MEDIAAKSI.COM – Asap dupa tipis membubung di antara hentakan kaki para penari di atas panggung Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tanggal 14 Juni lalu. Riuh rendah penonton seketika senyap saat prosesi ritual Ngampar Pide adat pembacaan doa syukur suku Dayak dimulai. Pertunjukan bertajuk “Pamer Budaya” asal Kalimantan Barat ini sukses memboyong eksotisme ritus daerah langsung ke hadapan masyarakat urban Jakarta lewat kemasan yang hangat dan inklusif. Di daerah asalnya sendiri, Kalimantan Barat, perayaan pesta panen gawai Dayak dan festival budaya ini sejatinya biasa berlangsung meriah pada bulan Mei di setiap tahunnya.
Secara garis besar, pertunjukan di TMII ini menyajikan perayaan fajar dan festival budaya yang menceritakan wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah di Kalimantan Barat. Alur pementasan dirancang secara kronologis: diawali prosesi ritual sakral yang dikelilingi tarian dan iringan lagu, disusul oleh tiga repertoar tari utama yaitu Tari Luing, Tari Kenong, dan Tari Rentak Sirih, lalu ditutup dengan sesi interaktif bersama audiens di tengah arena panggung.
Di antara ketiga tarian tersebut, Tari Luing berhasil mencuri perhatian penonton, khususnya saya sendiri. Para penari tampil anggun dengan kostum merah meriah dan properti kipas di tangan. Menariknya, alunan musik pengiring tarian ini juga memiliki warna tonalitas yang kental dengan nuansa khas Tionghoa (Cina).
Hadirnya campuran iringan bernuansa Cina dalam Tari Luing ini memberikan perspektif edukasi yang sangat berharga bagi penonton umum. Unsur ini sama sekali bukanlah bentuk pengikisan budaya asli Kalimantan Barat, melainkan cerminan nyata dari realitas demografis daerah asalnya. Kalimantan Barat dikenal memiliki tiga pilar etnis besar yang hidup berdampingan secara harmonis, yang biasa disingkat dengan istilah TIDAYU atau CIDAYU (Tionghoa/Cina, Dayak, dan Melayu).
Melalui Tari Luing, penonton diajak melihat bagaimana elemen multikultural khas wilayah tersebut berpadu dalam sebuah karya seni. Meskipun struktur koreografinya telah mengalami modernisasi gerak agar tampil lebih dinamis di panggung urban, esensi dasar tradisi lokal tetap terjaga dengan utuh. Keputusan sutradara menempatkan ritual Ngampar Pide di awal acara merupakan langkah yang sangat tepat. Ritus sakral tersebut berfungsi sebagai “jangkar tradisi” yang kuat, menegaskan identitas asli Kalimantan Barat sebelum penonton diantarkan pada penjelajahan estetik kreasi baru berikutnya.
Jika ada hal yang bisa dioptimalkan dari pementasan ini, itu adalah pengaturan ritme dinamika di pertengahan acara. Transisi yang menghadirkan beberapa tarian berturut-turut serta sesi dialog panjang kepala suku bersama penonton sempat berjalan agak linier dan monoton. Hal ini membuat atmosfer Amfiteater terasa sedikit landai, terutama bagi penonton anak-anak dan remaja yang terbiasa dengan tempo pertunjukan yang cepat.
Namun, kejenuhan minor tersebut berhasil diantisipasi dan dicairkan dengan sangat baik melalui sesi atraksi sumpit bambu. Keputusan spontan untuk mengajak penonton maju ke depan meniup corong bambu demi memecahkan balon menjadi titik balik yang interaktif. Langkah cerdas ini terbukti ampuh memecahkan jarak estetis (aesthetic distance), mengembalikan keceriaan audiens, dan menghidupkan kembali suasana panggung menjadi sangat hangat.
Secara keseluruhan, “Pamer Budaya” Kalimantan Barat di TMII berhasil mengalirkan pengetahuan adat ke khalayak luas dengan cara yang menyenangkan, santai, dan nyaman. Terlepas dari catatan kecil mengenai tempo di pertengahan laga, pertunjukan ini ditutup dengan selebrasi yang sangat manis: seluruh penonton diajak turun bersama ke tengah arena untuk menari. Sebuah pergelaran seni yang inklusif, merangkul ragam perbedaan etnis, dan sukses meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya pada pertengahan Juni tersebut.
Keindahan konsep TIDAYU (Tionghoa, Dayak, Melayu) dalam seni pertunjukan membuktikan bahwa perbedaan etnis justru bisa melahirkan harmoni karya yang luar biasa. Bagaimana pendapat Anda mengenai perpaduan unsur multibudaya seperti dalam Tari Luing ini?
-
Zahra Sofie, Jurusan Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta.







