40 Persen Gen Z Alami Stres di Tempat Kerja, Ini Penyebabnya

Gambar Gravatar
ilustrasi stres
ilustrasi stres

MEDIAAKSI.COM –  Generasi Z atau gen Z kini menghadapi tantangan baru di dunia profesional yang ditandai dengan tingkat stres yang meningkat dan kebahagiaan kerja yang menurun. Kondisi ini terutama dirasakan oleh para pekerja muda yang baru memasuki fase awal karier.

Temuan ini diungkapkan dalam laporan Workplace Happiness Index dari Jobstreet by SEEK, yang menyoroti bagaimana tekanan di tempat kerja semakin membebani generasi muda. Fenomena ini menjadi indikator penting bahwa isu kesejahteraan mental di lingkungan kerja perlu mendapat perhatian serius, khususnya bagi mereka yang baru memulai perjalanan karier profesional.

Laporan tersebut mengutip dari New Straits Times pada Rabu, 15 April 2026, menyatakan, “Pekerja Gen Z di Malaysia melaporkan kebahagiaan kerja yang lebih rendah dan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, menyoroti meningkatnya tekanan di kalangan karyawan di awal karier.”

Bacaan Lainnya

Tekanan ini muncul dari berbagai sisi, termasuk tuntutan untuk segera berkembang, meningkatkan kapabilitas diri, serta membuktikan kompetensi dalam waktu singkat di lingkungan kerja yang kompetitif. Generasi Z dinilai lebih rentan terhadap stres karena mereka harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi-ekspektasi tersebut dalam periode adaptasi yang relatif singkat.

Faktor Pemicu Stres dan Solusi yang Dibutuhkan

Lebih lanjut, survei tersebut menunjukkan bahwa pengurangan tingkat stres menjadi elemen krusial dalam meningkatkan kebahagiaan di tempat kerja. Mayoritas Gen Z berpendapat bahwa penurunan stres akan berdampak signifikan terhadap kebahagiaan mereka.

“Karyawan Gen Z lebih mungkin mengatakan bahwa mengurangi stres akan secara signifikan meningkatkan kebahagiaan mereka, sebesar 40 persen, dibandingkan dengan 35 persen untuk milenial dan 27 persen untuk Gen X,” demikian terungkap dalam temuan tersebut.

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini berusia sekitar 14 hingga 29 tahun. Banyak dari anggota generasi ini yang baru saja memasuki dunia kerja, sehingga masih berada dalam fase penyesuaian dan pengembangan diri. Meski secara umum mayoritas pekerja di Malaysia melaporkan tingkat kebahagiaan yang memadai, laporan ini menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak sepenuhnya stabil. Peningkatan tekanan kerja dan risiko kelelahan (burnout) menjadi bukti bahwa kesejahteraan karyawan masih menjadi isu yang rapuh.

Perbedaan tingkat kebahagiaan juga teramati antar sektor industri. Sektor jasa profesional dan konstruksi mencatat tingkat kebahagiaan tertinggi, mencapai 78 persen. Sementara itu, sektor publik berada di angka 62 persen, sektor industri di 61 persen, dan sektor ritel, perhotelan, serta olahraga menunjukkan angka terendah di 55 persen.

Menanggapi temuan ini, Jobstreet menyarankan agar perusahaan memberikan perhatian lebih kepada kebutuhan spesifik karyawan, termasuk dengan menerapkan pendekatan yang sesuai dengan perbedaan generasi. Penciptaan lingkungan kerja yang suportif serta penanaman rasa memiliki tujuan yang kuat dinilai sebagai faktor penting untuk meningkatkan kebahagiaan kerja di kalangan generasi muda.

Pos terkait