Gen Z Padati Pagelaran Budaya Jawa Timur, Kesenian Tradisional Kini Jadi Tontonan Favorit Anak Muda

MEDIAAKSI.COM – Selama ini, kesenian tradisional kerap dianggap sebagai tontonan yang jauh dari dunia anak muda dan lebih akrab bagi generasi tua. Anggapan itu perlahan terbantahkan di Jawa Timur. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, berbagai pagelaran kebudayaan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur justru konsisten dipadati penonton, dengan mayoritas berasal dari kalangan Gen Z.

Fenomena ini menjadi menarik karena terjadi di tengah kekhawatiran banyak pihak bahwa generasi muda semakin menjauh dari warisan budaya leluhur akibat gempuran hiburan digital dan budaya populer dari luar negeri. Namun, data yang dibagikan Disbudpar Jatim justru menunjukkan arah sebaliknya.

Antusiasme yang Tercermin dari Angka

Berdasarkan data yang dibagikan akun Instagram resmi @disbudparjatimprov, lebih dari 90 persen penonton yang hadir langsung, ikut meramaikan, sekaligus berkontribusi dalam setiap pagelaran merupakan Gen Z. Antusiasme ini membuat hampir seluruh pertunjukan berstatus full-house dengan kisaran 2.500 hingga 3.000 penonton, bahkan meluber hingga ke luar area pertunjukan karena tempat duduk yang disediakan tidak lagi mencukupi.

Bacaan Lainnya

Tingginya minat itu tidak berhenti pada kehadiran fisik semata. Ratusan seniman muda turut terlibat langsung dalam proses produksi pagelaran, mulai dari latihan, tata panggung, hingga pertunjukan itu sendiri. Oleh Disbudpar Jatim, keterlibatan ini disebut sebagai bagian penting dari upaya regenerasi seniman di provinsi tersebut, sekaligus bukti bahwa minat terhadap seni pertunjukan tradisional tidak berhenti pada generasi sebelumnya.

Gairah terhadap kebudayaan lokal ini turut merambah ke ranah digital. Unggahan-unggahan dokumentasi pagelaran di media sosial tercatat ditonton lebih dari 10 juta kali, dengan mayoritas penonton berasal dari kalangan muda. Angka ini menunjukkan bahwa jangkauan pagelaran budaya tidak lagi terbatas pada mereka yang hadir secara langsung, tetapi juga menyebar luas melalui layar ponsel.

Dari Topeng Panji hingga Wayang Wong

Selama dua hingga tiga tahun terakhir, Disbudpar Jatim telah menggelar puluhan pertunjukan budaya dengan beragam bentuk kesenian, di antaranya Topeng Panji, Ludruk, Wayang Wong, Sendratari, Kyai Lodra (peraih Juara 1 Festival Nasional Reyog Ponorogo/FNRP 2026), For You Festival, Urban Youth Festival, Gegeni Tengger, hingga Kumoro Banyuwangi. Ragam pertunjukan ini menunjukkan bahwa program kebudayaan yang digarap tidak monoton pada satu jenis kesenian saja, melainkan mencakup teater rakyat, tari klasik, hingga festival bernuansa modern yang lebih dekat dengan selera anak muda.

Salah satu pagelaran terbaru, Topeng Panji bertajuk “Amarandhana”, digelar di Taman Krida Budaya, Malang, pada 23 Agustus lalu. Pertunjukan ini menghadirkan penampilan spesial dari Kyai Lodra serta kolaborasi bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW). Dari dokumentasi yang diunggah, tarian bertema topeng dan sendratari ditampilkan dengan tata panggung dan kostum yang megah, menyasar penonton lintas usia.

Semangat serupa juga terlihat dalam pagelaran teater di Taman Budaya Jawa Timur, Cak Durasim, Surabaya. Melalui akun Instagram resminya, @cak_durasim mendokumentasikan penutupan pertunjukan “The Last Manajemen Talenta Teater 2026” yang turut menggandeng komunitas teater dari Jombang. Dari dokumentasi yang diunggah, tampak ratusan penonton duduk lesehan memadati pendapa terbuka hingga meluber ke area luar panggung sejak malam hari, mengikuti jalannya pertunjukan hingga usai.

Konsistensi jadwal pagelaran yang digelar hampir merata sepanjang tahun turut menjadi faktor yang membuat animo penonton tetap terjaga. Alih-alih hanya mengandalkan satu atau dua acara besar tahunan, Disbudpar Jatim tampak membangun rutinitas pertunjukan budaya di berbagai kota, sehingga akses masyarakat—khususnya generasi muda—terhadap kesenian tradisional menjadi lebih mudah dan sering.

Bukan Sekadar Tontonan

Bagi Disbudpar Jatim, animo tinggi ini membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar hidupnya kembali kesenian dan kebudayaan lokal. Perputaran ekonomi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lokasi pertunjukan turut terdongkrak seiring ramainya pengunjung yang datang, mulai dari pedagang makanan hingga suvenir di sekitar venue. Di sisi lain, apresiasi masyarakat terhadap para seniman juga disebut semakin meningkat, seiring makin dikenalnya nama-nama pelaku seni lokal melalui pertunjukan yang mereka bawakan.

Dampak ini menunjukkan bahwa pagelaran budaya tidak berdiri sendiri sebagai agenda seremonial, melainkan bersinggungan langsung dengan roda ekonomi dan sosial di sekitarnya. Semakin ramai sebuah pertunjukan, semakin besar pula manfaat yang dirasakan pihak-pihak di luar panggung, mulai dari pelaku UMKM, komunitas seni lokal, hingga generasi muda yang terlibat sebagai penampil maupun kru produksi.

Fenomena antusiasme Gen Z terhadap pagelaran budaya Jawa Timur ini menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran akan lunturnya minat generasi muda terhadap warisan budaya bangsa. Ia juga menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak serta-merta kalah bersaing dengan hiburan modern, selama dikemas dan disajikan dengan pendekatan yang relevan bagi audiens muda—baik dari sisi konsep acara, promosi di media sosial, maupun keterlibatan langsung anak muda sebagai bagian dari proses berkesenian itu sendiri.

Ke depan, tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar bagaimana menarik penonton datang ke lokasi pertunjukan, melainkan bagaimana menjaga keberlanjutan program-program semacam ini agar tidak berhenti sebagai tren sesaat, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan baru dalam mengonsumsi dan merawat kebudayaan lokal di kalangan generasi muda.

Data dan dokumentasi dalam artikel ini bersumber dari akun Instagram resmi @disbudparjatimprov dan @cak_durasim.

Pos terkait