Survei : 64 Persen Pemuda Indonesia Khawatir Pekerjaan Digantikan AI

Ilustrasi ChatGPT for Teens
Ilustrasi penggunaan ChatGPT dil kalangan anak muda

MEDIAAKSI.COM – Lembaga Survei KedaiKOPI merilis data terbaru yang menunjukkan sebanyak 64,4 persen pemuda Indonesia merasa cemas akan kehilangan posisi pekerjaan mereka akibat adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di masa depan. Temuan tersebut dipaparkan dalam diskusi bertajuk Menakar Arah Pemuda di Jakarta, Jumat (30/10/2026), sebagai respons atas tantangan ekonomi dan ketenagakerjaan yang kian kompleks.

Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menjelaskan bahwa kekhawatiran ini mencuat seiring dengan meningkatnya ketergantungan generasi muda terhadap teknologi dalam aktivitas harian. Meskipun ancaman AI sudah mulai disadari, mayoritas responden saat ini masih lebih fokus pada tantangan nyata di lapangan seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Data menunjukkan bahwa 74,7 persen pemuda merasa proses mencari pekerjaan di Indonesia saat ini berada dalam kondisi sulit. Selain faktor teknologi, kendala utama yang dirasakan adalah kebutuhan akan koneksi atau orang dalam, keterbatasan lapangan kerja, hingga persaingan yang semakin ketat di pasar tenaga kerja.

Bacaan Lainnya

Dalam diskusi tersebut, Ashma menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keengganan pemuda untuk bekerja, melainkan pada akses yang terbatas. “Satu topik lagi untuk ketenagakerjaan, potensi ancaman AI dipersepsi para pemuda itu gimana, sebanyak 64,4 persen itu merasa khawatir bahwa mereka akan tergantikan oleh AI di masa depan, gitu ya,” ungkap Ashma.

Tantangan Ekonomi dan Masa Depan

Selain ancaman otomatisasi, survei ini juga menyoroti kerentanan finansial yang dialami oleh mayoritas anak muda. Tercatat 60,2 persen responden menyatakan penghasilan mereka tidak mencukupi kebutuhan pokok, sehingga banyak dari mereka yang terpaksa menggunakan tabungan pribadi untuk bertahan hidup.

Ekonom Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, menambahkan bahwa kondisi ini diperburuk dengan adanya ketidaksesuaian antara keahlian yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Menurutnya, pemerintah perlu segera melakukan intervensi guna memperbaiki transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja formal agar generasi muda tidak terjebak dalam pengangguran struktural.

Ia juga menekankan bahwa otomatisasi memang akan mengubah kebutuhan tenaga kerja di sektor administratif dan ritel secara signifikan. Oleh karena itu, dukungan terhadap pengembangan keahlian dan akses modal bagi wirausahawan muda dinilai sebagai salah satu langkah strategis untuk menekan dampak negatif dari perubahan teknologi tersebut.

Senada dengan hal tersebut, jurnalis Firdarainy N. Izzah menekankan bahwa tuntutan bagi pemuda untuk terus beradaptasi dengan teknologi harus dibarengi dengan sistem industri yang inklusif. “Yang penting adalah kita sebagai anak muda siap secara individu dan bagaimana sistem yang dibangun oleh kebijakan, industri, itu juga siap untuk menyediakan kesempatan yang seadil-adilnya untuk kami semua,” pungkas Firdarainy.

Pos terkait