Tren WFH Sebabkan Perusahaan Global Enggan Rekrut Fresh Graduate

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM – Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa tren kerja jarak jauh atau WFH menjadi penyebab utama perusahaan global mulai membatasi perekrutan karyawan lulusan baru karena kendala dalam pengawasan dan pelatihan intensif. Analisis data dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, hingga Australia menunjukkan penurunan signifikan lowongan kerja level pemula sejak tahun 2022 akibat efektivitas kolaborasi jarak jauh yang dinilai kurang optimal bagi pemula.

Studi yang dilakukan oleh Peter John Lambert dari London School of Economics bersama Yannick Schindler dari Ellison Institute of Technology menyoroti fenomena ini melalui data Revelio Labs dan Lightcast. Mereka menganalisis setidaknya 243 juta perekrutan baru serta 407 juta lowongan kerja sepanjang periode 2017 hingga 2025 di negara-negara maju.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa pengaruh sistem kerja remote ternyata jauh lebih kuat dalam menekan angka perekrutan pekerja awal karier dibandingkan ancaman teknologi kecerdasan buatan atau AI. Meskipun AI generatif sempat diprediksi akan menghapus posisi junior, data membuktikan bahwa pola kerja jarak jauh memiliki dampak statistik yang lebih konsisten terhadap keputusan perusahaan dalam menambah staf baru.

Bacaan Lainnya

Penurunan perekrutan pekerja entry level ini tercatat sangat tajam, khususnya di Amerika Serikat yang mengalami kemerosotan hingga 29 persen jika dibandingkan dengan masa sebelum pandemi COVID-19. Kondisi ini berlaku pada berbagai sektor pekerjaan kerah putih yang selama ini fleksibel dilakukan secara daring, seperti pengembang perangkat lunak, konsultan, akuntan, hingga ilmuwan data.

Hambatan Pelatihan Karyawan Junior

Para peneliti menilai bahwa sistem kerja jarak jauh menciptakan tantangan besar bagi organisasi dalam melakukan pemantauan kualitas kerja harian bagi mereka yang belum berpengalaman. Selain biaya pengawasan yang meningkat, proses transfer ilmu dan budaya kerja dari senior ke junior menjadi terhambat karena minimnya interaksi fisik secara langsung di kantor.

“WFH terbukti meningkatkan biaya pengawasan dan pemantauan pekerja, serta dapat memperlambat proses pembelajaran saat bekerja,” tulis peneliti pada Kamis, 28 Mei 2026.

Hambatan organisasi ini dianggap mengurangi nilai investasi jangka panjang perusahaan terhadap talenta muda yang baru meniti karier. Perusahaan cenderung lebih memilih merekrut tenaga kerja berpengalaman yang sudah memiliki kemandirian tinggi dalam bekerja tanpa perlu bimbingan intensif setiap saat.

“Temuan kami dengan kuat menunjukkan bahwa paparan work from home lebih tepat menjadi prediktor penurunan perekrutan pekerja awal karier,” tulis laporan penelitian tersebut pada Kamis, 28 Mei 2026.

Pos terkait