MEDIAAKSI.COM – Sistem pernapasan manusia selama ini dikenal sebagai salah satu materi yang paling sulit dibayangkan siswa, terutama jika hanya disampaikan lewat gambar dua dimensi di buku teks. Kondisi inilah yang mendorong tim peneliti Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan INSIDE-BODY (Immersive System for Interactive Digital Exploration of Body Organs), aplikasi pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) untuk materi sistem pernapasan tingkat SMP. Pengembangan ini didanai melalui Hibah Penelitian/Pengabdian kepada Masyarakat Sumber Dana Non-APBN UM Unggulan Pusat Tahun Anggaran 2026, dengan Nomor Kontrak 14.04.1168/UN32.14.1/LT/2026.
Penelitian ini diketuai oleh Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd., Ph.D, dosen bidang Pendidikan STEAM UM, bersama tiga anggota tim dari UM yaitu Dr. Eng. Mokh. Sholihul Hadi, S.T., M.Eng. (Teknik Elektro), Bapak Ediyanto, M.Pd., Ph.D. (Pendidikan Inklusi), dan Bapak Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D. (Fisika). Pengembangan aplikasi ini turut melibatkan kolaborasi dengan Prof. Dr. Noraffandy Yahaya dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), pakar teknologi pembelajaran digital, yang membantu merancang tampilan dan cara kerja AR-VR pada aplikasi.
Selain itu, tim juga menggandeng PT. Studio Karya Semesta (Ariverse Studio), perusahaan pengembang teknologi AR-VR yang berlokasi di Kota Malang sebagai mitra yang membantu proses pembuatan aplikasi. Setelah aplikasi selesai dikembangkan, tim peneliti melakukan pengujian media kepada dosen dan siswa untuk memastikan aplikasi berjalan lancar dan siap digunakan untuk pembelajaran.
Erni Yulianti, Ph.D. menuturkan bahwa kerja sama lintas negara dan lintas sektor semacam ini penting agar aplikasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan belajar siswa di kelas, bukan sekadar canggih dari sisi teknologi. Prinsip tersebut pula yang mendasari pemilihan sistem pernapasan sebagai salah satu materi utama dalam aplikasi ini, karena proses bernapas mulai dari udara masuk melalui hidung, paru-paru yang mengembang dan mengempis, hingga proses penyerapan oksigen oleh tubuh merupakan rangkaian proses dinamis yang sulit dipahami siswa hanya melalui gambar diam dan penjelasan dalam buku.
Lewat fitur VR, siswa diajak seolah “masuk” ke dalam tubuh dan melihat langsung perjalanan udara dari hidung sampai ke paru-paru, lengkap dengan animasi pertukaran oksigen ke darah. Sementara lewat fitur AR, siswa cukup mengarahkan kamera smartphone ke meja belajar untuk memunculkan model paru-paru secara tiga dimensi, sehingga bisa diamati dan diputar dari berbagai sisi seperti memegang model aslinya. Materi ini merupakan salah satu dari empat topik yang dikembangkan dalam aplikasi INSIDE-BODY, selain sistem pencernaan, peredaran darah, dan ekskresi.
Aplikasi ini juga dilengkapi buku panduan berupa workbook sebagai pendamping, berisi lembar aktivitas dan latihan pemahaman yang bisa langsung digunakan guru di kelas maupun sebagai tugas mandiri siswa. Pendekatan ini menjawab temuan awal tim peneliti yang menunjukkan bahwa belajar anatomi hanya dari buku teks dan alat peraga biasa cenderung membuat siswa sekadar menghafal dan mudah lupa, karena tidak benar-benar menggambarkan bagaimana proses di dalam tubuh sesungguhnya bekerja.
Penggunaan aplikasi tersebut turut diperkenalkan kepada sejumlah siswa SMP yang berkunjung ke Universitas Negeri Malang dalam rangkaian International STEM Camp Exhibition yang diadakan pada hari Kamis, 20 Agustus 2026. Dalam kunjungan tersebut, siswa berkesempatan mencoba langsung aplikasi INSIDE-BODY, mulai dari fitur VR untuk menjelajahi paru-paru hingga fitur AR untuk melihat visualisasi organ pernapasan.
Antusiasme siswa saat mencoba aplikasi ini menjadi masukan berharga bagi tim peneliti untuk terus menyempurnakan aplikasi sebelum dirilis lebih luas dan diunggah ke Google Play Store agar dapat diakses oleh lebih banyak siswa dan sekolah.
Penelitian ini sejalan dengan dua Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pembelajaran sains yang inovatif dan mudah dipahami semua siswa, serta SDGs 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi teknologi AR-VR yang melibatkan kerja sama antara perguruan tinggi, akademisi luar negeri, dan industri digital dalam negeri. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan inovasi pendidikan berbasis teknologi yang berkelanjutan.
-
Azara Rozak, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang






