Mahasiswa Untag Surabaya Gelar Sosialisasi Moralitas dan Patriotisme Kebudayaan, Soroti Ancaman Budaya Asing di Era Digital

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM — Sekelompok mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk “Moralitas Masyarakat Indonesia dan Penerapan Sikap Patriotik dalam Berkebudayaan”. Acara yang berlangsung di ruang kelas pascasarjana kampus tersebut dihadiri sekitar 20 peserta yang didominasi oleh mahasiswa dan sejumlah masyarakat umum.

Kegiatan ini digagas sebagai bagian dari tugas mata kuliah Pendidikan Patriotisme di bawah bimbingan dosen pengampu Wahyu Kuncoro, S.T., M.Med.Kom. Lima mahasiswa yang tergabung dalam kelompok penyelenggara adalah Rafi Achmad Zulfikar, Wa Ode Fiqih Noorhawa, Febia Jenius Aquino, Dammien Darrien Duffroy, dan Resi Wulan Julisari.

Ketua kelompok mengungkapkan, kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap gejala menurunnya nilai moral di tengah masyarakat, mulai dari minimnya rasa saling menghormati, maraknya penyebaran informasi yang tidak akurat, sikap individualisme, hingga rendahnya kepedulian terhadap lingkungan sosial. Di sisi lain, derasnya globalisasi dan media sosial dinilai turut membawa pengaruh budaya asing yang berpotensi menggeser karakter generasi muda apabila tidak diimbangi dengan penguatan identitas kebangsaan.

“Patriotisme itu bukan sekadar cinta tanah air dalam arti sempit, tapi juga soal bagaimana kita menjaga dan melestarikan budaya sendiri sebagai bagian dari jati diri bangsa,” demikian pesan utama yang disampaikan dalam sesi pemaparan materi.

Diskusi Interaktif, Peserta Antusias

Acara yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB itu diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh moderator, pemaparan materi inti, sesi tanya jawab, hingga penutupan dan dokumentasi bersama. Panitia menilai antusiasme peserta cukup tinggi, terlihat dari perhatian yang terjaga sepanjang sesi serta banyaknya peserta yang aktif mencatat dan mengajukan pertanyaan.

Dua pertanyaan yang mengemuka dalam sesi diskusi dinilai mencerminkan pergulatan pemikiran generasi muda saat ini. Pertama, soal bagaimana kebiasaan sederhana seperti mengenakan batik tulis dalam aktivitas kuliah atau mempromosikan kuliner daerah bisa menjadi wujud nyata patriotisme kultural. Kedua, soal regulasi konkret apa yang perlu dihadirkan agar semangat cinta budaya generasi Z tidak berhenti sebagai tren sesaat, melainkan menjadi fondasi moral yang bertahan lama.

Menanggapi hal itu, narasumber menegaskan bahwa mencintai budaya lokal tidak berarti menolak modernitas. Justru, generasi muda didorong untuk menyaring pengaruh asing sekaligus memanfaatkan teknologi digital guna mengemas ulang warisan budaya agar tetap relevan dan kompetitif di tengah arus zaman.

Faktor Pendukung dan Tantangan

Dari hasil observasi selama kegiatan berlangsung, panitia mencatat sejumlah faktor yang memperkuat semangat patriotisme kultural di kalangan peserta, di antaranya kesadaran identitas dan rasa memiliki yang tumbuh saat mereka disadarkan akan keunikan budaya lokal, kemudahan akses teknologi dan media sosial untuk mendokumentasikan serta mempromosikan budaya, dan tersedianya ruang diskusi seperti sosialisasi ini yang mampu memantik kepedulian terhadap isu kebangsaan.

Namun demikian, sejumlah tantangan juga teridentifikasi. Derasnya pengaruh budaya global, termasuk gelombang K-Pop dan budaya Barat, dinilai berpotensi menggerus nilai lokal apabila tidak disikapi secara selektif. Stigma bahwa merawat budaya tradisional adalah hal yang “kuno” dan kurang relevan juga masih melekat di sebagian kalangan. Selain itu, minimnya program tindak lanjut pascakegiatan dikhawatirkan membuat semangat yang tumbuh selama sosialisasi berpotensi meredup begitu acara usai.

Rekomendasi untuk Keberlanjutan

Menutup kegiatan, tim penyelenggara menekankan pentingnya keberlanjutan program agar nilai-nilai yang telah ditanamkan tidak berhenti sebagai wacana satu kali. Mereka mendorong dibentuknya kampanye digital atau komunitas kecil sebagai wadah mahasiswa untuk terus mempraktikkan kecintaan pada budaya lokal.

Pihak kampus juga didorong menciptakan ekosistem yang lebih ramah terhadap ekspresi budaya, misalnya melalui kebijakan hari berpakaian daerah atau ruang kajian bagi mahasiswa untuk mengembangkan gerakan penguatan moralitas bangsa. Sementara itu, mahasiswa dan masyarakat umum diajak untuk lebih percaya diri menepis anggapan bahwa merawat budaya lokal adalah sesuatu yang ketinggalan zaman, serta memanfaatkan teknologi secara kreatif untuk menjaga eksistensi budaya Indonesia di tengah tantangan global.

(Kegiatan ini merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Pendidikan Patriotisme, Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.)

  • Raffi Ahmad Zulfikar, Dammien Darrien Duffroy, Febia Jenius Aquino, Resi Wulan Julisari, Wa Ode Fiqih Noorhawa, Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Pos terkait