Seaturtle Rescue Indonesia, Aplikasi Buatan Dosen Telkom University dan Undip Bantu Relawan Konservasi Penyu di Pantai Sodong

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM – Kerja para relawan konservasi penyu di Pantai Sodong, Kabupaten Cilacap, kini terbantu oleh aplikasi Android bernama Seaturtle Rescue Indonesia. Aplikasi ini dikembangkan oleh Ariq Cahya Wardhana, S.Kom., M.Kom., dosen Direktorat Kampus Purwokerto Universitas Telkom, bersama tim pengabdian kepada masyarakat untuk Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, dengan melibatkan dosen dari Universitas Diponegoro (Undip).

Aplikasi tersebut kini sudah bisa diunduh publik melalui Google Play Store dan menjadi bagian dari program bertajuk “Pemanfaatan Aplikasi Digital Monitoring Habitat dan Pendataan Lokasi Sarang Penyu untuk Peningkatan Kinerja Konservasi pada Pokdarwis Konservasi Penyu Nagaraja di Pantai Sodong, Kabupaten Cilacap”, yang merupakan skema Teknologi Tepat Guna (TTG) Telkom University tahun 2026.

Selain melibatkan tim dari Telkom University, program ini juga menggandeng Dr. Aninditia Sabdaningsih, S.Si., M.Si., dosen sekaligus Ketua Program Studi S2 dan S3 Sumber Daya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Keterlibatan lintas kampus ini memperkuat sisi keilmuan konservasi biota laut dalam pengembangan aplikasi, sejalan dengan sisi teknologi yang digarap tim Telkom University.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, para relawan mencatat setiap kegiatan lapangan, mulai dari jumlah sarang, jumlah telur, hingga jumlah tukik yang menetas dan dilepasliarkan, secara manual di buku dan lembar kertas. Cara ini membuat data rawan hilang, sulit direkap, dan tidak bisa diakses cepat saat dibutuhkan.

“Pencatatan manual itu berisiko. Kalau bukunya basah atau hilang, riwayat konservasi bertahun-tahun bisa ikut hilang. Rekapitulasi juga memakan waktu lama karena harus dihitung satu per satu,” ujar Ariq.
Berbeda dari rancangan awal yang sempat dirumuskan berbasis website, tim akhirnya mengembangkan sistem ini dalam bentuk aplikasi mobile Android agar lebih praktis digunakan langsung di lapangan oleh relawan yang melakukan patroli pantai. Salah satu keunggulan aplikasi ini adalah kemampuannya bekerja tanpa koneksi internet lewat fitur mode lapangan offline. Data yang dicatat relawan di lokasi terpencil akan tersimpan otomatis di perangkat, lalu tersinkronisasi ke server pusat begitu perangkat kembali terhubung ke internet.

Fitur lain yang tersedia di aplikasi ini di antaranya pencatatan cepat temuan sarang, yang memungkinkan relawan mendokumentasikan lokasi, kondisi sarang, serta estimasi jumlah telur langsung dari layar ponsel. Ada pula peta lapangan interaktif untuk memantau sebaran temuan sarang di sepanjang pantai secara real-time, serta fitur evaluasi risiko yang menilai kondisi lingkungan di sekitar sarang, seperti kelembapan pasir, keberadaan vegetasi, dan aktivitas predator, untuk menentukan tingkat risiko suatu sarang.

“Kami tidak mau sistem ini hanya jadi produk teknologi yang berhenti dipakai setelah program selesai. Makanya mitra kami libatkan dari awal, mulai dari desain fitur sampai uji coba di lapangan, supaya mereka benar-benar merasa memiliki dan paham cara menjalankannya,” kata Ariq.

Dari hasil observasi lapangan sebelum aplikasi ini dikembangkan, tim menemukan bahwa tingkat keberhasilan penetasan telur di lokasi konservasi Pantai Sodong bisa mencapai sekitar 80 persen, jauh lebih tinggi dibanding keberhasilan alami di habitat terbuka. Dengan pencatatan yang lebih rapi lewat aplikasi, tim berharap tren ini bisa dipantau dan dianalisis lebih akurat dari waktu ke waktu.
Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, Jumawan, menyambut baik kehadiran aplikasi ini. Ia menilai kemudahan mencatat data langsung dari ponsel, bahkan tanpa sinyal sekalipun, akan sangat membantu relawan yang selama ini bekerja secara swadaya melakukan patroli pantai, evakuasi telur dari lokasi rawan, hingga penetasan semi-alami.

Seluruh data yang dicatat relawan tersimpan secara terpusat dan aman untuk dianalisis oleh tim pengelola konservasi. Menurut keterangan pengembang di Google Play, aplikasi ini tidak membagikan data pengguna ke pihak ketiga. Ke depan, sistem juga direncanakan dapat memanfaatkan data lingkungan pesisir tambahan untuk membantu memperkirakan kondisi habitat dan ekosistem penyu, sehingga pengelola bisa lebih siap mengantisipasi perubahan yang dapat memengaruhi lokasi peneluran.

Setelah aplikasi selesai dibangun, tim memberikan pelatihan langsung kepada anggota kelompok, mulai dari cara menggunakan fitur pencatatan lapangan, membaca peta sebaran sarang, hingga memahami skor evaluasi risiko. Pendampingan lanjutan juga dilakukan secara berkala agar aplikasi benar-benar terpakai dalam aktivitas rutin konservasi.

Program pengabdian ini melibatkan tiga dosen anggota tim dari Telkom University, yakni Rifki Adhitama, S.Kom., M.Kom., Dodi Zulherman, S.T., M.T., Ph.D., dan Arif Amrulloh, S.Kom., M.Kom., ditambah Dr. Aninditia Sabdaningsih, S.Si., M.Si. dari Universitas Diponegoro, serta lima mahasiswa Program Studi S1 Rekayasa Perangkat Lunak Kampus Purwokerto: Satria Ramadhan, Kevin Jonson, Aulia Ahmad Ghaus Adzam, Kelvin Ferdinan, dan Ghaza Zidane Nurraihan.

Ke depan, pengelolaan penuh aplikasi akan diserahkan kepada Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, dengan satu admin lokal yang ditunjuk untuk menjaga keberlanjutan penggunaannya. Tim berharap model digitalisasi berbasis aplikasi mobile dan kolaborasi lintas kampus ini nantinya bisa direplikasi oleh kelompok-kelompok konservasi pesisir lain di Indonesia yang masih mengandalkan pencatatan manual.

Pos terkait