Waspada Megathrust Indonesia: ‘Bom Waktu’ Tektonik yang Mengintai di Bawah Laut

Ilustrasi gempa

MEDIAAKSI.COM –  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan publik akan potensi bencana dahsyat dari zona megathrust yang mengintai di bawah lautan Indonesia, di mana penumpukan energi tektonik masif dapat sewaktu-waktu melepaskan gempa berkekuatan besar dan tsunami. Peringatan ini menyoroti beberapa segmen yang telah ratusan tahun tidak aktif, sehingga kewaspadaan menjadi kunci utama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan.

Secara sederhana, zona megathrust adalah sebuah ‘patahan raksasa’ di dasar laut yang terbentuk akibat tumbukan antar lempeng tektonik. Dalam proses yang disebut subduksi, salah satu lempeng akan menyusup ke bawah lempeng lainnya, menyebabkan penumpukan energi yang luar biasa besar selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika energi ini tidak lagi dapat ditahan, ia akan terlepas secara tiba-tiba dan memicu guncangan hebat.

BMKG melalui akun resminya menjelaskan ancaman ini dengan gamblang. “Indonesia punya zona megathrust, yaitu wilayah pertemuan lempeng yang menyimpan energi besar. Kalau energi ini lepas, bisa timbul gempa besar, bahkan tsunami,” tulis BMKG.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena hingga saat ini, belum ada satu pun teknologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan, di mana, dan seberapa besar kekuatan gempa akan terjadi. Oleh karena itu, narasi bahwa gempa besar “tinggal menunggu waktu” bukanlah ramalan, melainkan sebuah pengingat berbasis data ilmiah tentang potensi yang nyata.

Tiga Zona ‘Senyap’ yang Perlu Diwaspadai

Dari 13 segmen megathrust yang ada di Indonesia, Kepala BMKG, Faisal, menyoroti tiga zona spesifik yang dianggap memiliki potensi ancaman paling serius. Ketiga zona ini telah berada dalam ‘fase senyap’ atau tidak mengalami gempa besar selama ratusan tahun, sebuah kondisi yang dikenal sebagai seismic gap.

“Negara kita berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia dengan 13 segmen megathrust yang sebagian belum melepaskan energi tektoniknya. Ini berarti potensi gempa besar masih mungkin terjadi kapan saja,” ujar Faisal.

Tiga zona yang tengah mengakumulasi energi secara signifikan tersebut adalah:

  • Megathrust Mentawai-Siberut: Terakhir melepaskan energi besar pada tahun 1797.
  • Megathrust Selat Sunda-Banten: Gempa besar terakhir tercatat pada tahun 1757.
  • Megathrust Sumba: Juga termasuk dalam segmen yang sedang dalam proses akumulasi energi.

Faisal menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. “Diduga kuat saat ini sedang terjadi proses akumulasi energi tektonik yang dapat merilis gempa besar sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi,” tuturnya. Karena itu, mitigasi bencana dan edukasi publik menjadi langkah paling krusial untuk meminimalkan risiko di masa depan.

 

Pos terkait