan:

  1. Pembukaan dengan doa, sebagai awal kegiatan belajar mengaji sekaligus menanamkan kebiasaan berdoa sebelum menuntut ilmu kepada santri.
  2. Membaca surat-surat pendek secara bersama-sama, sebagai bentuk pembiasaan hafalan sejak dini.
  3. Membaca klasikal, yaitu membaca bersama-sama satu kelas dengan bimbingan ustadzah atau mahasiswa pendamping, untuk melatih pelafalan yang benar secara kolektif.
  4. Membaca satu per satu, di mana setiap santri maju secara bergiliran untuk membaca di hadapan pendamping, sehingga bacaan masing-masing anak dapat dikoreksi secara individual.
  5. Latihan menulis huruf Arab, sebagai penguatan kemampuan santri tidak hanya dalam membaca, tetapi juga menulis huruf-huruf hijaiyah dengan benar.
  6. Penutup dengan doa dan kuis, sebagai sesi akhir yang sekaligus menjadi evaluasi ringan dan menyenangkan untuk mengukur sejauh mana santri menyerap materi yang telah diajarkan.

Seluruh rangkaian ini berjalan hingga pukul 17.00 WIB, menandai berakhirnya kegiatan belajar mengaji pada hari itu.

Keterlibatan langsung mahasiswa memberikan manfaat timbal balik. Bagi santri, kehadiran mahasiswa menghadirkan suasana belajar yang baru dan variatif. Bagi mahasiswa sendiri, kegiatan ini menjadi ruang nyata untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah, sekaligus melatih kesabaran dan keterampilan dalam mendidik anak usia dini.

Kegiatan pendampingan di TPQ Jauharotul Kamal menjadi salah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya kepada masyarakat, khususnya di RW 06 Kebraon, Karangpilang, Kampung Pancasila. Melalui tahapan observasi yang matang sebelum terjun langsung di lapangan, mahasiswa mampu memahami karakteristik TPQ secara mendalam, termasuk mengenal metode An-Nahdliyah yang menjadi ciri khas pembelajaran mengaji di tempat tersebut.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata, baik bagi mahasiswa dalam mengasah ilmu yang dipelajari, maupun bagi masyarakat dalam mendukung kegiatan belajar mengaji anak-anak di lingkungan setempat.

  • Inna Zulfa, Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Pos terkait