Wujudkan Impian Leluhur, Mahasiswi Indonesia Ini Dalami Bahasa Mandarin di China

MEDIAAKSI.COM –   Vivin Egistin, seorang mahasiswi asal Pulau Kundur, Kepulauan Riau, tengah menempuh pendidikan Bahasa Mandarin di China untuk mewujudkan cita-cita pribadi sekaligus impian keluarganya. Perjalanannya yang dimulai sejak 2020 ini membawanya untuk mendalami langsung budaya dan bahasa para leluhurnya di Negeri Tirai Bambu.

Sebagai keturunan Tionghoa, Vivin telah akrab dengan budaya Teochew yang dikenalkan oleh kakek dan neneknya, yang merantau dari Chaozhou, China selatan, sekitar seabad yang lalu. Sejak kecil, ia belajar dua bahasa sekaligus yang memberinya tantangan tersendiri.

“Saya mengalami kesulitan ganda, yakni perubahan nada dalam bahasa Teochew dan Mandarin terkait pelafalan yang mirip akan menghasilkan arti yang sama sekali berbeda; dan saya juga menjadi cadel serta memerlukan tiga hingga empat tahun baru bisa menyebut ‘r’ dalam bahasa Indonesia,” kenang Vivin.

Minatnya untuk mengajar Bahasa Mandarin mulai tumbuh saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ia aktif mengikuti berbagai acara pengajaran bahasa Mandarin untuk anak-anak Tionghoa di daerahnya. “Setiap kali saya naik ke mimbar, saya merasa ‘bersinar’,” ujarnya.

Impian tersebut mulai menemukan jalannya saat Vivin diterima di Universitas Ji’nan, Guangzhou pada tahun 2020. Lokasi kampus yang tak jauh dari kampung halaman neneknya menjadi salah satu alasan utama pilihannya. Ia pun berhasil menelusuri jejak leluhurnya dan mengabadikan momen tersebut dalam sebuah video yang diunggah ke media sosial, yang ternyata menarik minat teman-temannya di Indonesia.

Menyerap Ilmu Konfusius dan Teknologi Modern China

Saat ini, Vivin melanjutkan studinya di Universitas Shandong. Pilihan ini didasari oleh ketertarikannya pada filsafat dan pemikiran Konfusius. “Saya ingin belajar di Shandong karena ini merupakan tempat lahirnya Kong’zi, saya tertarik dengan teori-teori Konfusius,” jelas Vivin.

Selama berada di China, ia tidak hanya belajar di dalam kelas. Vivin mengaku terkesan dengan kemajuan pesat yang ia saksikan secara langsung. “Saya merasakan secara langsung kemajuan teknologi di China, mulai dari transportasi cepat hingga belanja daring dan pembayaran seluler yang nyaman, semuanya enak,” tuturnya.

Vivin melihat bahwa hubungan baik antara Indonesia dan China membuka banyak peluang nyata bagi masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, penguasaan Bahasa Mandarin menjadi nilai tambah yang signifikan di dunia kerja. “Banyak anak muda Indonesia meyakini bekerja di perusahaan China merupakan peluang emas,” katanya.

Setelah menyelesaikan studinya, Vivin berencana untuk kembali ke Indonesia dan mengabdikan dirinya sebagai seorang guru. “Saya akan pulang ke Tanah Air dan menjadi guru. Tidak hanya memperkenalkan budaya tradisional, saya juga akan memberi tahu murid-murid saya mengenai perkembangan China yang modern, melalui pengalaman saya sendiri,” tutupnya.  (Antaranews)

Pos terkait