MEDIAAKSI.COM – Meta dilaporkan sedang menguji fitur asisten belanja berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk bersaing langsung dengan platform seperti ChatGPT dari OpenAI dan Gemini dari Google. Langkah ini menandai masuknya Meta ke dalam arena e-commerce yang didukung AI, sebuah sektor yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut laporan Bloomberg, Meta telah memulai uji coba terbatas untuk fitur AI belanja ini. Jika berhasil, fitur ini akan terintegrasi dalam chatbot Meta AI, menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih personal dan efisien bagi pengguna. Rencananya, fitur ini akan tersedia secara parsial bagi pengguna Meta AI di Amerika Serikat terlebih dahulu.
Perkembangan ini menggarisbawahi tren yang semakin meningkat di mana perusahaan teknologi besar berlomba-lomba mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam berbagai layanan mereka, mulai dari pencarian informasi hingga interaksi sehari-hari, termasuk dalam aktivitas jual beli daring.
Eksistensi Meta di pasar asisten belanja AI menyusul langkah pemain lain yang telah lebih dulu merilis atau menguji coba fitur serupa. ChatGPT dari OpenAI telah memiliki kemampuan riset belanja, sementara Google Gemini juga menawarkan fungsi serupa. Selain itu, Amazon dengan Rufus dan Klarna yang berkolaborasi dengan OpenAI juga turut meramaikan pasar ini, belum lagi platform e-commerce seperti Shopify dan eBay yang juga menjajaki integrasi AI.
Meta Gedor Pintu Pasar Asisten Belanja AI
Peluncuran asisten belanja AI oleh Meta tampaknya merupakan respons strategis terhadap lanskap e-commerce yang terus berkembang. Pasar asisten belanja AI diproyeksikan akan mengalami lonjakan signifikan. Firma riset dan konsultasi Grand View Research memperkirakan nilai pasar ini akan meroket dari US$3,36 miliar pada tahun 2024 menjadi US$28,54 miliar pada tahun 2033, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai hampir 27%. Wilayah Amerika Utara saat ini memegang pangsa pasar terbesar, sekitar 40% dari total pasar global.
Tahap awal peluncuran fitur baru Meta ini akan memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan chatbot AI dan meminta rekomendasi produk. Sebagai contoh, jika pengguna bertanya tentang mainan kucing terpopuler, AI akan menampilkan daftar produk dalam format carousel horizontal. Setiap item akan menyertakan informasi harga, merek, dan tautan ke situs merchant tempat produk tersebut dapat dibeli. Selain itu, AI juga akan memberikan penjelasan singkat mengapa produk tersebut direkomendasikan.
Meskipun demikian, pengguna tidak dapat melakukan pembelian langsung melalui platform Meta AI. Mereka harus diarahkan ke tautan eksternal dari situs merchant untuk menyelesaikan transaksi. Pendekatan ini serupa dengan yang diterapkan oleh ChatGPT dan Gemini dalam fitur belanja mereka saat ini.
Sucharita Kodali, Wakil Presiden dan Analis Utama di firma riset Forrester, menilai langkah Meta ini sebagai upaya “meniru” dan memanfaatkan tren “hype” belanja berbasis AI.
“Ketika kita melihat data yang dibagikan oleh ChatGPT dan Perplexity, kasus penggunaan belanja masih sangat terbatas, jadi saya tidak yakin ada peluang besar atau kebutuhan di sini,” ujar Kodali kepada CNET.
“Juga belum jelas apa yang akan dibawa oleh Meta kepada merchant atau konsumen yang lebih baik daripada apa yang sudah dilakukan Instagram.”
Uji coba Meta ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam cara konsumen berinteraksi dengan produk secara online. AI kini memungkinkan penemuan produk yang lebih natural, personal, dan sesuai dengan konteks, niat, serta data pengguna, berbeda dari metode pencarian kata kunci tradisional.
Namun, tantangan kepercayaan konsumen terhadap asisten belanja AI tetap menjadi isu. Brad Jashinsky, seorang analis direktur di firma riset Gartner, mengungkapkan bahwa survei terbaru menunjukkan hampir dua pertiga konsumen percaya bahwa alat belanja yang didukung GenAI akan memberikan rekomendasi yang bias. “Perilaku pelanggan membutuhkan waktu lama untuk berubah,” kata Jashinsky kepada CNET.
“Ini baru terjadi pada tahun 2023 ketika lebih banyak belanja e-commerce dilakukan di perangkat seluler dibandingkan desktop di AS. Itu terjadi 16 tahun setelah iPhone debut.”
Jashinsky menambahkan bahwa adopsi AI agentik dan GenAI untuk pengalaman belanja online oleh perusahaan masih berjalan lambat. “Lebih dari separuh pemimpin pengalaman pelanggan khawatir bahwa AI yang memberikan respons atau konten yang tidak akurat mengancam pengalaman pelanggan,” katanya.







