Universitas di China Hapus Banyak Jurusan Akibat Perkembangan AI

MEDIAAKSI.COM – Sejumlah universitas di China secara resmi menghapus ribuan program studi tradisional sebagai respons atas pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah kebutuhan pasar kerja. Langkah ini diambil pemerintah China untuk mengarahkan kurikulum pendidikan tinggi agar lebih fokus pada bidang strategis seperti robotika, sistem AI, serta teknologi chip.

Data menunjukkan bahwa dalam periode 2021 hingga 2025, perguruan tinggi di China telah menutup atau menangguhkan lebih dari 12.200 program studi. Sebagai gantinya, sebanyak 10.200 program baru yang berbasis teknologi mutakhir telah diluncurkan untuk menjawab tantangan ekonomi masa depan.

Bidang studi yang paling terdampak oleh kebijakan perombakan ini meliputi seni, humaniora, manajemen, dan bahasa. Salah satu institusi, yakni Central Academy of Fine Arts, memutuskan untuk menghentikan program fotografi, ilustrasi, tata busana, hingga penerjemahan karena dianggap kurang relevan dengan efisiensi yang ditawarkan oleh mesin AI saat ini.

Seorang alumni desain produk yang kampusnya menyetop penerimaan mahasiswa baru menyatakan bahwa teknologi AI telah mengambil alih pekerjaan teknis utama seperti proses modelling dan rendering yang selama ini menjadi inti dari disiplin ilmu tersebut, Rabu (23/9).

Adaptasi Sistem Pendidikan Tinggi

Meskipun terjadi penghapusan besar-besaran, pihak universitas menegaskan bahwa beberapa program tidak benar-benar dihilangkan, melainkan diintegrasikan ke dalam disiplin ilmu lain yang lebih relevan. Misalnya, program fotografi kini dilebur ke dalam jurusan film dan televisi agar selaras dengan kebutuhan industri kreatif modern.

Di sisi lain, pergeseran kurikulum ini memicu perdebatan mengenai pentingnya keterampilan manusia yang unik. Alex Shi, seorang lulusan penerjemahan bahasa Inggris, berpendapat bahwa meskipun AI mampu menghasilkan teks dengan akurasi tinggi, aspek pemikiran kritis dan gaya personal dalam komunikasi tetap tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin, Rabu (23/9).

Pemerintah China kini mendorong kampus untuk membuka jurusan hibrida yang menggabungkan pelatihan teknis AI dengan keahlian kreatif. Fokus utama pengembangan saat ini beralih pada bidang seperti sistem AI terintegrasi fisik, teknik audiovisual cerdas, serta pengembangan profesi baru seperti animator AI dan teknisi perintah atau prompt engineer.

Menanggapi tren ini, peneliti senior di National Institute of Education Sciences, Chu Zhahoui, menekankan pentingnya fleksibilitas bagi mahasiswa. Ia menyarankan agar perguruan tinggi beralih ke sistem pemilihan mata kuliah yang lebih bebas, sehingga setiap individu dapat membangun profil keahlian yang unik sesuai minat dan tuntutan karier di tengah perkembangan teknologi yang dinamis.

Pos terkait