MEDIAAKSI.COM – Sejumlah ekonom senior mencatat bahwa kekhawatiran mengenai pemutusan hubungan kerja massal bagi pekerja muda akibat kecerdasan buatan belum terlihat dalam data ketenagakerjaan global hingga April 2026. Fenomena ini membantah narasi suram yang menyebutkan bahwa teknologi AI akan segera menyingkirkan angkatan kerja baru dari pasar tenaga kerja di berbagai sektor industri.
Andrew Husby, ekonom senior Amerika Serikat di BNP Paribas, memproyeksikan tingkat pengangguran nasional justru akan menyusut ke angka 4,1 persen pada tahun mendatang. Data resmi dari Federal Reserve Bank of St. Louis memperkuat temuan ini dengan menunjukkan penurunan angka pengangguran pekerja usia di bawah 24 tahun yang kini menyentuh angka 9,5 persen.
Meskipun angka tersebut terlihat signifikan, capaian ini sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan periode paruh kedua tahun 2025 yang sempat menembus angka di atas 10 persen. Husby menegaskan bahwa lonjakan pengangguran yang terjadi sebelumnya lebih banyak dipicu oleh pengetatan kebijakan fiskal dan ketidakpastian ekonomi makro, bukan disebabkan oleh penetrasi teknologi AI ke dalam sistem kerja.
Kondisi pasar modal yang terus mencetak rekor tertinggi turut memberikan sentimen positif terhadap pertumbuhan lapangan kerja baru di berbagai sektor yang sensitif terhadap ekonomi. “Tingkat pengangguran kaum muda masih sangat rendah secara historis, mendekati batas bawah rentang yang terlihat sejak tahun 1950-an,” ungkap Andrew Husby sebagaimana dikutip dari Barrons pada Minggu, 31 Mei 2026.
Faktor Pendukung Ketahanan Pasar Tenaga Kerja Global
Faktor lain yang membuat pasar kerja tetap stabil adalah berkurangnya jumlah angkatan kerja baru akibat gelombang pensiun generasi baby boomer serta menurunnya angka imigrasi. Kondisi ini menyebabkan pasar tenaga kerja tetap relatif ketat, sehingga kebutuhan terhadap tenaga kerja manusia masih sangat tinggi meskipun adopsi teknologi digital terus berkembang pesat.
Husby juga memberikan klarifikasi mengenai dampak spesifik AI terhadap profesi tertentu seperti pengembang perangkat lunak yang selama ini dianggap paling terancam. Ia menjelaskan bahwa meski ada perubahan pola permintaan, jumlah lowongan kerja di bidang tersebut secara faktual masih menunjukkan tren peningkatan di pasar kerja.
“Memang permintaan untuk insinyur perangkat lunak baru mungkin lebih rendah dibandingkan masa lalu, meskipun kami mencatat lowongan pekerjaan di bidang tersebut justru meningkat. Namun kelompok ini mencakup kurang dari 1 persen pekerja berusia 16 hingga 24 tahun,” jelas Husby dalam keterangannya.
Secara keseluruhan, prospek pasar kerja internasional dinilai tetap positif dengan potensi pertumbuhan yang stabil. Meskipun tantangan teknologi tetap ada, data lapangan menunjukkan bahwa transisi menuju era kecerdasan buatan tidak serta-merta memicu krisis lapangan kerja bagi generasi muda seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.







