MEDIAAKSI.COM – Di tengah derasnya arus digital dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, anak muda sering kali mendapat dua label yang saling bertolak belakang. Di satu sisi mereka dipandang sebagai agen perubahan yang kreatif dan inovatif, tetapi di sisi lain tidak sedikit yang menilai generasi muda semakin apatis terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan masyarakat, sebab keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda.
Apatisme pemuda dapat terlihat dari rendahnya partisipasi dalam kegiatan sosial, minimnya kepedulian terhadap lingkungan, hingga kecenderungan menjadi penonton dibandingkan pelaku perubahan. Kondisi ini tidak muncul begitu saja. Banyak anak muda merasa persoalan sosial bukan menjadi tanggung jawab mereka, sementara sebagian lainnya belum menemukan ruang yang mampu menerima gagasan, potensi, maupun keresahan yang mereka miliki.
Pengalaman mengikuti praktikum Komunikasi Pembangunan di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memberikan gambaran bahwa pemberdayaan pemuda membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi daripada sekadar memberikan motivasi atau instruksi. Melalui pemaparan Founder Omah Jaman Now (OJN), Evi Ratnasari, peserta diajak memahami bahwa membangun kepedulian sosial harus dimulai dengan menciptakan ruang yang aman bagi anak muda untuk bertumbuh.
Omah Jaman Now lahir sebagai komunitas yang menyediakan tempat bagi generasi muda untuk berdiskusi, berkolaborasi, mengembangkan kemampuan, sekaligus memperluas jaringan. Seiring perubahan kebutuhan masyarakat, terutama setelah pandemi, komunitas ini bertransformasi dari sekadar menyediakan ruang fisik menjadi ekosistem yang menghadirkan berbagai peluang pengembangan diri.
Pendekatan yang dilakukan OJN berfokus pada empat aspek utama, yaitu membangun komunitas yang suportif (community building), mengembangkan kepemimpinan (leadership), memperluas jejaring (networking), serta meningkatkan kemampuan nonteknis (soft skill development). Melalui pendekatan tersebut, anak muda tidak diposisikan sebagai objek yang harus diarahkan, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi untuk berkembang sesuai kapasitasnya.
Keberhasilan pendekatan tersebut terlihat dari lahirnya berbagai program kolaboratif, seperti BantuFinansialku x YoungVision yang berfokus pada literasi keuangan dan pengembangan diri, hingga kemitraan dengan PlasticPay yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program-program tersebut menunjukkan bahwa komunitas tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga mampu membuka akses terhadap kesempatan belajar, bekerja sama, bahkan menciptakan dampak sosial yang lebih luas.
Selain mempelajari pendekatan berbasis komunitas, praktikum ini juga menghadirkan Achmad Danial Abidin, Founder Alas Institute, yang memperkenalkan perspektif berbeda mengenai pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, semangat perubahan perlu didukung oleh strategi yang sistematis agar program benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Alas Institute menawarkan tahapan pemberdayaan yang dimulai dari asesmen, pemetaan potensi, analisis kebutuhan, penyusunan rencana aksi, pelaksanaan program, hingga monitoring dan evaluasi. Pendekatan ini menegaskan bahwa setiap program sosial harus dibangun berdasarkan data, memahami karakteristik masyarakat, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan agar hasilnya dapat diukur dan berkelanjutan.
Menariknya, kedua pendekatan tersebut bukanlah sesuatu yang saling bertentangan. Omah Jaman Now menunjukkan pentingnya membangun hubungan emosional, rasa memiliki, dan motivasi intrinsik dalam diri anak muda. Sementara Alas Institute mengingatkan bahwa setiap program pemberdayaan membutuhkan perencanaan yang matang, target yang jelas, serta evaluasi yang berkelanjutan.
Kombinasi kedua pendekatan inilah yang menjadi pelajaran penting dalam komunikasi pembangunan. Pemberdayaan tidak cukup hanya menggerakkan hati masyarakat, tetapi juga memerlukan strategi yang mampu menjaga keberlanjutan program. Sebaliknya, perencanaan yang baik juga tidak akan berjalan optimal apabila mengabaikan dialog, kepercayaan, dan partisipasi masyarakat.
Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang yang mampu menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sosialnya. Anak muda tidak cukup diberi ceramah mengenai pentingnya berkontribusi, melainkan perlu dilibatkan secara langsung dalam proses menemukan solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ketika mereka merasa didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan mengambil peran, semangat untuk berkontribusi akan tumbuh dengan sendirinya.
Pembangunan masyarakat pada akhirnya bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan juga membangun manusia yang memiliki kepedulian, kemampuan, dan keberanian untuk menciptakan perubahan. Komunitas seperti Omah Jaman Now menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari ruang-ruang kecil yang memberi kesempatan kepada anak muda untuk belajar, berjejaring, dan bertindak bersama. Sementara pendekatan Alas Institute mengingatkan bahwa perubahan yang baik harus disusun secara terencana agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, kolaborasi antara pendekatan yang humanis dan strategi yang sistematis menjadi modal penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli terhadap masyarakat dan lingkungannya. Itulah esensi komunikasi pembangunan yang sesungguhnya: membangun perubahan bersama masyarakat, bukan untuk masyarakat.
-
Farrel Fajar P, Mayrizki Veda Nandana P, Pandu Arrya Pangestu A, Nuno Mei Fino, Bintang Ramadhan Putra, Natanael erlando dirgantoro, Sabrina Febrianti, Febbri Aditya Kurniawan







