MEDIAAKSI.COM – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menjalin kemitraan strategis dengan 187 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia untuk mengakselerasi ekosistem produk obat terapi lanjutan atau Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP). Langkah kolaboratif yang dilakukan di Jakarta pada Selasa (13/10/2026) ini bertujuan untuk memperkuat riset, inovasi, serta proses hilirisasi di sektor kesehatan nasional.
Sinergi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan utama, mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI). Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan ekosistem sel punca yang saat ini masih sangat bergantung pada produk impor.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa keterlibatan BPOM dalam riset kampus bertujuan untuk memastikan hasil penelitian memiliki dampak nyata bagi masyarakat. “Badan POM ingin menjadi bagian dari penelitian itu untuk apa? Supaya hilirisasi ending output yang ada konkrit,” ujar Taruna Ikrar saat memberikan keterangan pada Selasa (13/10/2026).
Pihak BPOM berkomitmen penuh untuk mengawal jalannya riset dengan memberikan panduan uji preklinis yang tepat. Upaya ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam industri ATMP, mengingat potensi pasar global yang mencapai 50 miliar dolar AS dan diproyeksikan akan terus meningkat signifikan dalam waktu dekat.
Strategi Hilirisasi Riset Kesehatan
Inisiatif ini sejalan dengan program Hiliriset yang dicanangkan oleh Kemendiktisaintek untuk memastikan setiap inovasi di bidang kesehatan dapat segera diproduksi dan dimanfaatkan masyarakat luas. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, menegaskan bahwa pemerintah telah meningkatkan anggaran riset, khususnya bagi penelitian yang sudah memasuki tahap hilirisasi.
Sepanjang tahun 2026, tercatat terdapat sekitar 4.000 riset bidang kesehatan yang mendapatkan pendanaan dari berbagai wilayah di Indonesia. Fokus utama pengembangan saat ini mencakup inovasi pengobatan untuk kondisi medis yang banyak diderita penduduk Indonesia, seperti osteoarthritis. Diharapkan melalui kolaborasi lintas instansi ini, produk-produk berbasis sains dan bukti empiris dapat segera dikomersialisasikan untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional.






