Perubahan Persepsi Warna Bisa Jadi Sinyal Bahaya Kanker Mematikan

Ilustrasi

MEDIAAKSI.COM –  Kemampuan membedakan warna yang menurun pada usia dewasa, tanpa sebab yang jelas, bisa menjadi indikator awal kondisi medis serius. Fenomena ini, yang dikenal sebagai dyschromatopsia, sering kali luput dari perhatian karena tidak disertai rasa sakit namun berpotensi menandakan adanya kanker agresif.

Riset terkini menyoroti keterkaitan antara gangguan penglihatan warna dengan penundaan diagnosis pada beberapa jenis kanker yang mengancam jiwa. Kondisi ini dapat dipicu oleh tumor pada sistem saraf pusat hingga keganasan organ dalam yang gejalanya terselubung.

Gangguan persepsi warna, yang sering disalahartikan sebagai buta warna bawaan, ternyata dapat muncul secara mendadak atau berkembang perlahan seiring waktu. Perubahan ini dapat menjadi ‘alarm’ tersembunyi dari dalam tubuh yang perlu diwaspadai.

Ketidakmampuan mengenali perbedaan warna, terutama dalam nuansa tertentu, terkadang menjadi satu-satunya gejala awal yang muncul. Keterlambatan diagnosis akibat terabaikannya tanda ini dapat berakibat fatal pada penanganan penyakit.

Tiga Jenis Kanker yang Dapat Memanifestasikan Diri Melalui Gangguan Penglihatan Warna

Beberapa jenis kanker menunjukkan hubungan yang signifikan dengan perubahan kemampuan seseorang dalam membedakan warna. Berikut adalah tiga di antaranya:

  • Kanker Kandung Kemih: Studi pada awal tahun 2026 menemukan korelasi kuat antara gangguan penglihatan warna, khususnya tipe merah-hijau, dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker kandung kemih. Penderita kondisi ini memiliki peluang kematian 52% lebih tinggi dalam dua dekade pasca-diagnosis dibandingkan individu dengan penglihatan normal. Gejala awal kanker kandung kemih, seperti hematuria (darah dalam urine), seringkali tidak terdeteksi oleh penderita buta warna karena perubahan warna merah tidak dikenali dengan jelas, sehingga diagnosis seringkali tertunda hingga stadium lanjut.
  • Tumor Otak pada Lobus Oksipital: Lobus oksipital berperan krusial dalam pemrosesan informasi visual. Adanya tumor di area ini dapat mengganggu kemampuan otak dalam menginterpretasikan sinyal warna dari mata. Gejalanya bisa berupa warna yang tampak memudar (desaturasi) atau kesulitan membedakan warna biru dan kuning secara tiba-tiba. Penting dicatat, gangguan warna ini bisa muncul sebelum gejala lain seperti penglihatan kabur atau sakit kepala hebat. Tumor lain yang menekan saraf optik, seperti pada kelenjar pituitari atau meningioma, juga dapat menimbulkan efek serupa.
  • Cancer-Associated Retinopathy (CAR): CAR merupakan sindrom paraneoplastik langka namun berbahaya. Dalam kondisi ini, sistem imun tubuh yang berupaya melawan sel kanker (umumnya kanker paru-paru sel kecil, kanker payudara, atau kanker rahim) secara keliru menyerang sel fotoreseptor di retina. Gejala CAR meliputi:
    • Penurunan persepsi warna yang progresif.
    • Munculnya kilatan cahaya (photopsia).
    • Sensitivitas berlebih terhadap cahaya (photophobia).
    • Kesulitan melihat dalam kondisi minim cahaya (rabun senja).

Penting untuk tidak mengabaikan perubahan sekecil apa pun pada penglihatan warna Anda. Deteksi dini melalui pemeriksaan medis dapat menjadi kunci penyelamatan nyawa ketika mata menjadi jendela pertama yang mengungkap adanya masalah kesehatan serius.

Pos terkait