Waspada, Kebiasaan Makan Generasi Z Ini Bisa Merusak Ginjal di Usia Muda

Gambar Gravatar

MEDIAAKSI.COM – Penyakit ginjal kini tak lagi hanya mengintai kaum dewasa atau lansia. Generasi Z, yang dikenal dengan gaya hidup dan pilihan kuliner khasnya, juga berisiko tinggi mengalami gangguan fungsi ginjal sejak usia muda. Pola makan yang didominasi konsumsi makanan tinggi gula dan garam menjadi salah satu biang keladi utamanya.

Generasi Z kerap menggemari comfort food, yang ironisnya, seringkali kaya akan gula dan garam. Kebiasaan ini, jika tidak dikontrol, dapat secara perlahan mengikis kesehatan ginjal. Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia, dr. Pringgodigdo Nugroho, menjelaskan bahwa obesitas, diabetes, dan hipertensi adalah tiga pemicu utama masalah ginjal yang seringkali berakar dari pola makan yang buruk.

“Misalnya tinggi kalori, yang manis-manis ya. Nanti secara langsung, melalui diabetes juga bisa gagal ginjal. Ditambah lagi gaya hidup sedentari yang kurang aktivitas fisik,” ujar dr. Pringgo, menggarisbawahi kaitan erat antara asupan kalori berlebih, konsumsi makanan manis, dan rendahnya aktivitas fisik dengan risiko diabetes yang pada akhirnya dapat memicu penyakit ginjal.

Bacaan Lainnya

Hal serupa juga berlaku untuk hipertensi. Dr. Pringgo menekankan bahwa asupan garam yang berlebihan merupakan penyebab umum hipertensi, yang kemudian dapat berujung pada kerusakan ginjal. “Kan, kita tahu banyak makanan-makanan instan yang mengandung garam tinggi. Hipertensi akhirnya ke penyakit ginjal,” tambahnya.

Glomerulonefritis: Penyebab Umum Gagal Ginjal di Usia Muda

Salah satu kondisi yang paling banyak ditemukan pada kasus penyakit ginjal di kalangan anak muda berusia 20-30 tahun adalah peradangan ginjal atau glomerulonefritis. Dr. Pringgo menyatakan, “Biasanya, yang muda-muda udah gagal ginjal tuh, kebanyakan karena penyakit ini (peradangan ginjal).”

Yang patut diwaspadai dari glomerulonefritis adalah minimnya gejala yang kentara. Penyakit ini seringkali tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas pada tahap awal. Deteksi dini umumnya hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan urine. “Di urine ada sel darah merah atau albumin yang harusnya negatif,” jelas dr. Pringgo.

Gejala lain yang mungkin muncul sebagai indikasi adanya peradangan ginjal adalah buih yang berlebihan pada air kencing. Kondisi ini bisa menjadi sinyal adanya kebocoran protein dalam urine yang menandakan kerusakan ginjal yang lebih serius.

Pos terkait