Kita Makin Pintar Atau Makin Bergantung? Dampak AI Pada Pikiran Dan Mental Manusia

Ilustrasi kecerdasan buatan

MEDIAAKSI.COM  – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi cerita masa depan. Tanpa kita sadari, AI sudah hadir hampir di setiap sudut kehidupan: dari rekomendasi video di media sosial, fitur pencarian yang “mengerti” apa yang kita maksud, hingga chatbot yang siap menjawab pertanyaan kapan saja.

Teknologi ini memang memudahkan, tetapi di balik kemudahan itu, ada satu hal penting yang sering luput dibahas: bagaimana AI memengaruhi cara manusia berpikir, merasakan, dan memaknai dirinya sendiri.

Berbagai kajian, termasuk yang dimuat dalam Journal of Information System, Informatics and Computing terbitan STMIK Jayakarta dan Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, menunjukkan bahwa AI membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi manusia. Bukan hanya soal pekerjaan atau ekonomi, tetapi juga soal psikologi manusia.

Bacaan Lainnya

1. AI Membantu Berpikir, Tapi Jangan Sampai Mengambil Alih

Dari sisi positif, AI bisa dibilang sebagai “asisten berpikir”. Teknologi ini membantu manusia memilah informasi, membuat prediksi, dan mengambil keputusan dengan cepat. Contohnya sederhana: kita tidak perlu lagi mencari satu per satu film yang ingin ditonton, karena platform streaming sudah menyediakannya berdasarkan selera kita. Otak jadi lebih ringan, waktu lebih efisien.

Namun, ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Jika terlalu sering mengandalkan AI, manusia bisa menjadi terlalu pasif dalam berpikir. Kita terbiasa mengikuti saran algoritma tanpa bertanya ulang: benarkah ini yang saya butuhkan? Lama-kelamaan, kepercayaan terhadap kemampuan berpikir sendiri bisa menurun. Manusia berubah dari pengambil keputusan menjadi sekadar pengikut rekomendasi.

2. AI yang Terlihat “Mengerti” Perasaan

Menariknya, AI kini tidak hanya pintar, tetapi juga terasa “ramah”. Chatbot dan asisten virtual dirancang untuk merespons dengan bahasa yang sopan, empatik, dan seolah memahami perasaan kita. Tidak sedikit orang yang merasa nyaman curhat atau berbincang dengan AI, terutama ketika merasa lelah berinteraksi dengan manusia.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: manusia mudah memberikan sifat manusiawi pada teknologi. AI dianggap netral, tidak menghakimi, dan selalu siap mendengarkan. Padahal, sejatinya AI tidak benar-benar merasakan apa pun. Semua responsnya adalah hasil pengolahan data.

Di sinilah muncul risiko hubungan emosional semu. Ketika seseorang terlalu bergantung secara emosional pada AI, hubungan sosial yang nyata bisa tergeser. Kedekatan terasa ada, tetapi sebenarnya satu arah.

3. AI dan Kesehatan Mental: Penolong atau Ancaman?

Di bidang kesehatan mental, AI membawa harapan baru. Teknologi ini bisa membantu mengenali gejala stres, kecemasan, atau depresi sejak dini. Bagi masyarakat yang sulit menjangkau layanan psikolog, AI bisa menjadi pintu awal untuk memahami kondisi diri.

Namun, AI tetap tidak bisa menggantikan peran manusia sepenuhnya. Psikolog dan psikiater tidak hanya bekerja dengan data, tetapi juga empati yang nyata, pemahaman konteks hidup, dan relasi manusiawi. Selain itu, data psikologis bersifat sangat pribadi. Jika tidak dikelola dengan baik, risiko kebocoran data bisa berdampak serius pada kesehatan mental seseorang.

4. Generasi Muda dan Tantangan Identitas di Era AI

Bagi generasi muda, AI berpotensi memengaruhi cara mereka membentuk identitas diri. Ketika rekomendasi, validasi, dan bahkan penilaian diri banyak datang dari sistem digital, ada risiko manusia kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai yang tumbuh dari interaksi langsung dengan orang lain.
AI bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan pengalaman manusia yang sesungguhnya belajar dari kegagalan, membangun empati, dan menemukan makna hidup melalui hubungan nyata.

5. Teknologi Boleh Maju, Manusia Jangan Mundur

AI adalah alat yang luar biasa, tetapi tetaplah alat. Ia seharusnya memperkuat manusia, bukan menggantikannya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, manusia perlu tetap menjaga kemampuan berpikir kritis, kesehatan mental, dan hubungan sosial yang sehat.

Seperti yang ditekankan dalam berbagai kajian, kecerdasan emosional, empati, dan makna hidup adalah hal-hal yang tidak bisa diprogram sepenuhnya ke dalam mesin. Maka, tantangan terbesar di era AI bukanlah soal seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya tanpa kehilangan sisi kemanusiaan

Penulis : Ghefira Putri Prisilia, Mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Pos terkait