Menyusuri Jejak Sang Ulama: Saat Mahasiswa Belajar Sejarah Langsung dari Museum dan Makam KH Hasyim Asy’ari

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM – Udara dini hari yang sejuk menyambut langkah para mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) saat tiba di kompleks makam Tebuireng, Jombang. Praktikum Kuliah Lapangan mata kuliah Sejarah Pemikiran Intelektual yang mereka ikuti dimulai dengan ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus salah satu tokoh intelektual Islam paling berpengaruh di Indonesia.

Dalam suasana yang masih gelap dan tenang, para mahasiswa berjalan tertib menuju area makam. Cahaya lampu yang temaram dan suasana pesantren yang mulai beraktivitas menghadirkan nuansa khidmat sejak awal perjalanan. Tidak terdengar banyak percakapan. Sebagian mahasiswa memilih diam, menikmati momen reflektif di hadapan makam ulama besar yang selama ini mereka pelajari melalui berbagai literatur akademik.

Beberapa mahasiswa tampak memandangi nisan sederhana yang menjadi penanda peristirahatan terakhir KH Hasyim Asy’ari. Bagi mereka, berada langsung di tempat bersejarah tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar membaca kisah perjuangan sang ulama dari buku atau jurnal.

Kegiatan ziarah berlangsung penuh penghormatan. Lantunan doa dan tahlil yang dipanjatkan bersama menghadirkan suasana haru sekaligus reflektif. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, para mahasiswa diajak untuk berhenti sejenak, mengenang jasa para ulama, serta merenungkan warisan ilmu dan nilai-nilai perjuangan yang mereka tinggalkan.

“Ketika berada di sini, saya merasa sejarah bukan lagi sesuatu yang jauh. Kita bisa merasakan bahwa tokoh-tokoh besar itu benar-benar pernah hidup, berjuang, dan meninggalkan warisan yang masih dirasakan hingga sekarang,” tutur Rehan, salah seorang mahasiswa.

Setelah rangkaian ziarah selesai, perjalanan intelektual berlanjut ke Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang berada tidak jauh dari kompleks makam. Memasuki museum pada pagi hari, semangat para mahasiswa kembali terlihat. Rasa ingin tahu terpancar dari wajah mereka ketika menyusuri ruang demi ruang yang menyimpan beragam koleksi bersejarah.

Peninggalan para ulama, dokumentasi perjalanan organisasi Islam, manuskrip, foto-foto perjuangan, hingga berbagai artefak yang menggambarkan perkembangan pemikiran Islam di Nusantara menjadi daya tarik yang memikat perhatian para peserta. Mereka tampak aktif mencatat informasi penting, mengabadikan koleksi museum, serta berdiskusi mengenai berbagai temuan yang menarik perhatian.

Bagi sebagian mahasiswa, kunjungan ini menjadi pengalaman pertama melihat secara langsung sumber-sumber sejarah yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku, jurnal, dan materi perkuliahan. Kehadiran benda-benda bersejarah tersebut membuat pelajaran yang selama ini dipahami secara teoritis terasa lebih nyata dan dekat.

Praktikum Kuliah Lapangan ini membuka kesadaran mahasiswa mengenai pentingnya memahami sejarah pemikiran intelektual Islam. Melalui ziarah dan kunjungan langsung ke museum, mereka dapat melihat bagaimana para ulama dan cendekiawan membangun tradisi keilmuan yang menjadi fondasi perkembangan Islam di Indonesia.

Lebih dari sekadar memenuhi tuntutan akademik, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata. Ziarah ke makam Tebuireng mengajarkan arti penghormatan kepada para pendahulu yang telah mengabdikan hidupnya untuk ilmu, umat, dan bangsa. Sementara itu, museum memberikan gambaran tentang perjalanan panjang pemikiran Islam di Nusantara yang terus berkembang dari masa ke masa.

Saat perjalanan berakhir, para mahasiswa membawa pulang lebih dari sekadar catatan lapangan. Mereka membawa pengalaman, inspirasi, dan kesadaran baru bahwa memahami sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang mengambil pelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

  • Marsya Dwi Amailia, Sejarah dan Peradaban Islam, FUAH, UIN KHAS Jember

Pos terkait