MEDIAAKSI.COM – Seberapa sering Anda melihat unggahan di media sosial yang menampilkan seseorang sedang menikmati sesi Pilates Reformer eksklusif, atau berkeringat di lapangan Padel yang aesthetic? Fenomena gaya hidup sehat (healthy lifestyle) di kota-kota besar Indonesia telah bergeser jauh dari sekadar lari pagi biasa. Aktivitas seperti maraton mahal, bersepeda dengan perlengkapan high-end, hingga rutin menghadiri kelas Padel atau Pilates telah berubah menjadi tren sosial yang terstruktur.
Ini bukan lagi hanya tentang menjaga kebugaran fisik, melainkan sebuah pertukaran di mana kesehatan dikaitkan dengan status sosial. Pergeseran ini didorong oleh Sportainment, sebuah perpaduan antara olahraga dan hiburan. Sportainment mengubah aktivitas fisik privat menjadi tontonan publik, bahkan menjadi konten yang “wajib dibagikan” di media sosial.
Bagi kelompok sosial-ekonomi menengah atas di perkotaan kita sebut Urban Elite, aktivitas ini menarik karena tidak hanya menawarkan kesehatan, tetapi juga sarana untuk menunjukkan perbedaan sosial dan membangun identitas. Mengapa tren kebugaran seperti Padel dan Pilates yang cenderung mahal ini begitu lekat dengan identitas elite?
Berikut adalah 5 alasan utama bagaimana Sportainment membentuk identitas Urban Elite di Indonesia :
1. Kesehatan sebagai Modal Budaya yang dapat Dipertukarkan
Dalam kacamata Sosiologi, tubuh dan praktik kesehatan yang Anda jalani tidaklah netral keduanya merefleksikan kelas sosial dan kekuasaan. Bagi Urban Elite, mengadopsi gaya hidup sehat yang terbungkus rapi dalam Sportainment adalah sebuah keharusan budaya.
Menguasai Padel atau mengetahui studio Pilates terbaik bukan hanya menghasilkan kebugaran. Merujuk pada pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu, ini menciptakan Modal Budaya (Cultural Capital) berupa kebiasaan (disposisi) dan penampilan fisik (hexis) yang bernilai sosial tinggi. Memamerkan pakaian olahraga bermerek dan tubuh yang “fit” menjadi penanda taste yang secara efektif membedakan Anda dari kelas sosial lainnya. Kesehatan fisik Anda adalah wujud visual dari kesuksesan dan disiplin diri.
2. Konsumsi Mencolok “Leisure Class”
Sportainment adalah tempat di mana healthy lifestyle bertemu dengan kapitalisme dan budaya konsumsi. Coba perhatikan, olahraga yang kini populer Padel, Pilates Reformer, Yoga premium semuanya memiliki karakteristik yang relatif mahal, membutuhkan fasilitas khusus, dan sangat instagrammable.
Konsep ini sangat relevan dengan “Leisure Class” (Kelas Santai) yang dicetuskan oleh Thorstein Veblen. Kelas atas menggunakan waktu luang dan konsumsi yang mencolok (conspicuous consumption) untuk memamerkan status dan kekayaan. Lapangan Padel atau studio Pilates mewah berfungsi sebagai ruang berjejaring yang biayanya tinggi, secara tidak langsung menjadi penghalang non-verbal (barrier to entry) yang membatasi akses hanya untuk segmen elite perkotaan. Sesi reformer Pilates eksklusif atau bermain Padel mahal adalah bentuk konsumsi yang sengaja Anda perlihatkan untuk menunjukkan kekayaan, waktu luang, dan status sosial.
3. Sarana Pembeda Kelas dan Eksklusivitas Sosial
Sportainment menjaga kesehatan, yang seharusnya inklusif, justru cenderung eksklusif. Kesehatan yang Anda tampilkan di media sosial adalah kesehatan yang telah mengalami estetisasi dan komodifikasi. Tubuh yang ideal, perlengkapan mahal, dan produk organik berfungsi sebagai bahasa non-verbal untuk menegaskan strata sosial Anda.
Mengikuti event marathon berbayar mahal atau menjadi anggota studio premium menjadi semacam mekanisme reproduksi ketidaksetaraan sosial. Ini bukan lagi masalah kekurangan informasi, melainkan eksklusi sosial yang melekat dalam praktik Healthy Lifestyle yang sarat modal.
4. Membangun dan Memamerkan Modal Sosial (Social Capital)
Aktivitas Sportainment yang Anda ikuti menjadi cara untuk mendapatkan dan memamerkan Modal Sosial (Social Capital) yang kuat. Komunitas olahraga elite seperti ini adalah tempat terjalinnya koneksi-koneksi berharga.
Identitas Elite Urban ini dikonstruksi melalui kepemilikan akses seperti membership eksklusif atau lokasi studio premium dan yang terpenting, melalui pameran atau display di media sosial. Dengan membagikan momen-momen tersebut, Anda menegaskan bahwa Anda adalah bagian dari “lingkaran dalam” yang terdidik, sadar kesehatan, dan tentu saja, secara finansial mampu.
5. Komodifikasi Kesehatan dan Kesenjangan Akses
Apabila gaya hidup sehat hanya dapat dijangkau melalui aktivitas Sportainment yang mahal, maka kesehatan telah dikomodifikasi. Konsep ini menyoroti Kesenjangan Kesehatan (Health Inequality). Masyarakat dengan modal ekonomi yang terbatas tentu tidak mampu mengakses venue premium, pelatih (coach) berharga, dan komunitas eksklusif ini. Akibatnya, Sportainment justru berkontribusi pada kesenjangan, mengubah makna “sehat” menjadi hak istimewa, padahal seharusnya menjadi hak fundamental yang dapat diakses secara merata di ruang perkotaan.
Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk menyadari dan mengkritisi fenomena ini. Apakah healthy lifestyle benar-benar membangun modal sosial yang inklusif, atau justru memperkuat batas-batas sosial yang eksklusif? Kesehatan adalah hak mendasar, bukan komoditas atau penanda kelas sosial. Sudah saatnya kita mendorong narasi gaya hidup sehat yang benar-benar merangkul semua lapisan masyarakat.
Penulis : Nakeisha Keiko, Karmen Aira, Shifa Defrylia, Titania Amara







