MEDIAAKSI.COM – Empat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berhasil menciptakan inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diberi nama RunSight. Inovasi ini mengantarkan tim Labmino meraih predikat juara dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) Indonesia 2025, menghadirkan solusi teknologi yang inklusif bagi penyandang disabilitas visual untuk beraktivitas lari dengan aman dan penuh percaya diri. Melalui observasi langsung dan serangkaian wawancara mendalam, tim peneliti menemukan bahwa kebutuhan spesifik yang paling mendesak adalah terkait keselamatan dan kemandirian saat berlari, terutama di area lintasan. Berangkat dari temuan tersebut, tim mahasiswa UI ini memfokuskan upaya mereka untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya menjamin keamanan, tetapi juga memberdayakan kemandirian para pelari tunanetra. Inovasi RunSight berawal dari keinginan tim Labmino untuk memberikan solusi mobilitas yang aman dan mandiri bagi penyandang disabilitas visual. “Kami memutuskan untuk fokus pada lintasan lari dan merancang sebuah perangkat yang ringan serta berbasis kamera RGB agar nyaman digunakan dan tetap terjangkau,” ujar Anthony Edbert Feriyanto, salah satu anggota Tim Labmino. Ia menambahkan bahwa timnya mengintegrasikan kecerdasan buatan multimodal untuk memastikan ketepatan dan adaptabilitas sistem bagi pengguna disabilitas visual. Secara teknis, RunSight beroperasi dengan kemampuan mendeteksi objek di sekeliling pengguna, memetakan jalur lari, dan memberikan panduan arah yang disesuaikan dengan kecepatan berlari. Kacamata ini menangkap video secara real-time yang kemudian diproses oleh AI untuk mengidentifikasi garis lintasan dan potensi hambatan di depan pengguna. Sistem ini kemudian memberikan instruksi suara yang jelas dan tepat waktu, membantu pengguna tetap berada di jalur yang aman dan menghindari objek yang mungkin menghalangi. Instruksi suara yang disampaikan secara real-time ini sangat krusial dalam membantu pengguna mengatur arah dan kecepatan lari mereka. Tim Labmino juga telah mengembangkan logika sistem yang menerapkan prinsip-prinsip keselamatan, termasuk penentuan ambang batas (threshold), penyempurnaan bingkai (frame smoothing), dan aturan untuk menghindari pemberian arahan yang mendadak. Pendekatan ini memastikan pengalaman lari yang lebih alami dan aman bagi pengguna. Perjalanan inovasi RunSight tidak berhenti pada pengembangan prototipe, melainkan berlanjut ke kancah global. Keberhasilan Tim Labmino dalam SFT Indonesia 2025 membuka jalan bagi mereka untuk berkompetisi di tingkat internasional, di mana mereka berhasil masuk dalam jajaran sepuluh tim terbaik di SFT Global Ambassador. Pengakuan global ini menjadi bukti bahwa solusi yang berangkat dari konteks lokal dan dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna memiliki potensi besar untuk mendapatkan apresiasi di panggung dunia. Kemenangan ini tidak hanya memberikan pengakuan atas inovasi RunSight, tetapi juga membuka peluang lebih luas untuk pengembangan teknologi yang lebih inklusif dalam dunia olahraga. Tim Labmino berhasil menyajikan sebuah solusi teknologi yang tidak hanya berdampak positif pada komunitas yang dituju, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang. “Kami berharap pencapaian ini dapat menginspirasi anak muda Indonesia untuk bermimpi lebih besar, berinovasi dengan empati, dan percaya bahwa karya mereka dapat memberi arti bagi banyak orang,” ungkap Anthony, menegaskan visi timnya.RunSight Mengubah Pengalaman Lari bagi Penyandang Disabilitas Visual
Mahasiswa UI Rancang Kacamata AI untuk Pelari Tunanetra







