MEDIAAKSI.COM – Memasuki semester 4, Shafrina Alyana Richqia, mahasiswa jurusan Antropologi Universitas Brawijaya yang akrab disapa Alya, rupanya memilih menjalani program magang di instansi dibandingkan mengikuti program KKN Desa. Ia menjalani magang sebagai Staff Human Resources (HR) di Pandu Holding Company, Jakarta Timur. Pilihan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal dunia kerja secara langsung sekaligus menerapkan hal-hal yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan. Selama menjalani magang, ia tidak hanya belajar mengenai proses kerja HR, tetapi juga menemukan berbagai hal yang membuatnya tertarik untuk mencoba menciptakan sebuah inovasi.
Salah satunya muncul ketika mengikuti proses recruitment, mulai dari screening CV hingga interview kandidat bersama mentor. Dalam proses tersebut, penilaian kandidat banyak berfokus pada kompetensi dan kesesuaian dengan posisi yang dilamar. Namun, ada hal lain yang menurutnya juga penting untuk diperhatikan, yaitu kesesuaian perilaku kandidat dengan nilai perusahaan. Dari situlah muncul gagasan untuk membuat sebuah assessment yang dapat membantu HR memperoleh gambaran mengenai kecenderungan perilaku kandidat dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan kerja.
Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi prototype Pandu Values Alignment Assessment, yang mengacu pada lima Nilai Luhur Pandu, yaitu Kreatif, Optimis, Positif, Integritas dengan Taqwa, dan Empati. Kandidat diberikan berbagai situasi yang mungkin terjadi di lingkungan kerja dan diminta memilih respons yang paling menggambarkan tindakan mereka. Setiap pilihan memiliki bobot penilaian tersendiri dan hasilnya tidak ditampilkan kepada kandidat, melainkan menjadi data pendukung bagi HR dalam proses recruitment.
Menariknya, prototype tersebut dibuat tanpa latar belakang coding maupun perancangan teknologi. Dengan memanfaatkan Canva AI, ide yang awalnya hanya berupa gagasan kemudian dikembangkan menjadi prototype aplikasi web dengan alur assessment, simulasi pertanyaan, sistem scoring, hingga dashboard HR. Proses pembuatannya pun tidak langsung selesai. Berbagai pertanyaan, pilihan jawaban, pembobotan, dan tampilan harus beberapa kali diperiksa dan disesuaikan agar produk yang dibuat tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga dapat menjawab kebutuhan yang ditemukan dalam proses recruitment.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa menjadi mahasiswa magang tidak selalu berarti hanya menerima dan menyelesaikan tugas dari mentor.
“Walaupun kita gapunya latar belakang perancangan teknologi tapi bukan berarti kita gabisa manfaatin itu, ditambah jadi mahasiswa magang bukan berarti cuma bisa nunggu tugas dari mentor aja. Menurutku, dimanapun kita berada, semangat untuk berinovasi itu harus selalu menyertai hari-hari kita,” ujarnya.
Latar belakang Jurusan Antropologi yang dekat dengan manusia dan perilaku juga memberikan sudut pandang tersendiri ketika ia mencoba melihat proses recruitment dari sisi yang lebih luas.
Prototype tersebut memang masih membutuhkan pengembangan sebelum dapat digunakan sebagai aplikasi recruitment secara penuh. Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa program magang dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya belajar, tetapi juga mencoba memberikan sesuatu bagi tempat ia belajar.
Dari sebuah celah yang ditemukan dalam proses recruitment di Pandu Holding Company, lahirlah sebuah ide sederhana yang kemudian dikembangkan menjadi prototype digital dengan bantuan AI. Bagi mahasiswa yang masih berada di bangku kuliah, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari seorang ahli teknologi, tetapi bisa dimulai dari siapa saja yang mau peka melihat masalah, berani mencoba, dan mau mencari solusi.






