MEDIAAKSI.COM — Keterbatasan air saat musim kemarau menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat Desa Sokasari, Kabupaten Tegal. Sebagian besar lahan pertanian di desa ini merupakan sawah tadah hujan yang bergantung pada ketersediaan air hujan. Kondisi tersebut mendorong perlunya alternatif budidaya yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan dan musim.
Melihat kondisi tersebut, tim KKNT InovasiIPB University TEGALKAB018 melalui program SOKA TANI memperkenalkan inovasi pertanian adaptif kepada masyarakat Desa Sokasari. Program ini berfokus pada pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai alternatif pupuk hayati serta pengenalan padi IPB 9G dan beberapa metode penyemaian yang dapat diterapkan pada lahan sawah tadah hujan.
Kegiatan SOKA TANI tidak berhenti pada penyampaian materi. Masyarakat diajak untuk terlibat langsung dalam praktik, mulai dari pengenalan dan pembuatan PGPR hingga proses penyemaian benih padi IPB 9G. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat yang terlibat dalam aktivitas pertanian, khususnya Kelompok Tani (Poktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sokasari.
Dari Bahan Sederhana Menjadi PGPR
Salah satu bagian utama SOKA TANI adalah praktik pembuatan PGPR. Masyarakat diperkenalkan pada PGPR sebagai salah satu alternatif pendukung pertumbuhan tanaman yang dapat dibuat menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan pada penggunaan air cucian beras, air kelapa tua, akar bambu muda, gula, terasi, dan kapur dolomit. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai manfaat dan penerapannya, peserta kemudian membuat ramuan PGPR secara langsung.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Mereka tidak hanya mengikuti demonstrasi, tetapi turut membuat ramuan PGPR dan membawa pulang hasil praktik untuk melalui proses fermentasi. Proses fermentasi juga terlihat dari terbentuknya gas pada wadah. Hasil pre-test dan post-test turut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai PGPR.
Mengenal Padi IPB 9G dan Tiga Cara Penyemaian
Selain PGPR, SOKA TANI juga mengenalkan padi IPB 9G sebagai salah satu alternatif tanaman yang dapat dikembangkan pada lahan sawah tadah hujan. Pengenalan tersebut dilengkapi dengan praktik penyemaian menggunakan beberapa metode agar masyarakat dapat melihat dan membandingkan perkembangan tanaman dari setiap perlakuan.
Benih padi IPB 9G terlebih dahulu direndam dalam ramuan PGPR selama 12 jam sebagai perlakuan awal. Selanjutnya, benih diterapkan dalam tiga metode, yaitu menggunakan tray semai, tabur langsung, dan penanaman langsung di lahan. Perkembangan tanaman dari masing-masing metode kemudian diamati sebelum bibit hasil penyemaian dipindahkan ke lahan.
Dalam pelaksanaannya, benih yang mendapatkan perlakuan PGPR menunjukkan perkecambahan lebih cepat dan berhasil disemai melalui tray maupun metode sebar langsung di lahan. Kecambah hasil penyemaian kemudian dipindahkan ke lahan untuk melanjutkan proses budidaya.
Bukan Sekadar Mengenalkan, tetapi Mendorong Kemandirian
SOKA TANI dirancang agar pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat terus dimanfaatkan setelah program berakhir. Masyarakat mendapatkan pengalaman langsung dalam membuat PGPR dan menyemai benih, sementara leaflet panduan pembuatan PGPR disediakan sebagai pegangan untuk praktik berikutnya.
Benih padi IPB 9G juga diserahkan kepada Kelompok Tani untuk dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dalam kegiatan budidaya selanjutnya. Sementara itu, lahan yang telah ditanami diharapkan dapat terus dirawat dan dipantau oleh desa sebagai mitra.
Meski demikian, pelaksanaan program masih memiliki sejumlah catatan. Partisipasi peserta dalam diskusi belum maksimal, pembersihan gulma di lahan belum dilakukan secara optimal, dan kegiatan penanaman baru menjangkau satu dukuh. Ke depan, lokasi penanaman diharapkan dapat diperluas ke dukuh lainnya serta pertumbuhan tanaman dipantau hingga tahap panen.
Pada akhirnya, SOKA TANI menjadi langkah awal untuk mengenalkan pilihan budidaya yang lebih adaptif kepada masyarakat Desa Sokasari. Bagi masyarakat, program ini bukan hanya tentang mengenal PGPR atau mencoba benih padi baru, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan cara bertani yang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan pertanian setempat.
-
Najwa P. Martanto, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB University






