PEDAL JUARA Dorong Siswa SMP Adisa Bantargebang Berani Bermimpi dan Menata Masa Depan

MEDIAAKSI.COM –  Sepuluh tahun dari sekarang, ingin menjadi siapa?

Pertanyaan itu menjadi bagian dari kegiatan penutupan PEDAL JUARA di SMP Adisa, Bantargebang. Di hadapan lembar Papan Impian Masa Depan, peserta didik diminta membayangkan kehidupan yang ingin mereka jalani pada masa mendatang.

Ada yang menuliskan cita-cita pendidikan, pekerjaan yang diinginkan, hingga harapan sederhana untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Bagi sebagian peserta, membayangkan masa depan ternyata bukan hal yang mudah. Namun, ketika satu per satu mulai menuliskan impiannya, suasana perlahan berubah.

Beberapa peserta bahkan tak kuasa menahan tangis.

Momen tersebut menjadi salah satu gambaran dari perjalanan yang mereka lalui bersama PEDAL JUARA, program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan mahasiswa IPB University di SMP Adisa, Bantargebang. Selama program berlangsung, peserta tidak hanya mengikuti pembelajaran, tetapi juga diberikan ruang untuk mengenali diri, mencoba berbagai hal, dan memahami kemampuan yang mereka miliki.

Sebelumnya, ketika diminta menyebutkan kelebihan diri, masih ada peserta yang menjawab, “Aku tuh nggak punya kelebihan.”

Bagi mereka, menemukan sesuatu yang dapat dibanggakan dari diri sendiri ternyata bukan perkara sederhana.

PEDAL JUARA kemudian mencoba memulainya dari hal-hal yang dekat dengan keseharian peserta. Salah satunya melalui Kartu Siapa Aku, sebuah aktivitas yang mengajak mereka mengidentifikasi hal yang disukai, kemampuan, serta karakter masing-masing.

Dari kegiatan sederhana tersebut, peserta mulai belajar melihat dirinya dari sudut pandang yang berbeda. Mereka tidak hanya diminta mengetahui siapa dirinya, tetapi juga diberi kesempatan untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki kekuatan masing-masing.

Proses itu tidak berhenti pada kegiatan mengenali diri. Dalam rangkaian PEDAL JUARA, peserta juga menghadapi berbagai permainan dan tantangan yang mengharuskan mereka mengambil keputusan, mencoba strategi, serta menyelesaikan persoalan.

Pendekatan experiential learning yang digunakan membuat proses belajar berlangsung melalui pengalaman langsung. Ketika gagal menyelesaikan sebuah tantangan, peserta tidak langsung diberikan jawaban. Mereka diberi kesempatan untuk mencoba kembali dan menemukan cara lain.

Dari pengalaman tersebut, konsep resiliensi tumbuh tanpa harus selalu dijelaskan melalui teori.

Peserta belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari proses. Ada kesempatan untuk mengulang, memperbaiki, dan mencoba kembali.

Kepercayaan diri pun dibangun dengan cara serupa. Mulai dari berani menjawab pertanyaan, berbicara di depan teman, memperlihatkan hasil pekerjaan, hingga berinteraksi dengan orang lain. Hal-hal yang tampak kecil tersebut menjadi bagian dari perubahan yang berlangsung sepanjang program.

Pengalaman menemukan kemampuan diri juga hadir melalui kegiatan kewirausahaan lingkungan. Peserta mengolah tutup botol plastik bekas yang diperoleh dari pengumpul barang bekas di sekitar sekolah menjadi gantungan kunci.

Sampah yang sebelumnya hanya memiliki satu makna sebagai barang buangan kemudian mendapatkan fungsi baru di tangan mereka.

Ketika produk yang dibuat mendapatkan apresiasi dan memiliki kesempatan untuk dijual, peserta mendapatkan pengalaman lain: karya mereka ternyata dapat dihargai oleh orang lain.

Dari sana, muncul berbagai bentuk potensi. Ada peserta yang menikmati proses membuat produk, ada yang semakin berani berbicara, dan ada pula yang menunjukkan ketekunan ketika menghadapi tugas yang tidak langsung selesai.

Perubahan tersebut tidak berlangsung secara instan. Selama kurang lebih dua bulan, peserta secara bertahap mendapatkan pengalaman untuk mencoba sekaligus mengenali kemampuan dirinya.

Kemudian, pada kegiatan Gema Masa Depan, proses tersebut dibawa ke pertanyaan yang lebih besar: jika mereka sudah mulai mengenal siapa dirinya hari ini, lalu ingin menjadi siapa di masa depan?

Lewat Papan Impian Masa Depan, peserta menuangkan jawaban mereka dalam bentuk tulisan dan gambar. Cita-cita yang sebelumnya hanya berada dalam pikiran mulai mendapatkan bentuk.

Tangisan yang muncul pada saat itu menjadi salah satu momen paling emosional dalam rangkaian kegiatan. Bukan semata karena kesedihan, melainkan karena mereka sedang membayangkan sesuatu yang mungkin selama ini terasa jauh: diri mereka sendiri sebagai seseorang yang berhasil di masa depan.

PEDAL JUARA melihat bahwa keberanian untuk bermimpi tidak selalu lahir dari sebuah nasihat panjang. Terkadang, proses itu dimulai ketika seorang anak diberi kesempatan untuk mencoba sesuatu, melakukan kesalahan, mendapatkan apresiasi, lalu menyadari bahwa dirinya mampu.

Dari “aku nggak punya kelebihan”, perjalanan itu perlahan bergerak menuju satu kesadaran yang lebih sederhana:

“Ternyata aku bisa.”

  • Muhammad Wafi Robbani, Jurusan Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor

Pos terkait