MEDIAAKSI.COM- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti krisis kesehatan mental yang dialami satu dari tujuh remaja di seluruh dunia, sebuah kondisi yang banyak dipicu oleh tekanan di lingkungan pendidikan. Data terkini juga menunjukkan angka yang sama-sama memprihatinkan terjadi di Indonesia, di mana jutaan remaja menghadapi masalah serupa.
Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk bertumbuh justru berubah menjadi sumber ketakutan bagi sebagian pelajar. Kondisi ini secara langsung berdampak pada kemampuan mereka untuk menyerap pelajaran, menjalin relasi sosial yang sehat, hingga berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah.
Laporan dari Youth Risk Behavior CDC pada 2021 memperkuat temuan ini, dengan menyebutkan hampir 42% siswa SMA di Amerika Serikat melaporkan perasaan sedih atau putus asa secara terus-menerus. Angka ini menegaskan bahwa isu kesehatan mental di kalangan siswa memerlukan perhatian yang jauh lebih serius dari berbagai pihak.
Salah satu temuan yang paling mencemaskan adalah tingginya angka pemikiran untuk bunuh diri. Riset menunjukkan bahwa 18% siswa sekolah menengah pernah mempertimbangkan untuk mengakhiri hidup, sementara 9% di antaranya bahkan telah mencoba melakukannya setidaknya sekali. Fakta ini menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian tertinggi ketiga pada kelompok usia 12 hingga 24 tahun.
Kondisi Serupa Terjadi di Indonesia
Kondisi di Indonesia pun tidak jauh berbeda dan menunjukkan data yang mengkhawatirkan. Menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sebanyak 15,5 juta atau 34,9% remaja di tanah air mengalami masalah kesehatan mental. Situasi ini semakin diperparah oleh maraknya fenomena perundungan (bullying), baik secara fisik maupun siber, yang menjadi salah satu pemicu utama gangguan kecemasan, depresi, trauma, hingga penurunan prestasi akademik pada remaja.







