Upaya Tingkatkan Personal Hygiene dan Body Awareness pada Siswa SD di Bantul

MEDIAKSI.COM – Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan program psikoedukasi bertajuk “Tubuhku Bersih, Tubuhku Sehat, Aku Hebat” sebagai upaya meningkatkan pengetahuan mengenai personal hygiene dan body awareness pada siswa kelas V SDIT Cendekia Bantul.

Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui mata kuliah Psikologi Sosial Terapan yang diampu oleh Dr. Ir. Nina Zurida Situmorang, M.Si. Kegiatan dilaksanakan oleh tim mahasiswa yang terdiri atas Sri Wahyuni, Alfira Zia Ainun Nisa, dan Destya Khansa A. pada Jumat, 18 Juni 2026, melalui penyampaian materi interaktif, diskusi, permainan edukatif, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test.

Mengapa Psikoedukasi Personal Hygiene Penting bagi Anak Sekolah Dasar?

Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok yang sedang berada pada fase penting dalam pembentukan kebiasaan hidup sehat. Pada tahap perkembangan ini, berbagai perilaku yang dipelajari dan dibiasakan sejak dini cenderung bertahan hingga masa remaja bahkan dewasa. Salah satu perilaku yang perlu ditanamkan sejak usia sekolah adalah personal hygiene, yaitu kemampuan individu menjaga kebersihan diri sebagai bentuk perawatan kesehatan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menggosok gigi secara teratur, memotong kuku, mandi dua kali sehari, dan menggunakan pakaian bersih bukan hanya mencerminkan kebersihan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya preventif dalam mencegah berbagai penyakit menular.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2023) menyatakan bahwa praktik kebersihan diri merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam mengurangi kejadian penyakit infeksi, seperti diare, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan kecacingan. Di Indonesia, pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga menjadi perhatian utama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui berbagai program promotif dan preventif yang bertujuan membentuk masyarakat yang lebih sehat sejak usia dini. Lingkungan sekolah dipandang sebagai tempat yang strategis untuk membangun perilaku tersebut karena anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, berinteraksi dengan teman sebaya, serta belajar melalui berbagai pengalaman yang diperoleh setiap hari.

Meskipun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan personal hygiene pada anak usia sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian Hidayah (2020) menemukan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar belum memiliki perilaku personal hygiene yang optimal sebelum memperoleh pendidikan kesehatan. Hasil serupa juga dilaporkan oleh Yamin et al. (2024) yang menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan mengenai kebersihan diri baru dapat dicapai secara optimal ketika pendidikan kesehatan dikemas menggunakan media yang menarik, seperti video, demonstrasi, permainan, maupun aktivitas interaktif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian informasi saja belum cukup untuk membentuk perilaku sehat apabila tidak disertai dengan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.

Selain personal hygiene, aspek lain yang tidak kalah penting adalah body awareness, yaitu kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, dan menyadari kondisi tubuhnya sendiri. Body awareness menjadi dasar bagi seseorang untuk memahami kapan tubuh memerlukan perawatan, kapan tubuh merasa tidak nyaman, maupun kapan tubuh menunjukkan tanda-tanda yang memerlukan perhatian.

Pada anak usia sekolah dasar, kesadaran terhadap kondisi tubuh masih terus berkembang sehingga memerlukan stimulasi melalui pengalaman belajar yang konkret. Anak yang memiliki body awareness yang baik cenderung lebih mudah menyadari ketika tangannya kotor, tubuhnya berkeringat, atau kukunya mulai panjang sehingga terdorong untuk menjaga kebersihan dirinya secara mandiri. Dengan demikian, peningkatan body awareness tidak hanya berkontribusi terhadap kesehatan fisik, tetapi juga menjadi fondasi terbentuknya perilaku hidup bersih dan sehat.

Hasil observasi awal yang dilakukan di SDIT Cendekia Bantul menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa siswa yang belum menerapkan personal hygiene secara konsisten. Sebagian siswa belum terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, kurang memperhatikan kebersihan kuku, serta belum memiliki kesadaran yang optimal terhadap kondisi tubuhnya sendiri.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai pentingnya kebersihan diri belum sepenuhnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan edukatif yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran serta motivasi siswa untuk menerapkan perilaku hidup bersih secara mandiri.

Berangkat dari kondisi tersebut, dilaksanakan program psikoedukasi “Tubuhku Bersih, Tubuhku Sehat, Aku Hebat” sebagai bentuk intervensi promotif yang bertujuan meningkatkan personal hygiene dan body awareness pada siswa kelas V SDIT Cendekia Bantul. Program dirancang menggunakan pendekatan pembelajaran yang interaktif melalui penyampaian materi menggunakan media visual, diskusi, permainan edukatif matching card, sesi tanya jawab, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.

Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar yang berada pada tahap operasional konkret menurut Piaget (1972). Pada tahap tersebut, anak lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung, contoh nyata, ilustrasi visual, dan aktivitas yang melibatkan partisipasi aktif dibandingkan melalui penjelasan yang bersifat abstrak.

Pelaksanaan program menunjukkan hasil yang menggembirakan. Seluruh peserta mengalami peningkatan skor setelah mengikuti psikoedukasi, dengan rata-rata nilai meningkat dari 60,0 pada pre-test menjadi 87,6 pada post-test. Selain menunjukkan peningkatan pengetahuan, hasil tersebut juga memperlihatkan bahwa variasi kemampuan peserta menjadi lebih merata setelah mengikuti kegiatan. Selama proses pembelajaran, siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, aktif berdiskusi, mampu menjawab pertanyaan fasilitator, serta menunjukkan ketertarikan tinggi saat mengikuti permainan edukatif. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa metode pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan keterlibatan peserta sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Keberhasilan program ini dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM) yang menyatakan bahwa perubahan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh keyakinan individu terhadap risiko penyakit, tingkat keparahan masalah kesehatan, manfaat perilaku sehat, hambatan yang dirasakan, adanya stimulus untuk bertindak, serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri (Glanz et al., 2015).

