Penyebab Nilai Tukar Rupiah Terpuruk Hingga Tembus Angka 18 Ribu Per Dolar

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level psikologis Rp18.044 pada Kamis, 4 Juni 2026, akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa tekanan ini dipicu oleh meningkatnya risiko inflasi global serta arus modal keluar dari negara berkembang.

Berdasarkan data perdagangan hingga siang hari, mata uang Garuda tercatat melemah sebanyak 77 poin atau setara 0,43 persen dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.967 per dolar AS. Destry menjelaskan bahwa selain faktor eksternal, kebutuhan domestik yang tinggi untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri turut memberi beban tambahan bagi stabilitas mata uang nasional.

“Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN,” kata Destry dalam keterangannya seperti dilansir VIVA.CO.ID.  Ia menekankan bahwa Bank Indonesia akan terus berada di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Langkah stabilisasi tersebut dilakukan secara konsisten melalui berbagai instrumen keuangan. BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menarik kembali aliran modal masuk ke aset domestik, disertai intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Kurs Rupiah

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini merupakan upaya strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas kurs yang dipicu oleh sentimen global.

Saat ini, kerja sama LCT telah terjalin dengan beberapa negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema ini dilaporkan terus mengalami peningkatan signifikan pada periode April 2026 dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.

Terkait kondisi cadangan devisa, Destry menyatakan bahwa posisi tersebut masih cukup kuat untuk mendukung ketahanan eksternal. “Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dgn regional, secara year-to-date (ytd) melemah -7,44 persen. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD$146,2 miliar pada akhir April 2026,” ujarnya.

Pos terkait