MEDIAAKSI.COM – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah banyak pekerjaan, termasuk pekerjaan copywriter. Teknologi seperti ChatGPT dapat membantu membuat caption, judul, iklan, dan berbagai jenis tulisan dalam waktu singkat.
Kondisi ini membuat sebagian tugas copywriter mulai dapat dikerjakan dengan bantuan AI. Lalu, apakah copywriter benar-benar akan tergantikan? Perubahan ini juga menjadi perhatian bagi Sumber Daya Manusia (SDM) karena perusahaan mulai membutuhkan keterampilan baru.
Mengapa AI Bisa Menggantikan Sebagian Tugas Copywriter?
AI dapat membantu pekerjaan copywriter karena mampu menghasilkan banyak pilihan tulisan dalam waktu singkat. Contohnya, seorang copywriter membutuhkan beberapa pilihan caption untuk sebuah produk. Dengan AI, beberapa contoh caption dapat dibuat hanya dalam hitungan detik. Copywriter kemudian dapat memilih dan mengedit hasil yang paling sesuai.
Kemampuan tersebut membuat beberapa pekerjaan yang sifatnya berulang menjadi lebih mudah dilakukan menggunakan teknologi. Hal ini sejalan dengan penelitian Noy dan Zhang yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2023. Penelitian terhadap 453 profesional menunjukkan bahwa peserta yang menggunakan ChatGPT dapat menyelesaikan tugas menulis sekitar 40 persen lebih cepat, dengan kualitas hasil meningkat sekitar 18 persen.
Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus dilakukan terhadap copywriter di Indonesia. Hasil penelitian hanya menunjukkan bahwa AI dapat membantu meningkatkan produktivitas dalam pekerjaan menulis tertentu.
Penggunaan AI dalam copywriting juga ditemukan dalam penelitian Rahmadandi dan Miarta pada 2025 di Jenama Corpora Agency. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT dapat membantu proses mencari ide dan membuat draf tulisan.
Meski demikian, penggunaan AI juga memiliki tantangan. Hasil tulisan perlu diperiksa karena dapat menimbulkan masalah terkait keaslian, identitas brand, dan keseragaman gaya bahasa.
Bagaimana AI Mengubah Kebutuhan SDM?
Penggunaan AI membuat kebutuhan SDM di bidang copywriting ikut berubah. Sebelumnya, kemampuan utama yang dibutuhkan copywriter adalah kemampuan menulis. Sekarang, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan kemampuan menggunakan teknologi AI.
Copywriter perlu memahami cara membuat prompt, memilih hasil yang sesuai, mengedit tulisan, serta memeriksa informasi yang dihasilkan AI.Misalnya, AI dapat membuat 20 pilihan caption dalam waktu singkat. Namun, tidak semua hasil tersebut sesuai dengan karakter perusahaan atau kebutuhan konsumen.
Manusia tetap diperlukan untuk menentukan pesan yang tepat, memahami target konsumen, menjaga gaya komunikasi brand, dan memastikan informasi yang digunakan benar. Dengan demikian, AI tidak hanya mengubah pekerjaan copywriter, tetapi juga mengubah kompetensi SDM yang dibutuhkan perusahaan.
Perusahaan dapat melakukan upskilling dan reskilling untuk membantu karyawan menghadapi perubahan tersebut. Pelatihan dapat mencakup penggunaan AI, pembuatan prompt, penyuntingan, pengecekan informasi, kreativitas, dan pemahaman konsumen.
Apa yang Harus Dilakukan Copywriter di Era AI?
Di tengah perkembangan AI, copywriter perlu beradaptasi dengan teknologi. Kemampuan menggunakan AI dapat menjadi keterampilan tambahan untuk mempercepat pekerjaan. Namun, kemampuan manusia seperti kreativitas, berpikir kritis, memahami konsumen, dan menentukan strategi komunikasi tetap diperlukan.
Copywriter juga perlu mampu memeriksa kembali hasil yang dibuat AI. Hal ini penting karena tulisan yang terlihat baik belum tentu sesuai dengan fakta, karakter brand, atau kebutuhan audiens.
Dari sisi SDM, perusahaan juga perlu mempersiapkan karyawan agar mampu bekerja bersama teknologi. Tujuannya bukan hanya menggantikan pekerjaan yang dilakukan secara manual, tetapi meningkatkan kemampuan karyawan dalam menggunakan teknologi secara efektif.
Pada akhirnya, perkembangan AI membuat pekerjaan copywriter mengalami perubahan. Sebagian tugas dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan AI, sehingga kebutuhan kompetensi SDM juga ikut berubah.
Copywriter di era AI tidak cukup hanya mampu menulis. Mereka juga perlu mampu menggunakan teknologi, berpikir kritis, memahami audiens, dan mempertahankan kreativitas manusia.
-
Dwi Maharani Putri, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang






