Peneliti BRIN Temukan Potensi Antikanker dari Bakteri Tanah Kunyit

Ilustrasi kunyit

MEDIAAKSI.COM-  Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum lama ini berhasil mengidentifikasi isolat bakteri aktinomisetes dari tanah sekitar akar tanaman kunyit yang menunjukkan aktivitas antikanker yang signifikan. Penemuan ini mengindikasikan bahwa mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman obat juga dapat menjadi sumber senyawa bioaktif yang berharga untuk pengobatan.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science ini merupakan hasil kolaborasi antara tim BRIN dan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Para peneliti berhasil mengisolasi tujuh jenis bakteri aktinomisetes dari tanah perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Seluruh isolat kemudian diuji potensi antikankernya secara in vitro terhadap sel kanker payudara jenis T47D.

Potensi Senyawa Antikanker dari Mikroba Tanah

Dari tujuh isolat yang diuji, satu isolat bakteri bernama TC-ARCL7 menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Aniska Novita Sari, perwakilan tim peneliti, menjelaskan bahwa isolat ini mampu menghasilkan senyawa yang efektif melawan sel kanker dengan konsentrasi sangat rendah.

Bacaan Lainnya

Hasil pengujian in vitro menunjukkan nilai IC50 sebesar 0,2 µg/ml untuk isolat TC-ARCL7. Nilai ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan obat kemoterapi standar seperti doxorubicin, kurkumin murni, maupun ekstrak etanol dari tanaman kunyit itu sendiri. Lebih lanjut, Aniska menyatakan, “Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat, namun mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut.”

Selain efektivitasnya yang tinggi, isolat TC-ARCL7 juga menunjukkan tingkat toksisitas yang sangat rendah terhadap sel normal (sel Vero). Hal ini memberikan indeks selektivitas yang tinggi, menjadikannya kandidat potensial untuk pengembangan obat antikanker yang lebih aman. Tim peneliti berkomitmen untuk melanjutkan riset ini melalui tahapan pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi metabolit, hingga uji praklinik. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif pengembangan obat berbasis alam yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pos terkait