MEDIAAKSI.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, sejumlah instrumen investasi diprediksi akan menawarkan peluang keuntungan yang menarik sepanjang tahun ini. Pergerakan pasar global yang dinamis, dipengaruhi oleh tensi geopolitik dan potensi perubahan suku bunga, mendorong investor untuk mencari aset yang lebih stabil dan prospektif.
Kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, termasuk dinamika perang dagang dan ketegangan geopolitik, diperkirakan akan memengaruhi pasar domestik Indonesia. Hal ini mendorong masyarakat untuk kembali aktif berinvestasi guna mengantisipasi dampak global terhadap perekonomian nasional.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar keuangan, menyatakan bahwa ketidakpastian global akan memicu kenaikan minat investasi di berbagai produk.
“Di tahun 2026, memang investasi ini akan kembali mencuat. Orang akan kembali melakukan investasi di berbagai produk yang disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang tak menentu akibat geopolitik, kemudian perpolitikan di Amerika, tentang masalah perang dagang,” ujar Ibrahim seperti dilansir CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia juga telah mengindikasikan prospek ekonomi nasional yang menantang, menjadikan pemilihan instrumen investasi yang aman menjadi prioritas. “Bahkan Bank Indonesia sendiri mengatakan bahwa ekonomi di Indonesia kemungkinan tidak baik-baik saja tahun 2026, bahkan diamini oleh para pengusaha,” sambungnya.
Empat Instrumen Investasi Unggulan
Dalam konteks ketidakpastian ini, Ibrahim mengidentifikasi empat instrumen utama yang berpotensi memberikan keuntungan signifikan:
- Logam Mulia (Emas dan Perhiasan): Dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang paling aman, terutama saat pasar sedang bergejolak. “Investasi yang paling aman yang pertama adalah di logam mulia atau di emas perhiasan, itu yang pertama. Itu yang cuannya kemungkinan besar,” kata Ibrahim.
- Obligasi: Menawarkan stabilitas pengembalian yang cenderung lebih pasti dibandingkan instrumen lain.
- Deposito: Pilihan yang cocok bagi investor dengan profil konservatif yang mengutamakan keamanan modal.
- Saham Berbasis Perbankan dan Komoditas: Diprediksi akan menguat, terutama jika ketegangan geopolitik meningkat dan memicu kenaikan harga komoditas tambang. “Di sekuritas saham-saham yang berbasis perbankan, berbasis komoditas, karena pada saat nanti geopolitik meletus, harga komoditas tambang ini pasti akan naik. Sehingga di sinilah tempat yang paling baik untuk para investor untuk menginvestasi saham-saham berbasis perbankan dan komoditas,” jelasnya.
Sementara itu, perencana keuangan Andi Nugroho menilai bahwa kondisi geopolitik yang belum stabil dan potensi penurunan suku bunga acuan akan menjadi faktor penentu strategi investasi tahun ini. “Pada skala global situasi geopolitik memang masih berlanjut kondisi ketidakpastiannya. Perang dagang dan tarif masih berlanjut dan berubah-ubah situasinya, selain juga konflik di berbagai negara belum mereda,” ucap dia.
Andi juga menyoroti potensi penurunan suku bunga acuan yang dimulai dari Amerika Serikat dan dampaknya ke Indonesia. Namun, ia optimis terhadap daya tahan pasar domestik. “Ekonomi Indonesia dapat dikatakan justru bertahan dan menggeliat. Hal ini tercermin dari pergerakan IHSG yang secara YTD (year to date) bisa tumbuh 21 persen, menunjukkan kepercayaan investor pada pasar dan perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Berdasarkan pandangannya, instrumen yang patut dipertimbangkan meliputi logam mulia (emas atau perak) sebagai aset safe haven, obligasi ritel negara yang berpotensi menawarkan imbal hasil menarik seiring penurunan suku bunga, saham yang didukung oleh pertumbuhan IHSG yang solid, serta reksadana berbasis saham dan campuran sebagai instrumen turunan.