Melalui penyampaian materi yang dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari, siswa mulai memahami bahwa kebiasaan tidak mencuci tangan dapat menyebabkan penyakit, sedangkan menjaga kebersihan tubuh memberikan manfaat berupa tubuh yang sehat, nyaman, dan terhindar dari infeksi. Permainan edukatif, diskusi, serta penguatan dari guru berperan sebagai cues to action yang mendorong siswa untuk mulai membiasakan perilaku hidup bersih. Di sisi lain, kemampuan siswa menjelaskan kembali langkah-langkah menjaga kebersihan tubuh menunjukkan mulai berkembangnya self-efficacy atau keyakinan bahwa mereka mampu melakukan perilaku tersebut secara mandiri.

Temuan ini sejalan dengan hasil systematic review Ismail et al. (2024) yang menunjukkan bahwa program pendidikan kesehatan berbasis sekolah secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan praktik personal hygiene pada anak. Penelitian Tidwell et al. (2020) juga melaporkan bahwa program cuci tangan yang dipimpin oleh guru mampu meningkatkan kebiasaan mencuci tangan siswa baik di sekolah maupun di rumah. Demikian pula penelitian Jayanty et al. (2025) dan Younie et al. (2020) menegaskan bahwa penggunaan media pembelajaran yang interaktif lebih efektif dibandingkan metode ceramah konvensional dalam meningkatkan pemahaman anak mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.

Lebih jauh, keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pembentukan perilaku hidup sehat tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan, tetapi juga memerlukan pengalaman belajar yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan perilaku secara bersamaan. Ketika siswa memperoleh kesempatan untuk berdiskusi, bermain, mengamati, serta menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari, mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan diri, tetapi juga mulai membangun kesadaran terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Kesadaran tersebut merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membentuk perilaku hidup sehat yang berkelanjutan.

Meskipun demikian, program ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Intervensi hanya dilaksanakan dalam satu kali pertemuan sehingga dampak yang diamati masih terbatas pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran awal. Selain itu, evaluasi menggunakan desain one-group pre-test and post-test belum mampu memastikan bahwa seluruh perubahan yang terjadi sepenuhnya merupakan akibat dari intervensi karena tidak melibatkan kelompok kontrol. Oleh sebab itu, program serupa pada masa mendatang disarankan untuk disertai evaluasi jangka panjang guna mengetahui sejauh mana peningkatan pengetahuan mampu berkembang menjadi perubahan perilaku yang menetap.

Secara keseluruhan, program psikoedukasi “Tubuhku Bersih, Tubuhku Sehat, Aku Hebat” memberikan gambaran bahwa pendidikan kesehatan yang dikemas secara interaktif mampu meningkatkan pengetahuan, membangun body awareness, serta menumbuhkan motivasi awal siswa untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam mempertahankan perubahan tersebut sehingga kebiasaan hidup bersih dapat terus diterapkan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Dengan demikian, psikoedukasi tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga menjadi strategi yang efektif dalam membentuk budaya hidup sehat sejak usia sekolah dasar.

Daftar Pustaka :

Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2015). Health behavior: Theory, research, and practice (5th ed.). Jossey-Bass.

Hidayah, A. (2020). Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perubahan perilaku personal hygiene siswa sekolah dasar. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia, 5(1). https://doi.org/10.51933/health.v5i1.314

Ismail, N., Abdullah, M. A., Rahman, N. A., & Hassan, S. (2024). The effects of school-based hygiene intervention programme: A systematic review and meta-analysis. PLOS ONE, 19(2), e0298452. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0298452

Jayanty, R. S., Riyanti, A., Firjatullah, R. M., Fauzi, M. I., Hamilah, H., Amalia, K. R., Tuslinah, L., & Yulyanti, D. (2025). Efektivitas sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) terhadap pengetahuan cuci tangan siswa sekolah dasar. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 9(5).

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kementerian Kesehatan RI.

Piaget, J. (1972). The psychology of the child. Basic Books.

Potter, P. A., Perry, A. G., Hall, A. M., & Stockert, P. A. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier.

Rosenstock, I. M. (1974). Historical origins of the Health Belief Model. Health Education Monographs, 2(4), 328–335. https://doi.org/10.1177/109019817400200403

Tidwell, J. B., Gopalakrishnan, A., Lovelady, S., Sheth, E., Unni, A., & Sheth, C. (2020). Effect of a teacher-led school handwashing program on handwashing behavior among primary school children. PLOS ONE, 15(1), e0229652. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0229652

World Health Organization. (2023). Water, sanitation and hygiene (WASH). https://www.who.int/health-topics/water-sanitation-and-hygiene

World Health Organization, & United Nations Children’s Fund. (2023). Progress on drinking water, sanitation and hygiene in schools: Special focus on WASH and climate resilience. World Health Organization.

Yamin, A., Lukman, M., & Mulya, A. P. (2024). Beraksi (Washing Hand, Care Health, Safe from Infection): Health education to increase knowledge of personal hygiene and handwashing. Media Karya Kesehatan, 7(1), 45–56.

Younie, S., Leask, A., Burden, K., & Waller, A. (2020). Improving young children’s handwashing behaviour and understanding of germs through educational interventions. PLOS ONE, 15(8), e0237046. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0237046

  • Dosen Pengampu: Dr. Ir. Nina Zurida Situmorang, M.Si.

    Sri Wahyuni, Alfira Zia Ainun Nisa, dan Destya Khansa A, Jurusan Magister Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan.

Pos terkait